Jumat, 19 Mei 2017

Pemeran Terbaik

Diantara kalian mungkin ada yang pernah tak sengaja atau mungkin sengaja mengucapkan sesuatu hal yang nggak pernah kalian duga suatu saat tiba-tiba hal itu benar-benar terjadi? Menarik. Aku baru saja membuktikan hal itu. And it works!

Diantara kalian mungkin ada yang pernah membaca salah satu artikelku tentang kehidupanku didunia nyata yang aku tuangkan dalam bentuk cerita pendek, judulnya Keliru. Kalian bisa klik kata bergaris bawah untuk lihat lebih lengkapnya.

Jadi, di artikel Keliru itu, aku menceritakan bagaimana ketika aku berpapasan dengan seorang lelaki, kakak tingkatku, orang yang sempat dekat denganku—ketika itu—namun tidak lagi setelah ia tiba-tiba berpacaran dengan teman seangkatanku, setelahnya selama berbulan-bulan kami berubah menjadi seperti saling tidak mengenal satu sama lain. Lalu, di artikel itu aku menuliskan sebuah kalimat ajaib yang bunyinya seperti ini:

Aku tersenyum miris, berdecak kagum melihat dirimu yang sekarang, yang berada di atas awan, yang tak sudi lagi melihat diriku ini. Hebat! Kau melakukannya dengan sangat rapi; menutup-nutupi semua yang pernah terjadi di antara kita, kau bahkan berpura-pura tak mengenalku. Mungkin seharusnya kau memenangkan penghargaan piala bergengsi sebagai aktor dengan peran terbaik. Seharusnya. 

 ***

Memasuki tahun ajaran akhir seperti saat ini, pastinya banyak sekolah-sekolah seperti SMA-SMP yang mengadakan acara kelulusan atau promnight bagi kakak kelas tingkat akhir yang akan meninggalkan sekolahnya untuk melanjutkan pendidikannya ketingkat yang lebih tinggi. Begitu juga dengan lelaki yang aku maksud dalam artikel itu akan melangsungkan acara promnight untuk angkatannya tepat malam ini, hari Jumat, 19 Mei 2017.

Pagi ini, saat aku sedang mengobrol santai dengan teman-temanku dilantai kelas saat jam pelajaran kosong. Tiba-tiba salah seorang temanku yang merupakan panitia promnight tahun ini yang sejak tadi hanya diam dan fokus dengan handphone-nya langsung berdiri dan berteriak menyebut namaku, “YAS!!!”

“Kamu harus tau, Yas!”

Awalnya temanku itu tidak langsung memberitahukan hal penting yang sepertinya masih jadi rahasia itu, mungkin karena banyak teman-teman lain yang ada disekitarku saat itu, hingga akhirnya ia memberikan handphone-nya padaku, dia bilang, “Lihat yang tulisan terdrama.”

Deg. Nama panggilan akrab lelaki itu tercantum sebagai pemenang dalam nominasi kategori ter-drama di angkatannya.

(p.s : seperti yang kalian tau, setiap acara kelulusan atau promnight biasanya selalu ada penerima penghargaan atau pemenang untuk tiap-tiap kategori yang ditampilkan, seperti kakak kelas terbaik, tercantik, tertampan, terpopuler, dsb.)

See! Pada kalimat, “Mungkin seharusnya kau memenangkan penghargaan piala bergengsi sebagai aktor dengan peran terbaik. Seharusnya.” YA! Itu adalah kalimat ajaib-nya. Walaupun terdengar berlebihan, tetapi ini benar-benar terjadi. Aku menulis artikel itu satu tahun yang lalu, murni dari pemikiran aku sendiri dan aku tidak pernah menyangka kalau apa yang aku ucapkan/tulis/pikirkan tentang sepertinya dia harus mendapatkan penghargaan sebagai aktor terbaik dan sebagainya itu benar-benar terjadi, malam ini ia akan mengetahuinya, mungkin ia akan terkejut saat nominasi itu dibacakan oleh temanku tadi dan ternyata ia yang berhasil memenangkannya sebagai laki-laki terdrama di angkatannya.



Congratulations, Mas!

Kamis, 18 Mei 2017

Manusia Bodoh

Semarang, 18 Mei 2017

Pagi ini, seperti biasa aku berjalan kaki menuju sekolah. Saat memasuki gapura depan sekolah, aku bertemu teman satu kelasku, lalu kami berjalan bersama menuju ruang kelas kami di lantai dua sambil bercengkerama.

Saat akan melewati gerbang sekolah, aku berjalan disebelah kanan temanku sambil mengobrol dan sesekali melihat kearahnya, tak sengaja aku melihat seseorang laki-laki duduk seorang diri dengan kedua siku diatas pahanya, memakai hoodie abu-abu dan tas ransel dipunggungnya, arah pandangnya mengarah pada ruang basecamp Instruktur (ekstrakurikuler paskibra) yang mana dari arah pandangku terlihat duduk menyamping dan aku sama sekali tidak dapat melihat dengan jelas siapa orang itu.

Entah mengapa, aku merasa sangat penasaran dengan sosok lelaki itu. Aku hanya ingin tau siapa orang yang sedang duduk dipinggir taman kecil depan basecamp Instruktur itu, meskipun aku tau hal itu sangat tidak penting, tapi untuk yang satu ini aku benar-benar merasa ingin tau siapa orang itu.

Aku masih berjalan hampir melewati deretan basecamp ekstrakurikuler sambil masih mengobrol dengan temanku dan aku masih memandang teman disamping kiriku itu sambil sesekali melirik lelaki tadi, berusaha mengenali siapakah orang yang duduk seorang diri disana dengan tas ransel masih berada dipunggungnya pada waktu bel tanda masuk akan segera berbunyi. Sampai, sosok lelaki itu tiba-tiba saja memutar kepalanya kearah kirinya dan seketika mata miliknya bertemu tepat dengan bola mataku. Dia, batinku menyebut namanya dalam hati. Sungguh, aku tercekat sampai-sampai hanya ingin menelan ludah saja rasanya sulit. Aku tidak menyangka dan sama sekali tidak mengenali kalau orang itu adalah dia—lelaki yang akhir-akhir ini selalu membuatku berdebar setiap kali bertemu dengannya.



Hanya begitu, tetapi sudah cukup membuatku tidak bisa berhenti memikirkan pandangan matanya saat menatap kearahku. Huft, mengapa jatuh cinta bisa sebodoh ini?

Kamis, 04 Mei 2017

Rindu yang Tak Terbunuh


Diantara barisan kata berisi sajak
Hadir jiwa yang tak pernah beranjak
Berputar-putar dalam benak
Tak ingin pergi walau sejenak

Ialah yang disebut rindu
Sebuah rasa yang membelenggu
Sebuah rasa yang selalu datang mengganggu
Yang datang tanpa perlu ditunggu

Jikalau rindu dapat terbunuh dengan temu
Sudah sejak dulu aku tak mengenal rindu
Tapi rindu ini takkan pernah mati
Sebab yang kurindu tak bernyawa lagi


Mama, aku rindu sekali.

— Semarang, 2017.
Iyasa N.