Bahagia

by - Februari 03, 2016

Suasana hati; datar
Cuaca; cerah

Aku bukanlah si tokoh utama dalam cerita ini. Aku hanya seorang penonton; penikmat cerita-cerita klise nan romantis seperti ini.


Ini adalah kisah cerita cinta yang bisa dibilang cinta sepihak. Si perempuan, teman satu angkatanku sejak SMP hingga saat ini satu perguruan tinggi. Sedangkan, si laki-laki, lebih tua satu tahun diatas si perempuanlebih tepatnya kakak tingkat saat SMP. 

Si lelaki terkenal sebagai 'troublemaker' saat SMP, ia sering membolos, melanggar peraturan, berbuat semaunya sendiri sampai ia bertemu seseorang yang mampu mengalihkan dunianya, satu-satunya perempuan yang mampu merubah kehidupannya, ya lelaki itu menyebutnya sebagai cinta pertama-nya. 

Tunggu, coba bayangkan apa yang sedang kulihat.


Lihat. Perempuan yang sedang berjalan dengan beberapa buku berukuran tebal dalam dekapannya itu bernama Fellice. Perempuan populer di kampus, cantik, modis, dan pintar, Kurang apa? Aku rasa hanya ada satu kekurangannya, ia tidak pandai bergaul dengan siapapun.

Lalu, mari kita lihat dari arah belakang perempuan itu, dimana ada seorang lelaki berwajah dingin berjalan dengan langkah lebar dari arah aula kecil kampus. Lelaki itu memakai celana jeans berwarna dongker dengan setelan kemeja kotak-kotak berwarna hitam-abu dan tas ransel yang hanya di selempangkan pada satu lengan kanannya, sementara tangan kirinya memegang jas almamater kampus yang berwarna hitam.

Tunggu. Lelaki itu semakin memperlebar langkahnya. Sementara, Fellice berjalan dengan sangat lambat sembari mengecek buku-buku yang ada di tangannya. Namun, tiba-tiba Fellice terhenti. Sepertinya, ia melupakan sesuatu. Ia pun membalikkan badan berniat berbalik ke perpustakaan. Sepertinya, ada satu buku yang ia lupa untuk ia bawa.

Ah, ya, aku tahu adegan ini.

Koridor kampus sedang sepi karena waktu masih menunjukkan pukul 06.35 pagi, tentunya ini masih terlalu pagi untuk para mahasiswa berangkat ke kampus.

Fellice membalikkan badan, baru saja ia hendak melangkah maju. Tapi, seseorang bertubuh tegap itu sudah berdiri tepat di hadapannya. Tabrakan itu pun tak dapat terelakkan lagi.

Braaak!, suara buku-buku dalam dekapan Fellice itu jatuh membentur lantai hingga menimbulkan suara hentakan.

Dengan sigap, lelaki itu berjongkok dan memunguti buku-buku itu. Begitupun dengan Fellice. lelaki itu masih sibuk mengambil buku-buku itu, sementara fokus Fellice justru tertuju pada nama dada di jas almamater milik lelaki itu yang disampirkan pada lengan kirinya. Disana tertulis Devan Mahendra.

Lelaki itu menyodorkan buku-buku itu pada Fellice, “Maaf, aku nggak sengaja,” lalu ia berdiri.

Ah sial, aku sedikit kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Biasanya dalam adegan tabrakan seperti ini, saat keduanya sedang memungut buku-buku itu jemari-jemari mereka akan bersentuhan dan akan menimbulkan reaksi adegan saling tatap. Tapi kenapa dengan adegan ini tidak?

Fellice pun berdiri, menerima buku-buku itu, “Ah iya, nggak apa-apa.”

Tanpa ekspresi apapun, lelaki itu pergi.

“Kau, Devan Mahendra?” teriak Fellice spontan membuat langkah lelaki itu terhenti.


Lelaki itu memutar tubuhnya, memandang kearah Fellice seolah menunggu ucapan Fellice berikutnya.


Fellice merasa terintimidasi, "Kau benar Devan Mahendra, kan?" ia berusaha mengontrol nada bicaranya agar tak terdengar gugup.


Lagi-lagi lelaki itu tak menjawab, ia masih memandang Fellice begitu intens.


"Apa kau mengenalku?" tanya Fellice lagi.


"Siapa yang tidak mengenal perempuan populer sepertimu?" timpal Devan.


"Tapi, apa aku mengenalmu?"

“Hh, coba kau ingat-ingat lagi, Fel. Kalau kau sudah ingat, beritahu aku,” Devan menepuk bahu kiri Fellice dua kali tepukkan, lalu pergi begitu saja meninggalkan Fellice yang masih tercengang.

Aku yakin, sentuhan kecil dari lelaki itu bagai sengatan yang mematikan dan itu sangat berbahaya sekali untuk jantung Fellice—berdetak lebih kencang.

Lelaki itu baru berjalan beberapa langkah, tubuhnya masih dapat terlihat di koridor.

Fellice berteriak, “HEY! TERIMAKASIH YA BANTUANNYA KEMARIN” 

Devan memutar badan dan tersenyum tipis; berharap perempuan itu tidak melihatnya. Ia lalu memutar tubuhnya dan melanjutkan langkahnya hingga dirinya tak lagi terlihat di koridor. Begitu pula dengan Fellice, berjalan kearah dimana lelaki itu tadi datang; ke perpustakaan untuk mengambil bukunya yang tertinggal disana.

Fellice mendekap buku-bukunya dengan erat, menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum. Entah mengapa, ia begitu bahagia.

You May Also Like

0 komentar