Senin, 30 Januari 2017

Terlihat

terlihat/ter·li·hat/ v 1 dapat dilihat; kelihatan; tampak; 2 tiba-tiba atau tidak sengaja dapat dilihat; 3 sudah dilihat (diketahui); 


Semarang, 30 Januari 2017

Siang ini, saat jam pelajaran ke-8 di sekolah, aku dan teman sebangku-ku pergi keluar kelas saat jam pelajaran masih berlangsung, karena guru dikelasku saat itu menyuruh kami untuk fotocopy catatan untuk guru itu.

Kemudian, pergilah aku dan seorang temanku itu menuju koperasi sekolah untuk mem-fotocopy catatan. Kami pergi menuruni tangga. melewati kelas-kelas, lalu melewati ruang guru. Pada saat akan melewati ruang guru, dari kejauhan aku sudah melihat ada seseorang yang selalu berhasil menyita perhatianku sejak satu tahun lebih yang lalu, berdiri dengan seorang laki-laki yang kuduga adalah temannya, tampak sibuk bercakap-cakap dengan seorang guru wanita beberapa meter didepan ruang guru. Sehingga saat berjalan melewati ruang guru itu, aku menjadi kehilangan konsentrasi saat sedang berbicara dengan teman disebelahku, bahkan mengulang-ulang kata yang sama yang sulit dimengerti, sebabnya tentu saja karena seorang yang menyita perhatianku tadi berdiri tak jauh dari pandanganku.

Aku terus berjalan mencoba berkonsentrasi dengan pembicaraanku dengan teman disebelahku, tapi sesuatu yang justru tak dapat kukendalikan adalah saat berjalan melewati pintu ruang guru itu, aku hampir saja menabrak dua orang guru pria yang sedang berjalan keluar dari ruangan guru.

Aku menahan tubuhku agar tidak menabrak guru itu dan spontan berkata, "A-ah, maaf pak."

Dua orang guru yang hampir kutabrak itu salah satunya adalah wali kelasku, guru matematika wajib saat kelas 11 ini dan satu lagi adalah guru fisika yang pernah mengajarku saat di kelas 10. Sungguh, tak hanya aku yang terkejut saat akan menabrak kedua guru yang baru keluar dari ruang guru itu, tetapi kedua guru itu pun ikut terkejut dengan ikut berteriak 'diluar kesadaran' karena sama kagetnya denganku.

Kemudian, aku dan dua guru pria tadi tertawa menyadari kebodohan kami yang saling berteriak karena terkejut. Hal ini tentu mengundang perhatian dari sekitar kami yang mendengar suara ribut-ribut tadi, termasuk seseorang lelaki yang menyita perhatianku itu, dia juga melihat kearahku setelah kejadian gaduh tadi. Aku pun sengaja melihat kearahnya setelah kejadian itu, hanya ingin tau apakah ia masih perduli dengan lingkungan sekitarnyamelihat kearahku misalnya. 

Sudah seharusnya aku tahu jawabannya, mungkin memang hanya kebetulan tidak disengaja saja saat ia melihat kearahku kala itu karena kegaduhan yang kubuat. Kalau saja kegaduhan itu tidak terjadi, mungkin ia takkan pernah melihat kearahku. Meskipun sudah tahu hal itu hanya sebuah hal ketidaksengajaan, tetapi tetap saja ada perasaan berdebar yang kurasakan saat ia menatap kearahku. Hah, aku masih saja tersesat dalam tatapannya.

Jumat, 20 Januari 2017

Somethin Missin'

Semarang, 12 Januari 2017


Siang ini pukul 11.31 WIB, saya menerima sebuah pesan melalui whatsapp dari ayah saya. Beliau memberitahu sebuah kabar mengenai surat pindah kerja yang telah ia ajukan enam bulan lalu dan hari ini persetujuan kepindahan tersebut tiba juga dan nama ayah saya tertera disana, yang berarti dalam bulan ini ayah saya akan segera mengemas dan mengirim barang-barang dirumah lama saya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah untuk dikirim ke rumah baru saya di Jawa Tengah.

Jujur saja, saya merasa bingung. Saya bingung harus bahagia karena sebentar lagi keluarga kecil saya akan segera kembali berkumpul atau saya harus sedih karena akan benar-benar meninggalkan comfort zone saya di Pulau Borneo itu yang sudah menjadi bagian dalam hidup saya selama ±15 tahun saya tinggal dan menetap disana. 

Jujur saja, saya cenderung merasa sedih karena saya akan benar-benar pergi dari kota kecil yang menyimpan begitu banyak menyimpan kenangan untuk saya. Terlalu sulit rasanya untuk pergi dari comfort zone. Terlebih, entah mengapa alasan paling kuat yang membuat saya sedih karena harus pindah dari kota itu adalah teman-teman saya. Mereka sudah menjadi bagian terbesar dalam kehidupan saya selama belasan tahun saya tinggal disana. Karena, bisa kalian bayangkan bahwa hari-hari saya selama disana tentu saja diisi dengan bersekolah dan bertemu teman-teman. Sejak pertama kali menginjak bangku sekolah, saya sudah bertemu teman-teman yang menyenangkan dan karena saya tinggal di kota kecil sehingga kemungkinan untuk bertemu orang-orang yang sama pada jenjang pendidikan berikutnya seperti saat SD dan SMP tentu saja sangat berpotensi tinggi. 

Bahkan, ketika SMA saya harus merantau pergi dari kota kecil itu untuk bersekolah di ibukota Jawa Tengah, saya masih merasa sedih karena tidak bisa kembali bersekolah di sekolah yang sama dengan teman-teman lama saya, meskipun setiap liburan semester saya akan selalu menyempatkan untuk kembali pulang kesana dan kembali bertemu teman lama saya.

Tapi, untuk yang satu ini, saya tidak bisa jika tidak menitikkan airmata. Saya merasa meninggalkan sebagian jiwa saya di kota kecil itu bersama kenangan-kenangan lama yang tertinggal disana. Ada perasaan yang mengiris saat tahu saya akan benar-benar pergi dan entah kapan—atau mungkin—saya tidak akan kembali lagi kesana.


Selamat tinggal, kawan! Sampai bertemu lagi saat nanti—mungkin—kita sudah menjadi mahasiswa/mahasiswi atau suatu saat nanti saat kita sudah sukses dan memiliki karier yang bagus, atau mungkin kapanpun itu saat Allah menggariskan kita untuk bertemu, kita pasti akan bertemu.



See you when I see you again ♥