Selasa, 15 Mei 2018

Sulit Dipercaya


Semarang, 6 April 2018

Tiga hari menjelang ujian nasional, doa bersama menjadi kegiatan utama yang dilakukan di sekolah pada hari ini. Aku dan kamu kembali bertemu dalam satu ruang luas yang disebut aula sekolah. Kamu yang sepertinya sudah mengetahui aku—mengetahui namaku—menatapku dengan pandangan berbeda, semakin hari rasanya kamu menjadi lebih sering menatap kearahku juga saat aku tengah memperhatikanmu. Hal ini juga disadari oleh beberapa temanku yang sering bersamaku.

Seperti hari ini, sebelum aku dan teman-temanku memasuki ruang aula, kamu dan teman-temanmu berdiri dekat pintu masuk aula. Kamu dan teman-temanmu memperhatikan rombonganku yang tengah berjalan memasuki aula. Teman di sebelahku berbisik, “Kok mereka ngelihatin ya.” Saat itu aku melihat salah satu temanmu yang sedang berbicara denganmu itu menatap kedatanganku dengan khusyuk sambil menirukan gerakan yang sedang kulakukan saat itu—aku memegangi pundak kananku setelah merapikan kerudungku. Aku tak tahu lagi harus bagaimana, aku terlalu takut hingga kuputuskan berhenti menatap kearahmu dan berpura-pura tidak mengetahui apapun. Pandanganku terus tertuju kedepan sembari melewati tempatmu dan teman-temanmu berada hingga pintu ruang aula. 

Sikapmu yang seperti ini tentu saja sudah beberapa kali terjadi sejak berminggu-minggu lalu sebelum USBN, sejak pertama kali kamu mengetahui diriku dari salah seorang teman lelaki sekelasku yang ternyata temanmu juga, ia yang memberitahumu bahwa aku sering memperhatikanmu. Ini diluar dugaan karena temanku itu juga baru tahu hari itu kalau aku ada “sesuatu” denganmu, tapi hari itu juga sepertinya ia memberitahu padamu tentang diriku. Sial. Aku tak punya muka lagi sejak saat itu.

Kembali pada hari ini, belum selesai sampai disitu saja. Saat didalam ruang aula, aku sama sekali tidak tahu keberadaanmu, terakhir yang aku tahu adalah aku masuk ke ruang aula lebih dulu darimu. Aku pun sudah tak mengharapkan dapat melihatmu diantara ratusan teman satu angkatan kita apalagi tempat duduk antara perempuan dan laki-laki dipisahkan oleh pembatas. Tetapi, sungguh aku tak menyangka saat sedang mendengarkan ceramah seorang ustadz tadi, aku hanya sekedar melihat-lihat sekelilingku dan tiba-tiba aku seperti melihat dirimu berada satu baris denganku, namun saat itu aku belum yakin jika itu benar dirimu karena tertutup oleh yang lain. Dan tiba-tiba teman di sebelahku berbicara dan otomatis aku menoleh kearahnya, “Owalah ngelihatin itu to yas.” Aku tidak mengerti mengapa dia bilang begitu padahal aku sama sekali tidak tahu keberadaanmu dan tidak sedang mencari dirimu. Aku kembali melihat kearah seseorang yang sempat aku kira itu adalah dirimu.. dan YA! Itu memang benar kamu. Kamu juga melihatku untuk sepersekian detik, lalu tubuh seseorang menutup pandangan kita. Namun, tak bisa dipercaya bahwa setelah itu yang kamu lakukan adalah menegakkan badanmu lebih tinggi untuk kembali bisa melihatku dari atas kepala seseorang yang menutup pandangan kita tadi. Mata kita kembali bertemu dan aku tidak bisa tidak tersenyum lebar saat hal itu terjadi.

Hingga saat ini jika mengingat kejadian itu rasanya senyumku seperti ingin terus mengembang, sepele tapi cukup membuat mood-ku baik seharian. Namun, seperti salah seorang sahabatku mengatakan bahwa tidak seharusnya aku terlalu terbawa perasaan semacam ini karena dia tidak ingin aku terluka nantinya jika semua yang aku pikirkan ini tidak seperti kenyataannya. Ada benarnya memang, tapi dia tidak berada di kota yang sama denganku, dia tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi, karena teman-teman disekelilingku pun melihat apa yang aku lihat. Tapi, karena perkataannya itu aku jadi sadar kalau memang tidak seharusnya aku terlalu terbawa perasaan dengan pikiran-pikiran rancuku ini yang terlihat berlebihan. Karena itu, sebenarnya pesan ini sudah lama berada dalam draft-ku, baru setelah seleksi bersama masuk perguruan tinggi ini aku mulai mempostingnya .

Selasa, 01 Mei 2018

Sebuah Tamparan yang Baik

Ada sesuatu yang berbeda yang baru saya temukan pada diri saya kemarin malam. Anehnya, saya sendiri sampai bingung dan terus bertanya-tanya pada diri saya sendiri “Benarkah ini aku?” mungkin karena perubahan yang tiba-tiba terjadi pada diri saya yang rasanya seperti diluar kendali saya.

Kemarin malam adalah awal saat saya menemukan diri saya yang tidak seperti biasanya. Jika biasanya saya adalah seorang yang sering mengeluarkan pendapat seenaknya dan cenderung otoriter, maka entah mengapa malam itu saya menjadi seorang yang memilih untuk diam diantara kemelut yang melibatkan saya—lebih tepatnya masalah itu adalah masalah saya, namun justru orang lain yang berdebat disini.

Jika biasanya saya adalah orang yang egois dan keras kepala, apapun itu yang saya katakan adalah benar dan apapun yang saya hadapi harus sesuai keinginan saya, jika tidak saya pasti akan marah. Maka, kemarin malam dengan ajaibnya saya bisa menahan ego dan amarah saya, apalagi saya dapat menahan ego itu terhadap orang tua saya, yaitu ayah saya. Ini seperti bukan diri saya, rasanya.

Jika saat bersama ayah saya, saya masih dapat menahan airmata. Tapi, tidak ketika saya telah sampai rumah dan ayah saya pulang kerumah kami yang sebenarnya. Saya menyadari bahwa saya tetaplah diri saya yang saya kenali dan ada satu hal yang saya tau tentang diri saya yang tidak berubah malam itu adalah saya tetaplah seorang yang mudah rapuh dan untuk hal ini saya percaya betul bahwa ini adalah diri saya.

Seharusnya masalah itu dapat selesai malam itu juga, namun tidak ketika saya melihat sorot mata berbeda dari mata ayah saya. Hati saya bergetar, perasaan sebelumnya yang terasa campur aduk antara ingin marah, ingin mengeluarkan semua keresahan hati saya, sekaligus ingin menangis. Semua rasa itu rasanya meluap saat melihat sorot mata ayah saya. Baru kali itu saya merasa kecewa dengan diri saya sendiri, saya seperti dipukul dan disadarkan “mengapa selama ini saya selalu menjadi seorang anak yang menyusahkan, merepotkan, dan sering kali membuat hati orang tua saya sakit dengan ke-egois-an saya.” Bodohnya saya selama 18 tahun saya hidup, mengapa saya baru terpikir bahwa selama ini saya terlalu banyak menuntut pada orang tua saya dan disini terkadang keegoisan mengendalikan saya bahwa saya tidak pernah mau tahu, yang saya mau adalah mereka juga harus mendukung keinginan saya apapun itu, termasuk saat harus menentukan masa depan saya dan saya kembali menyadari sesuatu yang merubah jalan pikir saya tentang hal itu; lebih lanjutnya akan saya bahas pada artikel tersendiri.

Sampai di rumah, saya tidak tahan lagi membendung airmata. Saya benar-benar merasa berada pada titik terendah saya dalam hidup. Mungkin ini teguran dari Allah bahwa menyadarkan seseorang terkadang tidak perlu melalui kontak fisik atau secara langsung, bahkan saya hanya dengan melihat sorot mata yang belum pernah saya lihat dari orang tua saya saja sudah dapat ‘membangunkan’ saya—entah bagaimana menjelaskannya.

Diantara lirih suara tangis dan lantunan istighfar malam itu, saya berkomunikasi dengan Allah, membuat sebuah janji tepatnya pada diri saya sendiri sekaligus memohon ridha dari-Nya sehingga segala petisi saya malam itu dapat tercipta demi membalas segala usaha dan ketabahan hati orang tua saya dalam menghadapi saya. 

Satu Mei,
(tujuh hari menjelang seleksi bersama
masuk perguruan tinggi negeri)

Semarang, 2018.