Heart Demands

by - Oktober 23, 2015


Rabu, 21 Oktober 2015

Hai, selamat bertemu kembali.

Setelah beberapa minggu kita tak lagi saling bertemu, bertatap muka, kontak mata apalagi berbicara. Berhubungan melalui sosial media saja tidak lagi pernah setelah kita sudah tak lagi berada dalam organisasi yang sama; yang ketika itu kita pernah menjadi satu tim. Kau ingat?

Meskipun kita berada pada satu sekolah yang sama, tapi perbedaan tingkat kelas diantara kita memang menjadi alasan yang utama bahwa kita tak dapat bertemu meskipun berada pada lingkungan sekolah yang sama. Aku adalah adik kelas tingkat awal di SMA, sedangkan kau adalah kakak kelas satu tingkat diatasku. Dan lingkungan tiap tingkatan kelas tentu terpisah jauh dan sudah ditetapkan masing-masing. Oleh karena itu, aku tak pernah berharap banyak untuk dapat bertemu denganmu setiap harinya. Sangat sulit dan sangat kecil kemungkinan untuk kita bertemu atau bahkan berpapasan. Kalaupun bertemu itupun hanya sesekali dan mungkin hanya keberuntungan saja.

Aku juga tak lagi mengharapkan dirimu—seperti dulu— semenjak berita mengenai kedekatanmu dengan perempuan se-angkatan ku ditambah lagi, kelasnya berada persis disebelah kiri ruang kelasku. Bagaimana tidak aku dapat dengan mudah bertemu dengan perempuan itu setiap harinya? Sedangkan, aku selalu merasa sangat kesal setiap kali melihat wajahnya. Kau tau? Ia seperti merebut apa yang telah menjadi bagian dalam hidupku. Dan itu menambah dosaku setiap harinya karena menyimpan amarah apalagi dendam terhadapnya. Astaghfirullahaladzim.

 Asal kau tau saja, perempuan yang ‘katanya’ kau sukai itu adalah perempuan yang selalu aku puja-puja kecantikannya dan kepribadiannya sejak awal aku melihatnya, sekalipun aku tak mengenalnya sama sekali. Tapi, setiap hari aku selalu memujinya dalam hati. Namun, semenjak berita itu sampai ditelingaku, aku bahkan tak lagi ingin memuji dirinya. Aku jijik! Aku kesal dengan perempuan itu. Aku bahkan selalu berfikir, “seperti ini kah tipe yang kau sukai?”—Jujur saja, aku iri.  

Ah sudahlah membahas mengenai perempuan itu benar-benar akan menambah dosaku terus menerus, kalau sudah begini tentu aku sendiri yang rugi.

Jadi sore itu ketika sepulang sekolah, aku dan dua orang temanku menyempatkan diri untuk sholat ashar ke musholla sekolah sebelum kami akan pergi untuk penilaian renang. Aku baru saja tiba di musholla setelah beberapa waktu tak masuk sekolah membuatku juga tak lagi menginjakkan kaki di musholla sekolah. Awalnya aku biasa saja berjalan menuju musholla sembari bercengkrama dengan dua orang temanku. Sampai didepan musholla, aku dan temanku baru akan melepas tali sepatu. Namun, perasaanku berubah sedikit berbeda, aku merasa ada seseorang yang tengah menatap kearahku. Aku meneliti sekelilingku, memperhatikan tiap orang yang ada, mencari apakah benar ada yang sedang menatapku; sesuai dengan perasaanku.

Deg. Begitu aku menoleh kearah kanan, seorang lelaki menatapku persis di manik mataku. Aku bisa melihat matanya tengah melakukan kontak mata denganku. Matanya seolah berbicara bahwa ada sesuatu yang ingin diungkapkan namun sepertinya tak bisa. Matanya mengartikan seperti itu.

Aku pun menatap matanya. Tidak! Bukan hanya matanya saja, tapi aku juga menatap wajah dan rambutnya yang basah sehabis berwudhu. Sungguh sangat mempesona sekali. Ia berhasil membuat aku jatuh hati untuk yang kesekian kalinya. Ia tahu bagaimana cari mengambil hati perempuan. Ia benar-benar mempesona ditambah dengan sisa-sisa air wudhu yang masih menetes diujung-ujung rambutnya yang selalu ia bentuk berdiri keatas dan sekitar wajah, tangan dan kakinya.  

Ternyata ia telah selesai berwudhu, ia berjalan melewatiku yang sedang melepas tali sepatu sambil masih terus menatap kearahku; aku bisa melihat itu dari sudut mataku. Aku benar-benar tak bisa berlama-lama lagi adu tatap dengannya. Aku memilih mengalah dengan berpura-pura sibuk dengan tali sepatuku dan berpura-pura tak melihat apalagi memperdulikannya.

Jujur saja, itu adalah tatapan yang selalu aku rindukan selama beberapa minggu tak lagi pernah bertemu. Itu adalah jenis tatapan yang dulunya selalu kita lakukan ketika kita sedang berada di lingkungan yang sama atau bahkan berpapasan ketika berjalan. Tapi bedanya, ketika dulu kita melakukan tatapan sejenis itu pasti selalu terselip senyum tipis saat melakukannya, atau bahkan terucap panggilan masing-masing untuk sekedar menyapa saat tak sengaja berpapasan di jalan.

Tapi, untuk tatapan yang kali ini berbeda. Tak lagi sama ketika kita masih berada pada satu organisasi yang sama, ketika kita masih berada dalam satu tim yang sama, dan ketika kau sering mampir kerumah.

Berikutnya, tatapan itu terjadi lagi ketika di dalam musholla. Kau sudah selesai sholat lebih dulu. Sedangkan aku, masih sibuk mencari mukena di lemari musholla. Kau berjalan keluar musholla dan aku sembari mencari mukena bisa melihat bahwa kau sedang melihat kearahku dan detik berikutnya aku pun melihat kearahmu. Tapi, kau dengan cepat mengalihkan pandanganmu kearah luar. Nafasku tercekat, entah kenapa rasanya begitu sesak melihat dirimu yang seperti ini sekarang. Aku masih memandangmu hingga kau keluar musholla dan pergi begitu saja menghilang dari pandanganku.

Entah mengapa justru di akhir, aku malah kecewa denganmu dan menyesali perbuatanku diawal seperti yang aku ceritakan diatas ketika bertemu dengannya didepan musholla. Salahku, aku yang memutuskan untuk tak lagi ingin meneruskan tatapan yang ia berikan diawal. Aku tak ingin melihat tatapan sejenis itu lagi, aku tak ingin jatuh hati lagi padanya, aku tak ingin terjebak lagi dalam pesonanya, aku tak ingin lagi merasa tersakiti seorang diri. Tidak lagi! Toh, dia sekarang sudah mengincar dan dekat dengan perempuan yang ia sukai. Apalagi? Aku? Aku akan mundur perlahan-lahan dan menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Bye, selamat berpisah lagi.





Teruntuk,
Lelaki yang selalu memintaku untuk
memanggil dirinya dengan sebutan “mas”

You May Also Like

0 komentar