Pertemuan

by - Oktober 16, 2015

                Fellice mendongakkan kepalanya yang sedari tadi berkutat dengan layar laptop untuk menyelesaikan skripsinya yang sudah berminggu-minggu tertunda. Ia menutup layar laptop miliknya dan mengembalikannya ke dalam ransel berwarna pink polos yang tergeletak diatas meja sejak tadi. Kemudian, ia beranjak keluar dari kedai kopi kecil di seberang kampusnya.

                Ia berjalan menuju kampusnya; perpustakaan kampusnya lebih tepatnya. Ia berniat mencari referensi lain untuk bahan skripsinya yang ingin segera ia selesaikan dalam minggu ini.

Langkahnya terhenti saat ia melihat jalan pintas yang kecil nan sempit untuk menuju perpustakaan itu dipenuhi oleh lelaki-lelaki dari grup motor di kampusnya yang terkenal sebagai pembuat onar dan penggoda perempuan-perempuan yang berlalu lalang di hadapannya.

 Fellice masih berdiri ditempatnya, berdiam mematung dan menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bahwa setiap perempuan yang lewat dihadapan para grup motor itu akan mendapati berbagai siulan disana sini dan sekedar melemparkan sapaan dengan menyebut perempuan-perempuan itu dengan sebutan ‘cantik’.

Sungguh menjijikkan,” batin Fellice. Ia bergidik ngeri sendiri.

Ia menghela nafas panjang dan mencoba memberanikan diri mengambil langkah ke depan berjalan seorang diri melewati gerombolan grup motor itu meski dengan resiko ia akan mendapatkan godaan yang sama seperti perempuan-perempuan tadi yang ia lihat.

Tidak ada pilihan lain, hanya ini jalan terdekat menuju perpustakaan kampusnya. Ia tidak ingin berjalan memutar sejauh 500 meter hanya untuk bisa sampai di perpustakaan. Menurutnya, itu sama saja dengan membuang-buang waktu dan tenaga.

Baru selangkah ia menapaki kakinya untuk meneruskan langkahnya sebelum ia sempat melewati gerombolan itu. Tiba-tiba sebuah tangan kokoh mendarat tepat di bahu kanannya. Refleks, langkahnya kembali terhenti. Ia menoleh ke arah tangan itu berada. Lalu, pada detik berikutnya ia habiskan dengan menatap si pemilik tangan kokoh tersebut yang telah berdiri tegak di sisi kirinya selama beberapa detik.

“Diam dan lanjutkan langkahmu. Kau tidak ingin kan digoda dengan segerombolan lelaki grup motor itu, hah?”

Lelaki itu menatap Fellice dengan tatapan dingin seolah apapun yang dikatakan lelaki itu harus dituruti dan tak boleh ada bantahan. Benar saja, Fellice memang tidak membantah dan justru melakukan apa yang diperintahkan oleh lelaki itu. Ia seolah tersihir oleh pesona lelaki itu sebelumnya.

 Jemari-jemari lelaki itu menangkup pundak Fellice dengan kuat dan dengan sedikit tenaga yang diperlukan lelaki itu, ia menarik tubuh Fellice agar lebih mendekat dengan tubuhnya hingga tidak ada celah lagi diatara keduanya. Cengkaraman itu semakin menguat dan itu seolah memberi isyarat bahwa Fellice harus segera melangkahkan kakinya melewati ‘lelaki-lelaki penggoda’ itu dan lelaki disebelah kirinya pun akan mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Fellice.

Namun, sebelum Fellice melakukan apa yang diperintahkan oleh lelaki itu. Ia sudah terlebih dahulu melihat kearah dada kiri lelaki itu saat ia menatapnya seolah mengintimidasi. Yang ia ingat tulisan yang tertera pada dada kiri jaket almamater yang dikenakan lelaki itu adalah Devan Mahendra.

You May Also Like

0 komentar