Sepayung Berdua Denganmu

by - April 30, 2016


Project Collaboration Writing by Rifky Adina Irawan & (me) Iyasa Nindyaningrum


                “ Hujan...” Gumam Neta pelan diulurkannya tangannya kedepan merasakan buliran-buliran air yang membasahi tangannya. Mengetahui tak dapat melakukan apa-apa Neta hanya bisa terdiam menunggu dan berharap hujan segera usai. Samar-samar terlihat bayang seseorang menembus hujan tentu saja dengan payung merah polos seperti biasanya. Tanpa sadar seulas senyum tipis menghiasi wajah mulus Neta. Ya lelaki bermata coklat bulat itu selalu saja menjemputnya ketika hari sedang hujan dan menghilang begitu saja ketika hari sedang cerah. Neta bahkan tak tahu nama pria itu dan sebaliknya  juga. Ia bahkan tak mencoba mencari tahu nama pria itu. Neta hanya menginginkan apapun tentangnya langsung dari mulut pria itu sendiri. Kejadian ini pun berlangsung begitu saja secara natural.

“ Hai...”

“ Hai...”

“ Ayo biar kuantar kamu pulang” Ucap pria itu dan dibalas dengan anggukan Neta.

                Entah apa yang ada dipikiran Neta, ia tak pernah mengetahui mengapa ia tak takut akan bahaya yang akan terjadi kapan saja bersama pria yang bahkan ia tidak ketahui namanya. Ia selalu merasa nyaman dan ia percaya lelaki ini tak kan menyakitinya dan pikiran bodohnya tentang pria itupun tak meleset sedikitpun.

“ Kamu tahu? Sebelumnya aku sudah pernah berpacaran, kukira kami akan mencapai jenjang yang lebih serius tetapi setelah kutahu ternyata dia selingkuh dengan sahabatku. Hubungan kami hilang begitu saja. Menyakitkan memang tapi kurasa itu memang salahku; tak mempunyai waktu untuknya tapi itu juga yang membuatku tak berani lagi dengan hal-hal berbau cinta. Aneh bukan?” Neta mengarahkan kepalanya kesamping kirinya memastikan apa yang didengarnya dengan baik. Ia selalu menyukai pria itu berbicara, suara yang sangat menenangkan. Saat-saat seperti ini yang disukainya, saat-saat dimana pria itu berbicara tentang pengalamannya. Neta tak selalu menyauti kata pria itu dan sepertinya pria itu mengerti dengan sifat yang dimiliki oleh Neta.

“ Akhir-akhir ini aku mulai ragu dengan pendapatku itu. Entah bersama wanita itu aku selalu merasa yakin tapi aku tak mengerti harus bagaimana. Mengingat sifatnya yang serba tak peduli itu membuat nyaliku ciut begitu saja. Kuharap aku dapat mengatakannya padanya.”

“ Ah, kita sampai,” Pria itu membukakan pintu mobilnya untuk Neta. Neta sedikit merasa kecewa berpayung dengannya harus selesai secepat ini. Ia berharap mobilnya dapat menjauh dengan sendirinya, mungkin sejauh ujung kulon lebih baik. Neta selalu merasa tertarik akan keberadan pria ini, ya hanya tertarik. Tetapi kenapa ketika pria itu berkata tentang wanita yang -dapat membuatnya mengerti cinta lagi- baru saja dikatakan olehnya membuat ulu hati Neta merasa nyeri. Ia hanya dapat memegang dan menekan untuk menetralisirkan perasaan itu. “Demi tuhan, penyakit apa ini?”Batinnya.

***

Neta POV

                Pria disampingku –yang kini tengah menyetir- ini tak pernah sedikitpun membuatku merasa jengah. Mata bulat berwarna hazel itu juga sangat menawan, terlalu menawan. Hidungnya yang mancung dan kulit putih ditambah dengan tampangnya yang maskulin dan rahangnya yang tegas. Aku tak pernah peduli tentang penampilan orang-orang disekitarku minus untuk orang tuaku, Deo –adik lelakiku-, Audy –satu-satunya sahabatku- dan... pria ini. Aku suka ketika ia memakai baju kemeja putih polos dan celana jeans panjang yang membuatnya seperti orang kantoran atau mungkin dia memang sudah berkerja? Mengingat aku tak pernah tahu sedikitpun tentangnya. Sayang ketika ia memakai baju itu, tubuhnya harus kebasahan karna ya dia selalu datang hanya saat hujan. Tetapi basahan itu jugapun memperlihatkan bagian lengannya yang sedikit berotot.

“Bagaimana harimu?” ucapnya yang membuat pikiranku membuyar.

“Seperti biasa, tidak buruk dan tidak juga baik.”

Hanya 2 kata tetapi sangat penuh makna. Kata yang selalu ia tanyakan padaku yang selalu kujawab dengan jawaban sekenanya dan berakhir dengan senyuman sepihaknya. “Hariku tak pernah baik-baik saja jika tak ada-mu” kata-kata yang telah kususun dengan rapi itu selalu saja tertahan dimulutku, tak berani keluar.

“Apa kamu sudah makan? Atau kamu sedang lapar sekarang?”

“Tidak, aku sudah makan soto ayam tadi. Terima kasih.”

“Oh baiklah.”

“Tapi kurasa jika kamu lapar, aku akan menemanimu.”

“Kamu yakin?”

“Hmm...”

***

Neta POV

Suara gemuruh disertai kilat halilintar terdengar jelas dari jendela kaca di belakangku. Aku mengambil sedikit langkah mundur untuk menghindari kilatan-kilatan itu. Sudah setengah jam aku terjebak di sebuah minimarket dekat kampus, niat awal ingin segera pulang kerumah dengan berjalan kaki sampai halte untuk naik bus kota, tetapi hujan tiba-tiba saja datang menerpa dengan kasar bahkan sebelum aku sampai di halte.

Sekarang aku harus memutar otak bagaimana caranya aku bisa sampai di halte yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari minimarket ini tanpa harus kebasahan. Sedangkan, aku tak membawa payung atau apapun yang bisa melindungiku dari terpaan hujan saat ini. Ya, aku selalu begini, lupa membawa payung.

Tapi, setelah ku pikir berulang kali, aku takkan bisa pulang kalau harus menunggu hujan hingga reda. Hujan semacam ini bisa dipastikan akan bertahan lama. Aku pun membulatkan tekad untuk menerobos hujan untuk bisa sampai ke halte dan aku bisa pulang dengan naik bus. Aku mulai memasukkan semua buku-buku tebal yang tadinya aku pegang untuk dimasukkan dalam tas agar tidak basah. Dengan cepat aku berlari menembus hujan, aku bahkan tak perduli lagi dengan flatshoes tosca-ku yang sekarang basah terkena genangan air hujan dan kemeja abu-abu ku yang sudah basah terkena tetesan hujan. Hari yang sial, batinku.

Tapi tidak  juga setelah aku merasakan tetesan hujan tak lagi membasahi tubuhku, aku menengadah dan melihat payung lipat merah polos yang sebenernya tidak untuk dua orang itu tengah memayungi diriku. Aku berhenti melangkah, kulihat sosok yang memegang payung merah itu dan lagi-lagi lelaki itu lagi; lelaki yang selalu datang ketika hujan.

“Hai,” sapa lelaki itu dengan sebuah senyuman hangatnya.

Aku justru terdiam karena tersihir oleh pesonanya. Rambutnya sedikit basah akibat percikan hujan dan bulir-bulir air kecil terlihat disekitaran wajahnya yang bisa kulihat dengan jelas pada jarak sedekat ini dan itu menampakkan kesan menawan.

“Kalau aku ketemu kamu pasti sedang hujan”

“Bukannya kebalik ya? Setiap kali turun hujan, aku selalu ketemu kamu”

Kami berdua justru membicarakan hal tak penting semacam ini dipinggir trotoar dengan payung merah yang tak seharusnya untuk dua orang ini, sehingga kami harus tetap menjaga jarak terdekat kami agar tak terkena hujan.

“Aku cariin kamu ke halte yang biasanya tapi kamu nggak ada, untung aja aku lewat sini terus lihat kamu ada disini,” Lelaki itu berbicara lagi, aku masih terpaku menatap dirinya sambil mencerna perkataannya.

Apa maksud ucapannya adalah ia datang dengan menjadikanku tujuan utamanya disaat hujan lebat seperti ini? Apa ia selalu begini?

“Untuk apa kamu mencariku?” pertanyaan itu terus saja berputar-putar di kepalaku dan baru kali ini aku berhasil menanyakan hal itu padanya.

Ia terlihat berfikir sebentar namun dengan pasti ia menjawab dengan lembut,“Karena kamu selalu lupa untuk bawa payung disaat musim hujan seperti ini. Karena itu, aku akan selalu menemukanmu tiap hujan turun.”

Mengapa itu terdengar seperti sebuah janji?

“Hujannya makin deras. Kau yakin mau tetap berdiri disini dan terus-terusan mengajakku berdebat?” ucap lelaki itu berbicara dengan suara yang sengaja ia keraskan karena suara hujan yang deras, tapi suaranya tetap saja terdengar lembut dan menenangkan. 

Setelah itu, aku mengikutinya menuju mobil miliknya yang ia parkir dipinggir jalan tak jauh dari tempat kami berdiri. Didalam mobil pun tak ada satupun diantara kami yang berbicara. Kami justru sibuk dengan pikiran masing-masing, lelaki itu juga fokus pada kegiatan menyetirnya hingga sebuah suara aneh terdengar sedikit nyaring, setidaknya lelaki disampingku ini dapat mendengarnya dengan jelas.

“Kamu lapar?” tanya lelaki itu setelah mendengar suara aneh itu berasal dari suara perutku yang kelaparan.

Aku mengangguk sambil berusaha menahan malu karna kepergok mengeluarkan suara-suara aneh yang berasal dari perutku itu. Aish!

Ia tersenyum, “Kenapa kamu nggak bilang daritadi? Ayo aku antar ke tempat makan favoritku!”

Aku hanya diam, melihatku yang sedikit ragu, ia kembali berbicara, “Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan menemanimu makan jika kau lapar?”

Kali ini apa lagi? Mengapa ini terdengar seperti sebuah janji yang ia tepati?

***

Hujan masih turun dengan deras, membuat kaca pada jendela besar disamping kananku ini berembun dan terlihat buliran-buliran air hujan turun membasahi jendela kaca itu. Lelaki itu duduk dihadapanku, ia terus memandangku seolah aku ini lukisan abstrak yang tak terbaca, sementara diriku menetralisir rasa gugupku, aku terus memandang kearah jendela kaca disebelahku sambil sesekali menyuapkan soto ayam milikku.

“Kau tidak makan? Bukannya kau bilang ini tempat makan favoritmu? Lalu kenapa kau tidak makan?” tanyaku berusaha memecah keheningan.

“Kau suka sekali makan soto ayam ya?” lelaki itu justru balik bertanya.

“Ya, aku sangat suka makan soto ayam apalagi disaat hujan seperti ini. Menurutku ini lebih baik dari segelas teh panas saat hujan.”

Lelaki itu mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Hey, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau tidak makan sementara kau bilang ini tempat favoritmu?” aku kembali menyuarakan pertanyaan yang membuatku penasaran sejak tadi. Karna lelaki itu hanya memandangku saja sementara ia tak memesan makanan atau bahkan minuman.

“Bukankah memang sejak awal aku mengatakan akan menemanimu makan? Jadi aku tak ikut makan, lagipula aku tak suka soto ayam.”

“Lalu bagaimana bisa tempat makan yang hanya menjual soto ayam ini menjadi tempat favoritmu? Kau bahkan tak memesan minuman atau apapun selain soto.”

“Aku menyukai tempat ini karena ini adalah tempat dimana pertama kali kita bertemu, kau masih ingat?” ucapnya dengan sorot mata berbinar.

Aku terpaku, tapi dalam hati aku membenarkan perkataan lelaki itu. Ya, aku ingat, memang tempat ini adalah tempat pertemuan pertamaku dengannya. Kala itu, aku sedang makan malam dirumah makan itu hingga larut, aku terjebak hujan ditempat itu hingga rumah makan itu hampir tutup dan aku memilih menunggu diteras rumah makan sambil berharap hujan akan segera reda dan sepertinya Tuhan mengabulkan doaku dengan cara lain, seorang lelaki datang dengan payung lipat berwarna merah dari dalam rumah makan itu, ia melihat kearahku sebentar, lalu memberikan payung lipatnya padaku dan ia berlari menembus hujan untuk masuk kedalam mobil yang terparkir di rumah makan itu. Lalu, pada hujan berikutnya ketika aku ingin mengembalikan payung merah itu padanya, hujan turun sangat lebat dan berakhir dengan menggunakan payung itu berdua untuk melindungi dari terpaan hujan dan hal itu terus saja terjadi seperti sebuah rutinitas setiap kali hujan turun, ia akan selalu datang.

“Apa kau percaya cinta pada pandangan pertama?”

Aku hanya diam. Tak mengerti dengan maksud pembicaraanya.

“Atau pernahkah kau mendengar tentang seorang pria hanya membutuhkan waktu 8,2 detik untuk jatuh cinta?”

Apa yang sedang ia bicarakan?

“Hal itulah yang aku yakini saat ini. Sejak pertama kali kita bertemu, saat di tempat ini aku melihatmu seorang diri tanpa perlindungan ditengah hujan, saat aku menatapmu hari itulah aku benar-benar telah percaya akan hal-hal tabu semacam ini, aku telah jatuh cinta padamu saat detik ke-8 aku menatapmu,” ia berbicara dengan nada tenang dan lembut seperti biasanya, tapi aku bisa melihat ketulusan dan kesungguhan pada ucapannya. Aku rasa ia tidak sedang berbohong.

“Tapi, kita bahkan tak saling kenal, mengetahui nama saja tidak. Bagaimana mungkin kau jatuh cinta padaku?”

Lelaki itu tersenyum singkat, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak beludru berwarna merah berada di telapak tangannya, ia membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah cincin platinum berwarna perak,“Kalau begitu izinkan aku mengenalmu.”

Apakah ia baru saja mengajakku berkenalan atau sedang melamarku?

***
                

You May Also Like

0 komentar