Ada Apa Dengan Kita?

by - November 03, 2013


          Entah mengapa, akhir-akhir ini aku merasa sangat dekat, sangat lekat denganmu. Aku tau, ini memang bukan yang pertama kalinya kamu sedekat ini denganku.  Tapi setidaknya, aku sangat senang bisa kembali dekat denganmu. Sudah lama semenjak kita beranjak remaja, kita hampir tidak pernah saling berhubungan, bahkan hubungan kita menjadi renggang, tak ada komunikasi, tak ada sedikitpun niat untuk saling sekedar menyapa atau bahkan untuk memulai sebuah percakapan. TAK ADA!


Kita saling melupakan atau terlupakan? 
Kita lupa satu sama lain, lupa bahwa kita pernah menjadi seorang teman.  Yang ku tau, bahwa kita terlalu takut untuk kembali dekat, terlalu takut untuk memulainya kembali, yang ada justru hanya saling menatap ketika bertemu dan kemudian ketika kita melihat bahwa apa yang kita lihat pun sedang melihat kearah kita, kita sama-sama saling berpaling, melihat kesudut penjuru lain, berusaha menutupi bahwa kita sama-sama sedang mencuri pandang, kita justru terlihat canggung, terlihat tidak nyaman dengan semua sikap saat berdekatan, bingung harus berbuat apa, dan kita berdua justru samasama hanyut dalam sepi, membiarkan kecanggungan ini mengisi kebersamaan kita, yang ada hanya diam.



Aku tak mengerti, mengapa  kita begini? Mengapa kita secanggung ini? Kita bahkan tak pernah merasa secanggung ini, tak pernah merasa se-sepi ini. Dulu, selalu ada tawa dan canda yang mengisi kekosongan diantara kita, selalu ada senyum yang terselip saat bersama. Tapi kini, kita sama-sama saling membuang muka dan memilih untuk diam.

Tapi terkadang, aku bertanya-tanya kenapa kita membiarkan suasana ini terus begini? Kenapa kita membiarkan kecanggungan ini terus ada dalam kebersamaan kita? Kenapa kita tidak kembali seperti dulu? Kembali pada saat kita dekat layaknya seorang sahabat yang berlawan jenis, namun saling mengisi. Aku ingin kembali ke saat-saat itu dan menghentikan saat-saat bersama.

Aku tahu, berteman apalagi bersahabat dengan lawan jenis yang berbeda itu tidak mudah. Ya, terlalu sulit untuk menyatukan dua orang yang berbeda, dua hati yang berbeda, karna kita samasama takut memiliki perasaan lebih terhadap teman kita sendiri. Perasaan lebih yang seperti apa? Sayang mungkin. Atau bahkan cinta.


Jujur saja, aku memang memendam perasaan suka padamu dan itu sudah berlangsung sejak lama, sejak awal kita kenal, sejak kita bersama-sama, sejak kita menjadi seorang teman. Perasaan itu awalnya muncul hanya sebagai rasa kagum, perasaan kagum yang aku miliki pada seorang teman laki-laki ku sendiri. Aku mengagumimu karna aku tak pernah sedekat ini dengan seorang teman laki-lakiku selain denganmu. Harusnya kau tau itu! Tapi, sudahlah kau mungkin takkan pernah tau.. Mungkin.

Semua terjadi begitu mudahnya, perasaan itu datang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, seiring kedekatan diantara kita semakin terasa, terlebih lagi perasaan itu sering kali tiba-tiba muncul dan menganggu, mengacaukan persahabatan kita dan karna itulah yang membuat hubungan kita renggang dan timbul rasa canggung diantara kita ketika bersama.

Meskipun hubungan diantara kita sempat renggang, tapi kini, kita telah kembali. Ya kembali menjadi seorang sahabat seutuhnya. Meskipun, aku yang akan terus memendam perasaan ini padamu. Aku rela, aku ikhlas, asalkan aku tetap terus bersamamu, apapun itu status atau hubungan kita. Biarlah aku yang akan terus memendam, sedangkan engkau bahagia dengan yang lain dan aku akan terus ada untukmu jika kau butuh, aku siap. Siap memberikan bahuku untukmu sebagai tempat kau bersandar, tempat kau mencurahkan segala isi hatimu,  tempat menampung segala sedih dan tangismu. Biarlah! Limpahkan semua itu padaku, aku tak apa. Memang itu sudah menjadi kewajibanku sebagai sahabatmu…




You May Also Like

0 komentar