Jumat, 10 Maret 2017

Senang

Semarang, 10 Maret 2017


Sebaiknya putar lagu dibawah ini sembari membaca tulisan pada artikel ini:


Hai, cahaya baru dihidupku
Selamat datang dalam ruang tak berpenghuni yang membosankan ini
Maafkan atas kelancangan-ku yang tiba-tiba terjatuh dalam sihirmu
Tanpa sengaja tertarik dalam medan magnet-mu
Medan yang sulit untuk bisa kukendalikan

Semua berawal ketika suatu malam kamu hadir dalam bunga tidurku
Kamu-lah pemeran utamanya
Hadir sebagai seorang yang sangat berarti dalam hidupku
Meskipun dalam dunia nyata kita tidak saling mengenal
Kau hadir hanya pada satu malam itu
Membuat diriku bangun dari tidur dengan seulas senyuman
Membuat hariku terasa menyenangkan seharian

Setelahku ingat kembali
Kita pernah saling berpapasan
Justru hampir bertabrakan
Tapi aku lupa kapan itu terjadi
Sebelum kah atau setelah aku memimpikanmu?
Aku tidak begitu ingat detail-nya

Lewat tulisan ini
Aku ingin meluapkan rasa bahagiaku hari ini
Aku senang bertemu denganmu
Aku senang bisa melihatmu dalam jarak dekat
Aku senang bisa memandangmu lebih lama
Aku senang bisa berada didekatmu
Aku senang melihatmu berbicara
Aku senang mendengar suaramu
Aku senang melihat gerak-gerikmu
Dan hal-hal kecil lain dari dirimu

Aku terlihat sangat bodoh sekali, ya?
Aku pasti terlihat seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru
Seperti seorang anak kecil yang senang ketika diberi makanan manis
Seperti seorang anak kecil yang senang ketika diberi hadiah
Bahkan terlihat seperti seorang bocah yang baru pertama kali jatuh cinta

Terima kasih telah berhasil menggeser posisi seseorang dalam hatiku
Terima kasih untuk hari ini


Sampai bertemu lagi, pak ketua.


Jumat, 03 Maret 2017

Song Review : Virgoun - Surat Cinta Untuk Starla

Ditengah kesibukan sekolah saya akhir-akhir ini, saya berusaha menyempatkan untuk menulis sesuatu untuk blog saya yang sepi ini. Sebetulnya hal yang ingin saya bahas kali ini adalah beberapa minggu lalu saya melihat salah satu situs web video paling popular pada masa ini, biasa kita sebut sebagai youtube. Saat itu saya melihat trending youtube ada sebuah gambar yang menarik perhatian saya untuk melihat isi video itu, jadi seperti ini tampilannya..


Ya, ini adalah sebuah lagu berjudul “Surat Cinta Untuk Starla” dari seorang musisi Indonesia bernama Virgoun ‘sang vokalis band Last Child’ yang rilis pada tahun 2016. Lagu ini bisa dibilang gambaran dari cinta sejati yang coba Virgoun sajikan pada penikmat musik Indonesia dengan sisi berbeda, ya, kali ini ia mencoba berjalan sendiri dengan membuat proyek solo, tapi meskipun begitu ia tetap menjadi bagian dari bandnya, Last Child.

Lagu ini bercerita mengenai perasaan cinta paling sejati yang murni dan tulus dari seseorang yang sebelumnya hanya mencurahkan rasa cintanya untuk dunia, kemudian mencoba mengungkapkan rasa cintanya pada seseorang yang berhasil merenggut cintanya pada dunia beralih pada seorang manusia.

Uniknya, judul lagu ini sama sekali tidak digunakan atau tercantum dalam liriknya seperti lagu-lagu lain yang kebanyakan menjadikan judul lagu itu sebagai kalimat yang terus-terus diulang pada bagian lirik lagunya. Jadi, nama ‘Starla’ yang digunakan pada lagu ini sebenarnya adalah nama dari anak Virgoun sebagai ungkapan rasa sayang ayah pada putrinya.

Yang menarik lagi, kalau kalian perhatikan lirik lagu ini, liriknya sangat bermakna dan menyentuh sekali. Kalian bisa scroll down untuk mengetahui lirik lagunya, karena saya akan mencantumkan dibagian akhir artikel ini.

Berikutnya yang paling saya sukai dari lagu ini adalah video klip dari lagu ini, seperti yang saya katakan diawal bahwa pertama kali saya mengetahui lagu ini karena saya melihatnya dari youtube, kemudian saya suka dan saya dengarkan terus lagu itu berkali-kali. Dan kalau kalian lihat juga pada halaman di youtube itu, ternyata adegan-adegan dari video klip lagu ‘Surat Cinta Untuk Starla’ ini adalah bagian dari adegan di film pendek yang berjudul sama. Virgoun sengaja membuatnya menjadi sebuah bentuk karya lain berupa film pendek yang dibagi menjadi 7 part untuk menjelaskan lebih dalam mengenai maksud dari lagu berjudul ‘Surat Cinta Untuk Starla’ ini. Ia juga mengatakan pada ‘Behind The Scene: Surat Cinta Untuk Starla’ kalau film pendek ini dibuat sebagai bentuk apresiasi atas antusias penikmat musik yang telah menonton lirik video yang ia unggah secara sederhana diakun youtube-nya hingga mencapai 47 juta kali ditonton.

Film pendek ‘Surat Cinta Untuk Starla’ bercerita mengenai detail dari lirik lagunya. Tentang seorang lelaki yang memiliki obsesi dengan mesin tik—selalu membawa mesin tik kemanapun ia pergi—ia bernama Hema Chandra yang berarti bulan berwarna emas (diperankan oleh Jefri Nichol). Lelaki ini senang membuat surat cinta yang ia tujukan untuk dunia dengan berprofesi sebagai pembuat streetart liar—bisa dibilang begitu. Karena, ia sudah berkali-kali dikejar oleh polisi karena telah membuat mural pada dinding di jalan-jalan. Sampai, ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Starla (diperankan oleh Caitlin Halderman) di coffee shop-nya dan mereka menghabiskan waktu bersama dengan saling mengenal hanya dalam satu malam, sampai akhirnya mereka harus berpisah. Kemudian, setelah perpisahan itu Hema merasa ada sesuatu yang berbeda setelah ia bertemu dengan Starla, dan ketika ia memandangi mural pertamanya yang mengubah hidupnya yang tertulis seperti berikut


"A MOON CANNOT SHINE WITHOUT A STAR" - Hema Chandra

Ketika itu, Hema baru menyadari bahwa perasaannya itu adalah rasa cinta pada seseorang, rasa cinta yang berbeda ketika ia mencintai dunianya. Lalu, Hema memutuskan untuk membuat surat cintanya yang pertama kali untuk seseorang yaitu Starla, sang bintang-nya.

Tepat sekali pada lirik lagu bagian Telah habis sudah cinta ini. Tak lagi tersisa untuk dunia. Karena tlah kuhabiskan. Sisa cintaku hanya untukmu,” menceritakan bagaimana Hema benar-benar mencurahkan rasa cintanya yang dahulu hanya untuk dunia, kini cintanya tak lagi tersisa untuk dunia melainkan hanya untuk Starla. Waw! Hal ini seakan benar-benar tersampaikan lewat lagu ‘Surat Cinta Untuk Starla’ bahwa cinta memang berkuasa diatas segalanya, begitulah cinta dapat membutakan mata, hati, bahkan batin seseorang.

Dibawah ini saya akan memberikan link untuk melihat video klip dan film pendek dari 'Surat Cinta Untuk Starla' yang siapa tau kalian juga akan jatuh hati pada lagu ini

Just click!



Lirik lagu Virgoun - Surat Cinta Untuk Starla

Teruntuk kamu hidup dan matiku
Aku tak tahu lagi harus dengan kata apa aku menuliskannya
Atau dengan kalimat apa aku mengungkapkannya
Karna untuk kepergian kalinya
Kau buat aku kembali percaya akan kata cinta
Dan benar bahwa cinta masih berkuasa diatas segalanya
Ketika hati yang mudah rapuh ini
Diuji oleh duniawi diuji oleh materi
Untuk kesekian kali lagi lagi dan lagi

Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu

Takkan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan cinta ini

Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu

Aku pernah berpikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai kini

Aku slalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi

Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu

Dan tlah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu

Untukmu
Hidup dan matiku

Bila musim berganti
Sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci
Ku kan tetap disini

Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu

Tlah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu

Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
This entry was posted in

Senin, 30 Januari 2017

Terlihat

terlihat/ter·li·hat/ v 1 dapat dilihat; kelihatan; tampak; 2 tiba-tiba atau tidak sengaja dapat dilihat; 3 sudah dilihat (diketahui); 


Semarang, 30 Januari 2017

Siang ini, saat jam pelajaran ke-8 di sekolah, aku dan teman sebangku-ku pergi keluar kelas saat jam pelajaran masih berlangsung, karena guru dikelasku saat itu menyuruh kami untuk fotocopy catatan untuk guru itu.

Kemudian, pergilah aku dan seorang temanku itu menuju koperasi untuk mem-fotocopy catatan. Kami pergi menuruni tangga. melewati kelas-kelas, lalu melewati ruang guru. Pada saat akan melewati ruang guru, dari kejauhan aku sudah melihat ada seseorang yang selalu berhasil menyita perhatianku, berdiri dengan seorang laki-laki yang kuduga adalah temannya, tampak sibuk bercakap-cakap dengan seorang guru wanita beberapa meter didepan ruang guru. Sehingga saat berjalan melewati ruang guru itu, aku menjadi kehilangan konsentrasi saat sedang berbicara dengan teman disebelahku, bahkan mengulang-ulang kata yang sama yang sulit dimengerti, sebabnya tentu saja karena seorang yang menyita perhatianku tadi berdiri tak jauh dari pandanganku.

Aku terus berjalan mencoba berkonsentrasi dengan pembicaraanku dengan teman disebelahku, tapi sesuatu yang justru tak dapat kukendalikan adalah saat berjalan melewati pintu ruang guru itu, aku hampir saja menabrak dua orang guru pria yang sedang berjalan keluar dari ruangan guru.

Aku menahan tubuhku agar tidak menabrak guru itu dan spontan berkata, "A-ah, maaf pak."

Dua orang guru yang hampir kutabrak itu yang sama salah satunya adalah wali kelasku, guru matematika wajib saat kelas 11 ini dan satu lagi adalah guru fisika yang pernah mengajarku saat di kelas 10. Sungguh, tak hanya aku yang terkejut saat akan menabrak kedua guru yang baru keluar dari ruang guru itu, tetapi kedua guru itu pun ikut terkejut dengan ikut berteriak 'diluar kesadaran' karena sama kagetnya denganku.

Kemudian, aku dan dua guru pria tadi tertawa menyadari kebodohan kami yang saling berteriak karena terkejut. Hal ini tentu mengundang perhatian dari sekitar kami yang mendengar suara ribut-ribut tadi, termasuk seseorang lelaki yang menyita perhatianku itu, dia juga melihat kearahku setelah kejadian gaduh tadi. Aku pun sengaja melihat kearahnya setelah kejadian itu, hanya ingin tau apakah ia masih perduli dengan lingkungan sekitarnyamelihat kearahku misalnya. 

Sudah seharusnya aku tahu jawabannya, mungkin memang hanya kebetulan tidak disengaja saja saat ia melihat kearahku kala itu karena kegaduhan yang kubuat. Kalau saja kegaduhan itu tidak terjadi, mungkin ia takkan pernah melihat kearahku. Meskipun sudah tahu hal itu hanya sebuah hal ketidaksengajaan, tetapi tetap saja ada perasaan berdebar yang kurasakan saat ia menatap kearahku. Hah, aku masih saja tersesat dalam tatapannya.

Jumat, 20 Januari 2017

Somethin's Missin'

Semarang, 12 Januari 2017


Siang ini pukul 11.31 WIB, saya menerima sebuah pesan melalui whatsapp dari ayah saya. Beliau memberitahu sebuah kabar mengenai surat pindah kerja yang telah ia ajukan enam bulan lalu dan hari ini persetujuan kepindahan tersebut tiba juga dan nama ayah saya tertera disana, yang berarti dalam bulan ini ayah saya akan segera mengemas dan mengirim barang-barang dirumah lama saya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah untuk dikirim ke rumah baru saya di Jawa Tengah.

Jujur saja, saya merasa bingung. Saya bingung harus bahagia karena sebentar lagi keluarga kecil saya akan segera kembali berkumpul atau saya harus sedih karena akan benar-benar meninggalkan comfort zone saya di Pulau Borneo itu yang sudah menjadi bagian dalam hidup saya selama ±15 tahun saya tinggal dan menetap disana. 

Jujur saja, saya cenderung merasa sedih karena saya akan benar-benar pergi dari kota kecil yang menyimpan begitu banyak menyimpan kenangan untuk saya. Terlalu sulit rasanya untuk pergi dari comfort zone. Terlebih, entah mengapa alasan paling kuat yang membuat saya sedih karena harus pindah dari kota itu adalah teman-teman saya. Mereka sudah menjadi bagian terbesar dalam kehidupan saya selama belasan tahun saya tinggal disana. Karena, bisa kalian bayangkan bahwa hari-hari saya selama disana tentu saja diisi dengan bersekolah dan bertemu teman-teman. Sejak pertama kali menginjak bangku sekolah, saya sudah bertemu teman-teman yang menyenangkan dan karena saya tinggal di kota kecil sehingga kemungkin untuk bertemu orang-orang yang sama pada jenjang pendidikan berikutnya seperti saat SD dan SMP tentu saja sangat berpotensi. 

Bahkan, ketika SMA saya harus merantau pergi dari kota kecil itu untuk bersekolah di ibukota Jawa Tengah, saya masih merasa sedih karena tidak bisa kembali bersekolah di sekolah yang sama dengan teman-teman lama saya, meskipun setiap liburan semester saya akan selalu menyempatkan untuk kembali pulang kesana dan kembali bertemu teman lama saya.

Tapi, untuk yang satu ini, saya tidak bisa jika tidak menitikkan airmata. Saya merasa meninggalkan sebagian jiwa saya di kota kecil itu bersama kenangan-kenangan lama yang tertinggal disana. Ada perasaan yang mengiris saat tahu saya akan benar-benar pergi dan entah kapan—atau mungkin—saya tidak akan kembali lagi kesana.


Selamat tinggal, kawan! Sampai bertemu lagi saat nanti—mungkin—kita sudah menjadi mahasiswa/mahasiswi atau suatu saat nanti saat kita sudah sukses dan memiliki karier yang bagus, atau mungkin kapanpun itu saat Allah menggariskan kita untuk bertemu, kita pasti akan bertemu.



See you when I see you again ♥

Sabtu, 29 Oktober 2016

Seratus Hari Tanpamu


4 Oktober yang lalu, genap 100 hari Mama berpulang ke Rahmatullah. Hingga hari ini 29 Oktober, memasuki hari ke-125 tanpa kehadiran Mama.

Waktu berjalan begitu cepat didunia, Ma.. entah bagaimana dengan di alam sana. Tetapi semoga, Mama selalu berbahagia hingga hari akhir nanti Mama akan menuai semua kebaikan yang telah Mama tanam didunia dan kebahagiaan itu akan menjadi berlipat-lipat ganda. Aamiin ya Rabbal’alamin.


Tak ada kehilangan yang menyenangkan
Terlebih kehilangan yang tidak akan pernah kembali
Terasa tak adil memang
Tetapi kehilangan itu mengingatkan kita,
Semua yang kita miliki adalah milik Allah,
dan tiada satupun milik kita,
Termasuk diri kita sendiri, kita semua akan kembali kepada-Nya

Jumat, 05 Agustus 2016

Empat Puluh Hari Tanpamu


Suasana hatiku tak lagi baik—sebaik 40 hari yang lalu saat Matahari masih merangkul diriku dengan hangat, membelai rambutku dengan lembut dan senyum yang utuh, dengan raga yang masih terlihat nyata.


Waktu berjalan begitu cepat dengan ego-nya, telah datang hari dimana bahwa hari ini genap 40 hari mama dipanggil Allah, dan akan ada lagi 100 hari, 1000 hari dan tahun-tahun yang akan datang tanpamu, Mama.

Nindy selalu berdoa, semoga Allah mengampuni segala dosa dan perbuatan mama, melindungi mama dari siksa kubur maupun siksa api neraka, Allah gantikan rumah mama didunia dengan rumah  yang lebih indah di akhirat, juga mendapatkan tempat paling mulia disisi Allah, di antara orang-orang mukmin yang beriman lagi baik hati dan amalannya, lagi mendapatkan surga Allah kelak.  Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Tenanglah dalam keabadian, semoga kelak Allah mempertemukan kita kembali di surga-Nya.


Selasa, 26 Juli 2016

Keberartian

Saya teringat dengan sesosok wanita hebat yang belakangan ini selalu membuat saya menangis jika mengingatnya.

Selamat ulang tahun, Mama

Ramadhan tahun ini menjadi bulan—mungkin tahun—yang sangat amat sulit untuk saya. Saya kehilangan seorang ibu, sosok yang paling melekat dihati setiap anak, merupakan belahan jiwa dalam hidup seorang anak. Ya, tentunya ini pukulan yang teramat keras bagi saya—adik laki-laki saya dan juga ayah saya.  Beliau meninggal saat ramadhan hari ke-22 tepatnya tanggal 27 Juni 2016 yang lalu. Beliau meninggal karena sakit, mengidap kanker darah leukimia sejak kurang lebih 1,5 tahun lalu.

Satu lagi, pagi hari tepatnya sehari sebelum hari ulang tahun almarhumah mama, salah seorang teman satu angkatan saya pun meninggal dunia karena kecelakaan. Hal ini banyak menimbulkan kontroversi dan juga saya lihat banyak yang merasa kehilangan dirinya, termasuk saya. Saya memang tidak mengenal dia secara pribadi, karena kami beda kelas, dia di IPS 1 sementara saya di IPA 7. Saya pun merasa kehilangan yang begitu berarti, sebab saya pernah berada dalam satu kelompok atau regu dengan dia sewaktu kemah sekolah untuk kelompok hiking dan selama itu saya tau sekali bahwa ia adalah orang yang sangat baik. Sedikit cerita, sebetulnya regu hiking kami dinilai dengan senior bahwa kami kurang kompak dan sebagainya, sampai-sampai terjadi pergantian ketua regu hingga beberapa kali selama perjalanan hiking karna permintaan dari senior, tetapi saat almarhum dipilih sebagai ketua regu, ia bisa bertahan bahkan hingga hiking selesai, meskipun tak sepenuhnya sempurna menjadi ketua regu tapi saya sangat mengapresiasi atas usahanya dan ia bisa mengatur dan membawa kami—anggota-anggotanya—dengan baik hingga hiking selesai. Hanya sebatas itu saya mengenal dia, tapi saya sangat yakin bahwa ia adalah orang yang sangat baik.

Kejadian itu berhasil mengubah perspektif saya mengenai kematian. Betapa kita semua dekat atau bahkan semakin dekat dengan kematian. Tak perlu menunggu tua atau bahkan sakit untuk sampai pada kematian. Kematian akan datang menghampiri siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Bagaimanapun itu semua adalah takdir, setidak siap apapun hal itu akan datang pada saatnya. Tetapi, apa kalian mau pergi tanpa meninggalkan kesan apapun? Dari kematian ibunda saya dan teman satu angkatan saya itu, saya semakin yakin dengan sebuah pepatah yang selalu saya dengar “orang baik biasanya selalu diambil lebih dahulu”—dan saya belajar bahwa ibunda saya memang bukan seorang ahli ibadah, beliau selalu menjalankan ibadah wajibnya tapi hanya begitu saja, hanya sekedar itu dan memang beliau baru-baru saja menyadari dan menekuni keimanannya itu belakangan sejak ia divonis menderita kanker leukimia, tetapi saya tau persis bagaimana ibunda saya membangun pondasi yang sangat kuat terhadap orang lain dalam hal duniawi.

Begini, beberapa malam yang lalu, om saya—pemilik rumah yang saya tinggali saat SMA ini—dan saya sedang  santai di ruang keluarga, lalu om saya memulai pembicaraan dengan menanyakan bagaimana hari saya, bagaimana suasana hati saya—yang tentunya ia ketahui bahwa perasaan saya masih dalam suasana berkabung—kemudian ia berbicara ngalor ngidul mengenai kehidupan, ia banyak menasehati dan memberi pencerahan pada saya dan sebagainya, sampai pada ketika ia berbicara begini, “Mama mu itu semasa hidupnya sudah menanam ya istilahnya menanam suatu kebaikan pada orang lain dan membuat orang lain itu merasa berhutang budi dan ketika mereka bisa membayar, meraka akan membayarnya dengan kebaikan pula, tetapi sekarang mama mu sudah tidak ada dan masih ada orang lain yang masih merasa berhutang budi pada mama mu dan mereka masih ingin membayar kebaikan tersebut dengan cara melalui kamu, nin. Nah suatu saat ada masanya orang-orang tadi akan merasa sudah cukup membalaskan budi mereka, sementara kamu sendiri mungkin masih memerlukan bantuan dan kebaikan dari mereka, kamu harus bisa menanam milikmu sendiri pada orang-orang itu agar hubungan tadi terus berlanjut dan nantinya mereka juga akan membalas kebaikanmu kok, tetapi benar-benar untuk diri kamu sendiri, bukan lagi hasil tanaman mama mu yang disalurkan lewat kamu. Itu sudah hukum alam kok.” Intinya seperti itu. Saya tau kalian pasti sulit memahami ini, tetapi saya merasa bahwa ungkapan itu sangat jelas dan memang benar. Terlepas benar tidaknya, saya lumayan setuju, walaupun hal ini masih bersifat duniawi.

Saya telah membuktikan hal itu saat kehilangan ibunda saya. Saya melihat banyak sekali orang yang datang mengucapkan belasungkawa melalui sms atau media sosial, bahkan banyak dari rekan-rekan ibunda saya yang mengirimkan karangan bunga ke rumah duka—rumah kakek nenek saya dikota kelahiran saya dan almarhumah. Saya tau sekali bagaimana ibunda saya dengan orang tuanya, saudaranya, keluarganya, teman-temannya, atasannya, tetangga, dan lainnya. Mereka semua turut sedih atas kepergian sosoknya, banyak yang menyayangkan atas kepergiannya yang begitu cepat di usianya yang dapat dibilang masih muda. Tetapi, takdir telah ditetapkan dan ketika itu ia tak bisa lagi menetap.


Sekali lagi, “Selamat Ulang Tahun, Mama”

Sabtu, 30 April 2016

Sepayung Berdua Denganmu


Project Collaboration Writing by Rifky Adina Irawan & (me) Iyasa Nindyaningrum


                “ Hujan...” Gumam Neta pelan diulurkannya tangannya kedepan merasakan buliran-buliran air yang membasahi tangannya. Mengetahui tak dapat melakukan apa-apa Neta hanya bisa terdiam menunggu dan berharap hujan segera usai. Samar-samar terlihat bayang seseorang menembus hujan tentu saja dengan payung merah polos seperti biasanya. Tanpa sadar seulas senyum tipis menghiasi wajah mulus Neta. Ya lelaki bermata coklat bulat itu selalu saja menjemputnya ketika hari sedang hujan dan menghilang begitu saja ketika hari sedang cerah. Neta bahkan tak tahu nama pria itu dan sebaliknya  juga. Ia bahkan tak mencoba mencari tahu nama pria itu. Neta hanya menginginkan apapun tentangnya langsung dari mulut pria itu sendiri. Kejadian ini pun berlangsung begitu saja secara natural.

“ Hai...”

“ Hai...”

“ Ayo biar kuantar kamu pulang” Ucap pria itu dan dibalas dengan anggukan Neta.

                Entah apa yang ada dipikiran Neta, ia tak pernah mengetahui mengapa ia tak takut akan bahaya yang akan terjadi kapan saja bersama pria yang bahkan ia tidak ketahui namanya. Ia selalu merasa nyaman dan ia percaya lelaki ini tak kan menyakitinya dan pikiran bodohnya tentang pria itupun tak meleset sedikitpun.

“ Kamu tahu? Sebelumnya aku sudah pernah berpacaran, kukira kami akan mencapai jenjang yang lebih serius tetapi setelah kutahu ternyata dia selingkuh dengan sahabatku. Hubungan kami hilang begitu saja. Menyakitkan memang tapi kurasa itu memang salahku; tak mempunyai waktu untuknya tapi itu juga yang membuatku tak berani lagi dengan hal-hal berbau cinta. Aneh bukan?” Neta mengarahkan kepalanya kesamping kirinya memastikan apa yang didengarnya dengan baik. Ia selalu menyukai pria itu berbicara, suara yang sangat menenangkan. Saat-saat seperti ini yang disukainya, saat-saat dimana pria itu berbicara tentang pengalamannya. Neta tak selalu menyauti kata pria itu dan sepertinya pria itu mengerti dengan sifat yang dimiliki oleh Neta.

“ Akhir-akhir ini aku mulai ragu dengan pendapatku itu. Entah bersama wanita itu aku selalu merasa yakin tapi aku tak mengerti harus bagaimana. Mengingat sifatnya yang serba tak peduli itu membuat nyaliku ciut begitu saja. Kuharap aku dapat mengatakannya padanya.”

“ Ah, kita sampai,” Pria itu membukakan pintu mobilnya untuk Neta. Neta sedikit merasa kecewa berpayung dengannya harus selesai secepat ini. Ia berharap mobilnya dapat menjauh dengan sendirinya, mungkin sejauh ujung kulon lebih baik. Neta selalu merasa tertarik akan keberadan pria ini, ya hanya tertarik. Tetapi kenapa ketika pria itu berkata tentang wanita yang -dapat membuatnya mengerti cinta lagi- baru saja dikatakan olehnya membuat ulu hati Neta merasa nyeri. Ia hanya dapat memegang dan menekan untuk menetralisirkan perasaan itu. “Demi tuhan, penyakit apa ini?”Batinnya.

***

Neta POV

                Pria disampingku –yang kini tengah menyetir- ini tak pernah sedikitpun membuatku merasa jengah. Mata bulat berwarna hazel itu juga sangat menawan, terlalu menawan. Hidungnya yang mancung dan kulit putih ditambah dengan tampangnya yang maskulin dan rahangnya yang tegas. Aku tak pernah peduli tentang penampilan orang-orang disekitarku minus untuk orang tuaku, Deo –adik lelakiku-, Audy –satu-satunya sahabatku- dan... pria ini. Aku suka ketika ia memakai baju kemeja putih polos dan celana jeans panjang yang membuatnya seperti orang kantoran atau mungkin dia memang sudah berkerja? Mengingat aku tak pernah tahu sedikitpun tentangnya. Sayang ketika ia memakai baju itu, tubuhnya harus kebasahan karna ya dia selalu datang hanya saat hujan. Tetapi basahan itu jugapun memperlihatkan bagian lengannya yang sedikit berotot.

“Bagaimana harimu?” ucapnya yang membuat pikiranku membuyar.

“Seperti biasa, tidak buruk dan tidak juga baik.”

Hanya 2 kata tetapi sangat penuh makna. Kata yang selalu ia tanyakan padaku yang selalu kujawab dengan jawaban sekenanya dan berakhir dengan senyuman sepihaknya. “Hariku tak pernah baik-baik saja jika tak ada-mu” kata-kata yang telah kususun dengan rapi itu selalu saja tertahan dimulutku, tak berani keluar.

“Apa kamu sudah makan? Atau kamu sedang lapar sekarang?”

“Tidak, aku sudah makan soto ayam tadi. Terima kasih.”

“Oh baiklah.”

“Tapi kurasa jika kamu lapar, aku akan menemanimu.”

“Kamu yakin?”

“Hmm...”

***

Neta POV

Suara gemuruh disertai kilat halilintar terdengar jelas dari jendela kaca di belakangku. Aku mengambil sedikit langkah mundur untuk menghindari kilatan-kilatan itu. Sudah setengah jam aku terjebak di sebuah minimarket dekat kampus, niat awal ingin segera pulang kerumah dengan berjalan kaki sampai halte untuk naik bus kota, tetapi hujan tiba-tiba saja datang menerpa dengan kasar bahkan sebelum aku sampai di halte.

Sekarang aku harus memutar otak bagaimana caranya aku bisa sampai di halte yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari minimarket ini tanpa harus kebasahan. Sedangkan, aku tak membawa payung atau apapun yang bisa melindungiku dari terpaan hujan saat ini. Ya, aku selalu begini, lupa membawa payung.

Tapi, setelah ku pikir berulang kali, aku takkan bisa pulang kalau harus menunggu hujan hingga reda. Hujan semacam ini bisa dipastikan akan bertahan lama. Aku pun membulatkan tekad untuk menerobos hujan untuk bisa sampai ke halte dan aku bisa pulang dengan naik bus. Aku mulai memasukkan semua buku-buku tebal yang tadinya aku pegang untuk dimasukkan dalam tas agar tidak basah. Dengan cepat aku berlari menembus hujan, aku bahkan tak perduli lagi dengan flatshoes tosca-ku yang sekarang basah terkena genangan air hujan dan kemeja abu-abu ku yang sudah basah terkena tetesan hujan. Hari yang sial, batinku.

Tapi tidak  juga setelah aku merasakan tetesan hujan tak lagi membasahi tubuhku, aku menengadah dan melihat payung lipat merah polos yang sebenernya tidak untuk dua orang itu tengah memayungi diriku. Aku berhenti melangkah, kulihat sosok yang memegang payung merah itu dan lagi-lagi lelaki itu lagi; lelaki yang selalu datang ketika hujan.

“Hai,” sapa lelaki itu dengan sebuah senyuman hangatnya.

Aku justru terdiam karena tersihir oleh pesonanya. Rambutnya sedikit basah akibat percikan hujan dan bulir-bulir air kecil terlihat disekitaran wajahnya yang bisa kulihat dengan jelas pada jarak sedekat ini dan itu menampakkan kesan menawan.

“Kalau aku ketemu kamu pasti sedang hujan”

“Bukannya kebalik ya? Setiap kali turun hujan, aku selalu ketemu kamu”

Kami berdua justru membicarakan hal tak penting semacam ini dipinggir trotoar dengan payung merah yang tak seharusnya untuk dua orang ini, sehingga kami harus tetap menjaga jarak terdekat kami agar tak terkena hujan.

“Aku cariin kamu ke halte yang biasanya tapi kamu nggak ada, untung aja aku lewat sini terus lihat kamu ada disini,” Lelaki itu berbicara lagi, aku masih terpaku menatap dirinya sambil mencerna perkataannya.

Apa maksud ucapannya adalah ia datang dengan menjadikanku tujuan utamanya disaat hujan lebat seperti ini? Apa ia selalu begini?

“Untuk apa kamu mencariku?” pertanyaan itu terus saja berputar-putar di kepalaku dan baru kali ini aku berhasil menanyakan hal itu padanya.

Ia terlihat berfikir sebentar namun dengan pasti ia menjawab dengan lembut,“Karena kamu selalu lupa untuk bawa payung disaat musim hujan seperti ini. Karena itu, aku akan selalu menemukanmu tiap hujan turun.”

Mengapa itu terdengar seperti sebuah janji?

“Hujannya makin deras. Kau yakin mau tetap berdiri disini dan terus-terusan mengajakku berdebat?” ucap lelaki itu berbicara dengan suara yang sengaja ia keraskan karena suara hujan yang deras, tapi suaranya tetap saja terdengar lembut dan menenangkan. 

Setelah itu, aku mengikutinya menuju mobil miliknya yang ia parkir dipinggir jalan tak jauh dari tempat kami berdiri. Didalam mobil pun tak ada satupun diantara kami yang berbicara. Kami justru sibuk dengan pikiran masing-masing, lelaki itu juga fokus pada kegiatan menyetirnya hingga sebuah suara aneh terdengar sedikit nyaring, setidaknya lelaki disampingku ini dapat mendengarnya dengan jelas.

“Kamu lapar?” tanya lelaki itu setelah mendengar suara aneh itu berasal dari suara perutku yang kelaparan.

Aku mengangguk sambil berusaha menahan malu karna kepergok mengeluarkan suara-suara aneh yang berasal dari perutku itu. Aish!

Ia tersenyum, “Kenapa kamu nggak bilang daritadi? Ayo aku antar ke tempat makan favoritku!”

Aku hanya diam, melihatku yang sedikit ragu, ia kembali berbicara, “Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan menemanimu makan jika kau lapar?”

Kali ini apa lagi? Mengapa ini terdengar seperti sebuah janji yang ia tepati?

***

Hujan masih turun dengan deras, membuat kaca pada jendela besar disamping kananku ini berembun dan terlihat buliran-buliran air hujan turun membasahi jendela kaca itu. Lelaki itu duduk dihadapanku, ia terus memandangku seolah aku ini lukisan abstrak yang tak terbaca, sementara diriku menetralisir rasa gugupku, aku terus memandang kearah jendela kaca disebelahku sambil sesekali menyuapkan soto ayam milikku.

“Kau tidak makan? Bukannya kau bilang ini tempat makan favoritmu? Lalu kenapa kau tidak makan?” tanyaku berusaha memecah keheningan.

“Kau suka sekali makan soto ayam ya?” lelaki itu justru balik bertanya.

“Ya, aku sangat suka makan soto ayam apalagi disaat hujan seperti ini. Menurutku ini lebih baik dari segelas teh panas saat hujan.”

Lelaki itu mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Hey, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau tidak makan sementara kau bilang ini tempat favoritmu?” aku kembali menyuarakan pertanyaan yang membuatku penasaran sejak tadi. Karna lelaki itu hanya memandangku saja sementara ia tak memesan makanan atau bahkan minuman.

“Bukankah memang sejak awal aku mengatakan akan menemanimu makan? Jadi aku tak ikut makan, lagipula aku tak suka soto ayam.”

“Lalu bagaimana bisa tempat makan yang hanya menjual soto ayam ini menjadi tempat favoritmu? Kau bahkan tak memesan minuman atau apapun selain soto.”

“Aku menyukai tempat ini karena ini adalah tempat dimana pertama kali kita bertemu, kau masih ingat?” ucapnya dengan sorot mata berbinar.

Aku terpaku, tapi dalam hati aku membenarkan perkataan lelaki itu. Ya, aku ingat, memang tempat ini adalah tempat pertemuan pertamaku dengannya. Kala itu, aku sedang makan malam dirumah makan itu hingga larut, aku terjebak hujan ditempat itu hingga rumah makan itu hampir tutup dan aku memilih menunggu diteras rumah makan sambil berharap hujan akan segera reda dan sepertinya Tuhan mengabulkan doaku dengan cara lain, seorang lelaki datang dengan payung lipat berwarna merah dari dalam rumah makan itu, ia melihat kearahku sebentar, lalu memberikan payung lipatnya padaku dan ia berlari menembus hujan untuk masuk kedalam mobil yang terparkir di rumah makan itu. Lalu, pada hujan berikutnya ketika aku ingin mengembalikan payung merah itu padanya, hujan turun sangat lebat dan berakhir dengan menggunakan payung itu berdua untuk melindungi dari terpaan hujan dan hal itu terus saja terjadi seperti sebuah rutinitas setiap kali hujan turun, ia akan selalu datang.

“Apa kau percaya cinta pada pandangan pertama?”

Aku hanya diam. Tak mengerti dengan maksud pembicaraanya.

“Atau pernahkah kau mendengar tentang seorang pria hanya membutuhkan waktu 8,2 detik untuk jatuh cinta?”

Apa yang sedang ia bicarakan?

“Hal itulah yang aku yakini saat ini. Sejak pertama kali kita bertemu, saat di tempat ini aku melihatmu seorang diri tanpa perlindungan ditengah hujan, saat aku menatapmu hari itulah aku benar-benar telah percaya akan hal-hal tabu semacam ini, aku telah jatuh cinta padamu saat detik ke-8 aku menatapmu,” ia berbicara dengan nada tenang dan lembut seperti biasanya, tapi aku bisa melihat ketulusan dan kesungguhan pada ucapannya. Aku rasa ia tidak sedang berbohong.

“Tapi, kita bahkan tak saling kenal, mengetahui nama saja tidak. Bagaimana mungkin kau jatuh cinta padaku?”

Lelaki itu tersenyum singkat, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak beludru berwarna merah berada di telapak tangannya, ia membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah cincin platinum berwarna perak,“Kalau begitu izinkan aku mengenalmu.”

Apakah ia baru saja mengajakku berkenalan atau sedang melamarku?

***
                
This entry was posted in

Sabtu, 09 April 2016

Dilema




Disini aku berdiri tegap
Dengan sebuah rasa yang tak dianggap
Haruskah aku berhenti berharap?
Sementara kau menjeratku dalam tatap
Membawaku dalam dekap
Membuatku betah untuk menetap
Tetapi aku belum siap
Bila harus kehilangan sang pelengkap
Dalam dunia yang gelap

Sekarang aku menerka-nerka
Apakah ini yang namanya terluka?
Mengetahui hanya dia yang kau suka
Dia yang tak ku sangka
Hadir sebagai petaka

Untuk apa aku terus melangkah
Kalau hanya membuat lelah
Aku bahkan sudah kalah
Dengan dia yang lebih indah
Yang memiliki senyum cerah
Yang hidup tanpa celah

Tapi waktu terus berjalan
Memberi sebuah pilihan
Tetap berada pada kesedihan
Atau berburu kebahagiaan
Dari debu-debu kehidupan

Karya: Iyasa N

This entry was posted in

Selasa, 22 Maret 2016

Photograph

Sunyi membalut malam, hanya suara gemuruh pendingin ruangan dan detak jam dinding yang terdengar memenuhi ruang tidurku. Sepertinya seisi rumah telah terlelap dan kurasa hanya diriku yang masih terjaga pada pukul 11 malam seperti ini.

Aku tersenyum memandangi sosok dalam bingkai foto ditanganku, aku menaruh foto itu kembali pada tempatnya; diatas meja kecil di samping tempat tidur. Lalu, aku membuka laci meja itu, mengambil medali emas yang sepertinya terbuat dari emas sungguhan, jika di timang dari berat benda itu ditanganku saat ini.

***

Satu minggu setelah kepergiaan Tante Maya..

Ponselku bergetar begitu aku sedang membaca buku pelajaranku, rupanya sebuah panggilan masuk dari seseorang yang ku kenal tak lama ini. Aku mengangkat teleponnya, menunggu ia berbicara.

"Aku didepan rumahmu. Keluarlah!" 

Ia memutuskan sambungan teleponnya sebelum aku sempat berbicara apapun. Aku mendengus, melempar handphone pada meja belajar dengan sedikit tenaga, menutup buku pelajaran dan menuruti perintah orang itu—seseorang yang baru saja meneleponku.

“Ada apa? Kau baru saja merusak waktu belajarku, kau tau?” sapaku dengan kedua tangan terlipat didepan dada.

“Maaf, aku sedang kacau,” Athar—seseorang yang meneleponku—duduk di rerumputan depan rumahku; tempat dimana tadi ia berdiri. Aku pun terduduk disebelahnya, siap mendengarkan kisahnya yang baru akan dimulai.

“Seharian ini aku terus memikirkan Bunda, hingga mengingatkanku dengan sesuatu.”

Aku menatapnya lekat, menunggu kelanjutan pembicaraannya.

“Aku tak suka berbasa-basi, jadi aku akan langsung bicara pada intinya. Aku tahu kau memiliki fotoku. Kau pasti masih menyimpannya, kan? ” ia tersenyum menyeringai.

Aku tergagap, “Fo—foto apa?”—berpura-pura tidak tahu. 

"Foto kemenangan pertamaku dalam perlombaan renang di Berlin, kau ingat?"

Aku terdiam, mengalihkan pandanganku, menghindari kontak mata dengannya.

"Kau mengambilnya dari rumahku, kan?" tebaknya lagi, sambil tersenyum miring.

“Aku tidak mengambilnya, tapi aku—memintanya,” ucapku membantah, lalu memalingkan wajahku berlawanan dengan dirinya.

Athar tertawa, "Kau sudah memiliki foto berharga-ku itu dan—" ucapannya dibiarkan menggantung selagi ia merogoh saku jaketnya.

Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan menunjukkan benda itu tepat didepan wajahku, "Tidak kah kau berfikiran untuk memiliki benda berharga dalam foto itu?" 

Mataku membulat melihat sebuah medali emas menggantung tepat di wajahku, aku menoleh kearahnya, menatap wajahnya dengan pandangan bertanya maksud dari pembicaraannya ini.

Ia menaruh benda itu—medali emas—pada telapak tangannya, “Kau pasti sudah mendengar semuanya dari Bunda ku, ini adalah benda berharga-ku, tapi mulai sekarang ini akan menjadi milikmu,” ia meraih tangan kananku, menaruh medali itu disana.

Mataku membulat, “Tapi kenapa? Ini penghargaan pertama-mu,” aku berusaha mengembalikan benda itu ke tangan Athar, tapi ia menolak, benda itu tak berhasil pindah ke tangannya, tenaganya jelas lebih kuat dariku.

“Simpanlah! Aku mau kau menjaga benda itu untukku, karena—“ ucapan Athar dibiarkan menggantung.

Aku menunggunya menyelesaikan kalimatnya.

“Karena rumahku sudah penuh dengan berbagai medali seperti itu dan aku sudah bosan melihatnya terus menumpuk,” Athar tertawa. Sedangkan, aku memberikan satu pukulan ringan pada lengan kirinya sebagai bentuk kekesalanku padanya.

"Dasar konyol!”

Aku tertawa terbahak-bahak, bergantian dengan Athar yang justru sudah berhenti tertawa dan sedang memandangku yang sedang tertawa. Begitu aku menyadari tengah diperhatikan, aku pun berhenti tertawa, lalu menatap lelaki yang sedang menatap kearahku itu. Jantungku berdebar hebat, debarannya begitu kencang dan terasa berbeda, debaran ini bukan seperti saat kau sehabis berlari marathon atau saat kau gugup berbicara didepan umum. Bukan, ini berbeda, aku sendiri bahkan tak mengerti, ini pertama kalinya bagi seorang perempuan berumur 11 tahun.

This entry was posted in

Senin, 21 Maret 2016

Knowing You

Perjalanan tiga jam dari kedai kopi menuju rumah terasa sangat melelahkan, padahal jarak rumah dan kedai kopi hanya berkisar 7 km dan seharusnya itu bisa ditempuh hanya dengan waktu 15 menit. Jalanan Ibukota memang semakin padat dan mengerikan.

Aku melangkah memasuki kamar tidur-ku, menutup pintu, meletakkan koper dan tas, lalu terduduk pada pinggiran ranjang. Aku meraih sebuah potret berbingkai pada meja kecil di samping tempat tidur, aku mengusap foto itu, takut-takut banyak debu yang menempel disana karena telah satu tahun ini aku tinggalkan untuk melanjutkan kuliah master-ku di London.

Potret berukuran 30x40 cm itu berhiaskan pigura berwarna putih sederhana. Disana aku melihat seorang lelaki muda, tampan, yang tampak keras dan dingin, namun berbakat tengah memamerkan sebuah medali emas yang tergantung pada lehernya, bulir-bulir air masih terlihat membasahi tubuh atletisnya, lelaki pada foto itu terlihat begitu mempesona walau hanya mengenakan celana renang diatas lutut dan sebuah kacamata renang masih bertengger di lehernya. Kedua sudut bibirnya ia tarik hingga membentuk garis tipis pada bibirnya, terlihat seperti tersenyum namun samar, dikatakan tidak tersenyum sepertinya juga tidak, aku tak tahu apa namanya, tapi itu memberikan kesan manis, terutama bagi setiap perempuan yang melihat.  

***
10 tahun yang lalu...

“Daisy, cepat ganti bajumu, temani Mama kerumah Tante Maya untuk mengembalikan jam tangannya yang ketinggalan kemarin, sekalian Mama mau memberikan kue kesukaannya,” teriak Mama dari luar ruang tidur-ku.

Sesampainya disana, Tante Maya menyambut kedatanganku dan Mama dengan hangat, ini memang bukan pertemuan pertamaku dengan Tante Maya—sahabat karib Mama sejak bangku sekolah. Tapi, ini adalah kunjungan pertamaku di rumahnya, biasanya Tante Maya yang selalu berkunjung kerumah untuk sekedar bertemu dan bernostalgia dengan Mama.

Tante Maya merangkul-ku, “Daisy mau minum apa? Biar Tante buatkan, ya,” tawarnya ramah.

“Coklat panas,” jawabku cepat.

“Duduklah, Tante akan buatkan khusus untuk anak manis ini,” ucap Tante Maya lembut sembari mengusap kedua pipi-ku.

Tante Maya sudah menghilang dibalik dapur, Mama pun ikut-ikutan sibuk membantu Tante Maya di dapur. Keduanya sudah seperti saudara, terkadang aku suka iri melihat persahabatan keduanya, aku selalu berharap bisa seperti keduanya, nantinya.

Sambil menunggu, aku memutuskan untuk beranjak dari sofa, hal pertama yang membuatku tertarik adalah melihat bingkai-bingkai foto berukuran kecil yang tertata rapi di meja kayu di samping sofa besar. Aku mengamati tiap foto dengan rinci hingga aku bisa turut merasakan kebahagiaan yang tercipta disetiap foto-foto berbingkai itu.

Tetapi, ada satu foto yang membuatku terpana, aku mengambil foto itu, ingin melihat lebih dekat. Ku tatap lekat-lekat seseorang di foto itu; foto seorang lelaki dengan medali emas di lehernya. Aku tak tahu siapa lelaki itu, bertemu atau melihatnya saja belum pernah, tetapi entah mengapa hanya dengan melihat potretnya saja sampai membuatku tersenyum sendiri hingga tak menyadari Tante Maya dan Mama sudah kembali dengan secangkir coklat panas dan dua cangkir teh hangat, ditambah beberapa kue kering yang dipajang dalam toples-toples kaca; lelaki itu benar-benar menyita perhatianku.

“Laki-laki dalam foto itu satu-satunya anak Tante, namanya Athar, dia sekarang berumur 14 tahun,” ucap Tante Maya seolah bisa membaca pikiranku mengenai siapa yang ada di foto itu.

Aku tergagap melihat kedua wanita itu sudah berada di ruang tamu kembali, sepertinya aku terlalu sibuk memperhatikan foto lelaki itu, sampai-sampai tak menyadari kehadiran keduanya dan sekarang lidahku justru terasa kelu; tak tahu harus berbicara apa.

Tante Maya menyesap cangkir tehnya, “Athar menyukai renang sejak umur 8 tahun dan ia benar-benar ingin serius menggeluti dunia renang sejak saat itu, ia juga masuk klub renang dan mengikuti beberapa pertandingan. Foto itu adalah kemenangan pertamanya ketika ia berumur 10 tahun, ia menjadi juara pertama tingkat internasional di Berlin.”

Aku berdecak kagum, kembali tersenyum sambil menatap foto itu sekali lagi, dan menggenggam bingkai foto itu dengan erat, “Tante, apa foto ini boleh menjadi milikku?”
This entry was posted in

Sabtu, 12 Maret 2016

Keliru

Semarang, 24 Februari 2016


Berjalan; sudah menjadi kebiasaanku selama aku resmi menjadi siswi menengah atas di kota Semarang.

Hari ini, tidak seperti biasanya, aku pulang terlambat hingga hampir gelap, karena ada pelaksanaan sidang yang harus segera kami—aku dan teman-teman kelasku—selesaikan.

Aku berjalan dengan lemah; dengan sisa energi yang ku punya. Tetapi, tiba-tiba saja aku merasa sisa energi ku itu berkurang secara drastis, ketika aku dan kau berpapasan di jalan menuju gerbang sekolah, dan yang membuatku merasa semakin lemah adalah ketika kau melewatiku begitu saja dengan motor-mu itu tanpa perlu repot-repot kau menoleh kearahku atau bahkan melihat kearahku sedetik saja, tak kau lakukan. Padahal, yang aku tau, saat itu lingkungan sekolah sedang sepi, karena hari hampir senja, aku rasa sangat tidak mungkin jika kau tak melihatku saat itu.

Aku tersenyum miris, berdecak kagum melihat dirimu yang sekarang, yang berada di atas awan, yang tak sudi lagi melihat diriku ini. Hebat! Kau melakukannya dengan sangat rapi; menutup-nutupi semua yang pernah terjadi di antara kita, kau bahkan berpura-pura tak mengenalku. Mungkin seharusnya kau memenangkan penghargaan piala bergengsi sebagai aktor dengan peran terbaik. Seharusnya.

Jalan yang ku tapaki tak pernah terasa seberat ini. Aku memaksakan kedua kaki-ku untuk tetap terus melangkah, hingga suara motor yang ku kenali terdengar semakin mendekat kearahku.

“Yas,” sebuah suara bass khas lelaki itu terdengar menyapaku, aku otomatis menoleh dan berakhir dengan membeku melihat siapa yang ada di hadapanku ini; lelaki yang baru saja ku lihat melewatiku di dekat gerbang sekolah.

“Kamu baru mau pulang? Aku antar ya,” tawarnya.

Aku menggeleng cepat, “Nggak usah, udah deket kok.”

“Nggak apa-apa, memangnya kamu nggak capek apa habis seharian sekolah masih harus jalan kaki kerumah?”

“Nggak, aku bisa pulang sendiri,” aku menolak, meneruskan langkahku, tetapi ia justru menghalangi jalanku dengan motornya yang ia hentikan tepat di depan kaki-ku.

“Udahlah biar aku antar, ayo naik,” ia menepuk jok belakang motornya, memberi isyarat agar aku naik pada motornya.

Aku mengalah, aku memilih ikut dengannya.

        Saat hendak berjalan menaiki bangku belakang motornya, tiba-tiba saja pergelangan kaki kanan ku terasa nyeri, “awww,” rintihku pelan. Aku menengok kebawah, ah, ya ampun aku baru saja menginjak baru besar dan tergelincir. Hampir saja kaki kanan-ku keseleo untuk yang kedua kalinya; karena sebelumnya aku pernah keseleo ketika masih SD.

            Beruntung aku tak jatuh setelah menginjak batu berukuran cukup besar itu, aku menoleh ke sekeliling, tak ada siapapun, tak ada lelaki itu, yang ada hanya sedikit motor dan mobil yang berlalu lalang di gang kecil menuju rumahku itu. Lelaki itu tidak ada, aku tidak sedang berada diatas motornya, ia tidak sedang mengantarku pulang kerumah, aku masih berada dijalan itu berdiri tegak dengan kedua kaki-ku. Sepertinya aku terlalu lelah, ditambah lagi pertemuan tak disengaja saat berpapasan dengan lelaki itu sebelumnya membuat energi-ku benar-benar tak bersisa. Aku rasa itu hanya ilusi-ku saja.

           Aku meneruskan langkahku, berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang, entah mengapa aku masih tak percaya bahwa ini hanya ilusi, hanya khayalan-ku saja.

Minggu, 21 Februari 2016

Jakarta Ramai

Daisy’s Point Of View

Masih tersisa seperempat cangkir hot chocolate caramel dihadapanku, aku mengaduknya sebentar, lalu berhenti, “Athar, aku mau pulang,” rengekku seperti anak kecil yang kelelahan setelah seharian bermain.
“Ayo, kita pulang,” ia berdiri dari tempatnya, meraih dan menggenggam jemari-ku.
Seketika, jantung-ku berkerja tidak seperti biasanya—menimbulkan ritme cepat yang teratur.

***

Iringi barisan kisah ini sembari mendengarkan alunan lagu ini:


   Sepuluh menit yang lalu, aku dan Athar meninggalkan kedai kopi bernuansa outdoor yang menjadi salah satu kedai kopi favorit Athar baru-baru ini—dan sepertinya juga akan masuk dalam daftar kedai kopi favoritku.
         Jalanan Jakarta selalu padat. Waktu senja seperti ini selalu menjadi waktu yang paling dihindari, waktu dimana setiap orang akan kembali pulang setelah lelah bekerja. Apalagi ditambah ini adalah hari sabtu; lebih tepatnya malam minggu, yang dimana setiap muda-mudi akan pergi keluar bersama kekasihnya atau bahkan teman-temannya untuk sekedar bertemu, berkumpul, dan bersenang-senang menghabiskan waktu bersama.
              Seharusnya aku tidak buru-buru mengajak Athar pulang pada saat-saat seperti ini. Aku lupa kalau ini adalah jam pulang kerja dan setiap sudut jalan dipenuhi dengan berbagai kendaraan; macet.

Senja menyambut kota yang lelah ini
Dan dia bertanya bagaimana hari mu

Sebuah alunan lagu dari radio itu terdengar pelan dan samar—bahkan nyaris tak terdengar. Aku melirik jam tangan berwarna silver pada pergelangan kiri-ku, dilanjutkan dengan mengecek handphone yang sedari tadi berada dalam genggaman-ku. Hal itu terus menerus berulang kulakukan setiap dua menit sekali.
Aku menghela nafas, dapat kulihat Athar memalingkan pandangan dari jalanan dan kini ia tengah memandangiku, aku rasa helaan nafasku begitu kencang hingga Athar bisa mendengarnya dan memilih menatapku seperti itu; tatapan membunuhnya.
“Kamu kenapa, Des?” tanya Athar tanpa jeda setelah mengalihkan pandangannya.
Aku hanya berdehem dengan nada bertanya seperti ‘Apa?’.
Sementara Athar menaikkan pedal rem tangan yang ada di tengah kursi penumpang dan pengemudi pada sisi depan, lalu merubah posisi duduknya agar bisa menatapku lebih leluasa, kakinya juga sudah tak lagi menginjak rem.
Athar mengambil handphone dalam genggaman-ku tanpa izin. Aku bahkan hanya berdiam diri mengetahui itu. Ia melihat beberapa pesan yang ku kirim pada Dary melalui whatsapp sejak ia pulang sehabis mengantarku menuju bandara hingga saat ini aku telah berada di Jakarta, tak ada satupun pesan yang dibaca bahkan dibalas olehnya, beberapa panggilan telepon pun tak ada yang dijawab.
         Athar melempar handphone-ku pada dashboard mobilnya, “Nggak usah dipikirkan lagi,” ucapnya menohok seolah langsung mengerti penyebab kesedihan yang ku tampakkan, lalu ia memutar volume radio sedikit lebih kencang untuk memecah keheningan.

Jakarta ramai, hati ku sepi
Jangan kau tanya, mengapa sedih

                Aku menghela nafas sekali lagi, menopang dagu, menatap kearah luar jendela kaca mobil, meresapi alunan lagu yang dimainkan oleh stasiun radio itu.
            Bisa kulihat dari sudut mata-ku, Athar memandang lurus mobil-mobil didepannya yang tak bergerak barang se-inchi pun, rahangnya mengeras sempurna hingga tercetak pada wajahnya, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan erat seolah ingin mematahkannya—auranya begitu gelap. 



This entry was posted in

Minggu, 14 Februari 2016

Pergi dan Datang

Note: nama pemeran laki-laki
sebelumnya‘Axel’ diubah
menjadi ‘Athar’
Athar’s point of view

Kehilangan/ke-hi-lang-an/ (n) hal hilangnya sesuatu; kematian. Aku rasa kalimat itulah yang sedang kualami, aku kehilangan seseorang yang paling kucintai, ia adalah ibu kandung-ku.

Makam mama masih terlihat segar, wangi air mawar, bunga-bunga segar bertebaran diatas gundukkan tanah itu. Aku masih berada di makam bersama papa; hanya tersisa kami berdua. Untuk pertama kalinya aku menunjukkan airmata-ku dihadapan papa dan almarhum mama. Bagaimana tidak seorang anak satu-satunya ditinggalkan oleh ibunya disaat usianya baru menginjak 14 tahun, masa-masa peralihan menuju masa remaja. Masa-masa dimana seharusnya seorang anak lelaki butuh pengendalian dan perhatian lebih dari seorang ibu. Tapi, tidak denganku, mama justru pergi karena serangan jantung mendadak dan tak bisa lagi diselamatkan, apa boleh buat Tuhan berkata lain.

Sebuah bayangan yang terlihat seperti seorang perempuan berpostur tubuh kecil dengan rambut diikat ponytail itu terlihat mendekat. Ternyata memang benar seorang perempuan, ia mengenakan long dress tanpa lengan berwarna hitam ditambah aksesori berupa selendang berwarna senada yang sengaja disampirkan pada bahunya untuk menutupi lengan atasnya yang terekspos.

Ia berjongkok disebelah kanan-ku, aku menoleh, kulihat di belakangnya ada dua orang dewasa dengan pakaian gelap tengah berdiri yang kuyakini itu adalah kedua orang tua dari perempuan kecil disebelahku ini.

“Aku Daisy, anak dari Mama Venna,” perempuan kecil itu memulai pembicarannya, tapi, tak ku hiraukan.

“Mama-ku dan mama-mu berteman baik, aku juga kenal Tante Maya sejak aku masih kecil, karena ia sering main kerumahku,” dogeng perempuan bernama Daisy itu.

Aku tak perduli dengan omongan perempuan itu, aku tak mengenalnya, melihatnya saja baru kali ini, aku pikir dia—sejenis orang gila.

Ia kembali berbicara, “Tante Maya sudah tenang disana, kamu harus mendoakan yang terbaik untuknya. Karena itu aku hadir disini untuk mendoakannya juga.”

Perempuan itu berhenti berbicara, menengadahkan tangannya, menutup matanya, dan menunduk; sepertinya ia sedang berdoa.

Beberapa detik setelahnya, ia kembali menatapku lekat-lekat, “Kamu jangan sedih lagi ya, mulai sekarang kamu boleh anggap mama aku sebagai mama kamu juga, ya?”—itu terdengar seperti sebuah paksaan.

Refleks aku menoleh kearahnya dengan cepat, tangisku terhenti. Untuk pertama kalinya aku melihat mata se-indah itu; iris matanya berwarna amber-coklat tembaga. Aku mengangguk kecil tanda setuju. Ia tersenyum, untuk pertama kalinya aku pun tersenyum; aku benar-benar lupa jika aku baru saja berduka atas kepergian mama.

Pada detik itu juga, asumsi ‘sepertinya ia sejenis orang gila’ tiba-tiba berubah menjadi—sepertinya sekarang aku yang telah gila.
***

“Dary benar-benar sibuk dengan skripsi untuk bahan sidangnya akhir bulan ini. Sebentar lagi, kuliahnya akan selesai, ia akan kembali ke Indonesia untuk  menetap dan bekerja, sedangkan aku masih punya waktu sekitar satu tahun lagi sampai kuliahku selesai—dan itu artinya kita akan berhubungan jarak jauh. Aku di London, Dary di Jakarta, huft,” Daisy menghela nafas kencang, menampakan kesedihannya.

Aku pun menghela nafas, menenggak sisa espresso di cangkir hingga tandas, “Des, kamu mau pesan hot chocolate caramel favorit kamu nggak?”
This entry was posted in

Minggu, 07 Februari 2016

Pilihan

Selamat malam!

Well, gue balik dengan artikel terbaru gue ini dengan tampilan yang berbeda. Ya, for the first time akhirnya gue bikin artikel secamam ini, masih semacam cerita tentang kehidupan pribadi gue yang biasa aja sebenernya tapi suka gue lebay-lebay-in sejujurnya, but kali ini gue mau curhatan kali ini lebih santai, so gue buat artikel dengan bahasa yang sedikit aneh menurut gue karna jujur aja gue belum terbiasa pake bahasa ‘gue-lo’ semacam ini, jadi maklumin aja kalo emang jatohnya jadi absurd.

Oh iya satu lagi, gue mau terima kasih sama sepupu gue yang di Jakarta, terimakasih karna blognya dia banyak banget menginspirasi gue dalam dunia blogging, salah satunya buat artikel semacam ini. Maaf gue selalu stalking blognya dan jadi followers yang sengaja gue private biar gak ketahuan, soalnya kalo ketahuan gue yakin dia malu dan mungkin dia nggak bakal ngeblogging lagi [sumpah gue pede banget]. Thank you, mbak!

***
       
Jadi tiga hari yang lalu, ketika itu di sekolah lagi pelajaran seni budaya dan semua seisi kelas lagi sibuk dengan gambarannya masing-masing, ya kita lagi ngegambar perspektif bangunan dengan satu titik lenyap. Buat bisa gambar perspektif bener-bener perlu ketelitian dan kesabaran, karna salah ngegaris sedikit aja bisa berdampak buruk sama seluruh gambaran lo [cukup lo tau aja sih]. Sebenernya ini bukan masalah gambarannya sih, jadi ketika itu kelas sedikit sunyi karna pada sibuk ngegambar. Gue sama temen sebangku gue pun sibuk ngegambar, gue duduk sama dia udah lama banget sejak hari kedua awal masuk SMA kelas 10 dan sampe sekarang di semester 2 ini [cuma mau kasih tau aja sih].

Jadi, gue sama temen sebangku gue itu sibuk sendiri-sendiri ngegambar, suasananya bener-bener hening dan tiba-tiba dia nyeletuk gini, “Yas, kalo disuruh milih, kamu bakalan milih temen-temen sekelasmu dulu pas kelas 9 atau temen sekelas yang sekarang?,” sambil masih fokus ngegambar. Gue diem sebentar, bingung dia ngomong apa, jujur aja gue gak denger begitu jelas, gue tanya ulang ke dia. Setelah dia ulangi, gue bener-bener mutar otak buat ngejawab, jujur aja gue bingung mau jawab apa, engga tau kenapa gue takut salah jawab sumpah.

Gue berhenti ngegambar, gue ngelihat kearah dia, “Kalo aku mending kelas yang sekarang,” well, itu yang keluar begitu aja dari mulut gue hasil dari pemikiran singkat gue itu.

Dia juga berhenti ngegambar, “Kalo aku milih kelas 9 yang dulu, kalo aku bisa, aku mau balik kelas 9 lagi,” WOW! Itu jawaban paling mencengangkan buat gue. Ya ini bener-bener bertentangan banget sama jawaban gue, right?

Lalu, gue tanya ‘kenapa?’, dia bilang bahwa temen-temen sekelasnya dia ketika dia kelas 9 SMP itu sangat-sangat solid, mereka sangat kompak, apapun permasalahan kelas, atau misalnya ketika ada tugas mereka akan membuat kesepakatan mau ngerjain atau engga, kalo satu orang bilang engga, ya semua engga akan ngerjain. Tapi, ketika mereka bener-bener niat ngerjain tugasnya, mereka akan bagi-bagi tugas, sebagian orang ngerjain tugas yang ini, sebagian lagi ngerjain yang lain. Dan begitu juga dengan kenakalan mereka, ketika satu orang ngajak cabut/bolos kelas, mereka akan cabut sekelasan jadi kalo mereka dipanggil guru BP karna bolos ya udah ditanggung bareng-bareng kesalahannya. Wow! Gue bener-bener kaget banget dengerin penjelasan dia, segitu solidnya kelas dia dulu. Wajar aja sih kalo dia emang milih temen-temen kelasnya yang dulu ketimbang yang sekarang.

Berbanding terbalik dengan gue, gue juga langsung ceritain alasan kenapa gue memilih temen-temen kelas yang sekarang. Jadi, gue rasa temen-temen kelas 9 gue dulu itu individualisme. Semuanya egois, semuanya mau menang sendiri, gue rasa mereka semua sudah hebat-hebat jadi ngga perlu bantuan orang lain bahkan ngga mau nolong orang lain sekalipun itu temen satu kelas sendiri. Gue cerita gini, pas SMP dari kelas 8-9 gue ada di kelas A yang berarti kelas unggulan, isinya semua anak-anak pinter dari berbagai kelas yang udah diseleksi tentunya. Seperti yang gue bilang, kebanykan dari mereka itu selfish. Sampe gue kelas 9, memang ada rolling kelas lagi, tapi kebanyakan dari mereka berhasil bertahan dikelas A, bisa dibilang 95% isinya adalah orang-orang lama di kelas 8 sebelumnya, sisanya mereka orang-orang baru yang terpilih. Dan gue rasa, sifat selfish itu tadi udah nular juga ke temen-temen yang baru gabung di A. Intinya, semua individualisme. Dan gue rasa, hal itu juga sedikit menular ke diri gue.

Beda banget sama temen-temen sekelas yang gue temuin sekarang di SMA, gue ngerasa ini kelas beda dari kelas-kelas yang udah pernah gue temuin. Kita solid tapi nggak cuma satu kelas, kita juga selalu diajarin buat jaga kekompakan satu angkatan. Itu semua udah bener-bener biasa banget dan melekat sama diri kita. Kita dapet pembelajaran itu dari kakak-kakak kelas kita, yang tiap kemah atau kegiatan sekolah lainnya, kita bener-bener ditanamin buat jaga kekompakan satu angkatan. Man, ini bener-bener sesuatu yang belum pernah gue dapetin semenjak gue masuk bangku sekolah.

Temen-temen SMA gue solid walaupun nggak se-solid temen-temen SMP-nya dia. Tapi seenggaknya ini sedikit lebih baik, yah walaupun emang masih ada segelintir orang yang masih selfish nggak mau ngasih contek-an ketika ulangan, yang nggak mau membenarkan jawaban ketika ada yang tanya di grup chat, yang nggak mau bantuin jawab ketika ada tugas, ya tapi itu juga hanya sedikit kok, aku sih paham aja.

Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, mungkin secara solid dan enggaknya mungkin masih menang temen-temen SMA gue yang sekarang, yang akan terus satu kelas dan bareng-bareng selama 3 tahun, partner lulus bareng-bareng. Tapi, secara personal mungkin gue prefer sama temen-temen SMP gue, mungkin itu juga karena kebanyakan dari mereka ada yang udah gue kenal dari lama, jadi bener-bener udah nyatu sama gue. Gue udah tau gimana karakter dan sifat mereka, begitupula sebaliknya. Dalam tanda kutip, gue bener-bener sudah akrab dan mengenal mereka. Sedangkan, temen-temen SMA kan baru aja kenal jadi mungkin gue belum memahami karakter mereka sepenuhnya satu per satu.

Kesimpulannya, setiap orang punya jawabannya sendiri untuk memilih pilihannya. Ada yang ingin kembali ke masa lalu, ada yang ingin menghentikan masa sekarang, atau ada pula yang menginginkan masa mendatang yang ia tak pernah tau jalan ceritanya. Dan satu lagi, setiap orang punya caranya sendiri-sendiri untuk bisa beradaptasi pada sekumpulan orang hingga menjadi tim yang solid. Semuanya berawal dari diri masing-masing.

note : nggak bermaksud rasis ataupun membeda-bedakan, ini cuma sekedar cuhatan biasa kok. so, buat temen-temen saya yang baca siapapun mohon untuk tidak tersinggung apalagi menaruh dendam dan sakit hati pada saya. saya minta maaf yang sebesar-besarnya ini semua murni curahan hati saya


Semarang, 5 Februari 2016
22:13 PM

Rabu, 03 Februari 2016

Bahagia

Suasana hati; datar
Cuaca; cerah

Aku bukanlah si tokoh utama dalam cerita ini. Aku hanya seorang penonton; penikmat cerita-cerita klise nan romantis seperti ini.


Ini adalah kisah cerita cinta yang bisa dibilang cinta sepihak. Si perempuan, teman satu angkatanku sejak SMP hingga saat ini satu perguruan tinggi. Sedangkan, si laki-laki, lebih tua satu tahun diatas si perempuanlebih tepatnya kakak tingkat saat SMP. 

Si lelaki terkenal sebagai 'troublemaker' saat SMP, ia sering membolos, melanggar peraturan, berbuat semaunya sendiri sampai ia bertemu seseorang yang mampu mengalihkan dunianya, satu-satunya perempuan yang mampu merubah kehidupannya, ya lelaki itu menyebutnya sebagai cinta pertama-nya. 

Tunggu, coba bayangkan apa yang sedang kulihat.


Lihat. Perempuan yang sedang berjalan dengan beberapa buku berukuran tebal dalam dekapannya itu bernama Fellice. Perempuan populer di kampus, cantik, modis, dan pintar, Kurang apa? Aku rasa hanya ada satu kekurangannya, ia tidak pandai bergaul dengan siapapun.

Lalu, mari kita lihat dari arah belakang perempuan itu, dimana ada seorang lelaki berwajah dingin berjalan dengan langkah lebar dari arah aula kecil kampus. Lelaki itu memakai celana jeans berwarna dongker dengan setelan kemeja kotak-kotak berwarna hitam-abu dan tas ransel yang hanya di selempangkan pada satu lengan kanannya, sementara tangan kirinya memegang jas almamater kampus yang berwarna hitam.

Tunggu. Lelaki itu semakin memperlebar langkahnya. Sementara, Fellice berjalan dengan sangat lambat sembari mengecek buku-buku yang ada di tangannya. Namun, tiba-tiba Fellice terhenti. Sepertinya, ia melupakan sesuatu. Ia pun membalikkan badan berniat berbalik ke perpustakaan. Sepertinya, ada satu buku yang ia lupa untuk ia bawa.

Ah, ya, aku tahu adegan ini.

Koridor kampus sedang sepi karena waktu masih menunjukkan pukul 06.35 pagi, tentunya ini masih terlalu pagi untuk para mahasiswa berangkat ke kampus.

Fellice membalikkan badan, baru saja ia hendak melangkah maju. Tapi, seseorang bertubuh tegap itu sudah berdiri tepat di hadapannya. Tabrakan itu pun tak dapat terelakkan lagi.

Braaak!, suara buku-buku dalam dekapan Fellice itu jatuh membentur lantai hingga menimbulkan suara hentakan.

Dengan sigap, lelaki itu berjongkok dan memunguti buku-buku itu. Begitupun dengan Fellice. lelaki itu masih sibuk mengambil buku-buku itu, sementara fokus Fellice justru tertuju pada nama dada di jas almamater milik lelaki itu yang disampirkan pada lengan kirinya. Disana tertulis Devan Mahendra.

Lelaki itu menyodorkan buku-buku itu pada Fellice, “Maaf, aku nggak sengaja,” lalu ia berdiri.

Ah sial, aku sedikit kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Biasanya dalam adegan tabrakan seperti ini, saat keduanya sedang memungut buku-buku itu jemari-jemari mereka akan bersentuhan dan akan menimbulkan reaksi adegan saling tatap. Tapi kenapa dengan adegan ini tidak?

Fellice pun berdiri, menerima buku-buku itu, “Ah iya, nggak apa-apa.”

Tanpa ekspresi apapun, lelaki itu pergi.

“Kau, Devan Mahendra?” teriak Fellice spontan membuat langkah lelaki itu terhenti.


Lelaki itu memutar tubuhnya, memandang kearah Fellice seolah menunggu ucapan Fellice berikutnya.


Fellice merasa terintimidasi, "Kau benar Devan Mahendra, kan?" ia berusaha mengontrol nada bicaranya agar tak terdengar gugup.


Lagi-lagi lelaki itu tak menjawab, ia masih memandang Fellice begitu intens.


"Apa kau mengenalku?" tanya Fellice lagi.


"Siapa yang tidak mengenal perempuan populer sepertimu?" timpal Devan.


"Tapi, apa aku mengenalmu?"

“Hh, coba kau ingat-ingat lagi, Fel. Kalau kau sudah ingat, beritahu aku,” Devan menepuk bahu kiri Fellice dua kali tepukkan, lalu pergi begitu saja meninggalkan Fellice yang masih tercengang.

Aku yakin, sentuhan kecil dari lelaki itu bagai sengatan yang mematikan dan itu sangat berbahaya sekali untuk jantung Fellice—berdetak lebih kencang.

Lelaki itu baru berjalan beberapa langkah, tubuhnya masih dapat terlihat di koridor.

Fellice berteriak, “HEY! TERIMAKASIH YA BANTUANNYA KEMARIN” 

Devan memutar badan dan tersenyum tipis; berharap perempuan itu tidak melihatnya. Ia lalu memutar tubuhnya dan melanjutkan langkahnya hingga dirinya tak lagi terlihat di koridor. Begitu pula dengan Fellice, berjalan kearah dimana lelaki itu tadi datang; ke perpustakaan untuk mengambil bukunya yang tertinggal disana.

Fellice mendekap buku-bukunya dengan erat, menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum. Entah mengapa, ia begitu bahagia.
This entry was posted in