Sabtu, 29 Oktober 2016

Seratus Hari Tanpamu


4 Oktober yang lalu, genap 100 hari Mama berpulang ke Rahmatullah. Hingga hari ini 29 Oktober, memasuki hari ke-125 tanpa kehadiran Mama.

Waktu berjalan begitu cepat didunia, Ma.. entah bagaimana dengan di alam sana. Tetapi semoga, Mama selalu berbahagia hingga hari akhir nanti Mama akan menuai semua kebaikan yang telah Mama tanam didunia dan kebahagiaan itu akan menjadi berlipat-lipat ganda. Aamiin ya Rabbal’alamin.


Tak ada kehilangan yang menyenangkan
Terlebih kehilangan yang tidak akan pernah kembali
Terasa tak adil memang
Tetapi kehilangan itu mengingatkan kita,
Semua yang kita miliki adalah milik Allah,
dan tiada satupun milik kita,
Termasuk diri kita sendiri, kita semua akan kembali kepada-Nya

Jumat, 05 Agustus 2016

Empat Puluh Hari Tanpamu


Suasana hatiku tak lagi baik—sebaik 40 hari yang lalu saat Matahari masih merangkul diriku dengan hangat, membelai rambutku dengan lembut dan senyum yang utuh, dengan raga yang masih terlihat nyata.


Waktu berjalan begitu cepat dengan ego-nya, telah datang hari dimana bahwa hari ini genap 40 hari mama dipanggil Allah, dan akan ada lagi 100 hari, 1000 hari dan tahun-tahun yang akan datang tanpamu, Mama.

Nindy selalu berdoa, semoga Allah mengampuni segala dosa dan perbuatan mama, melindungi mama dari siksa kubur maupun siksa api neraka, Allah gantikan rumah mama didunia dengan rumah yang lebih indah di akhirat, juga mendapatkan tempat paling mulia disisi Allah, di antara orang-orang mukmin yang beriman lagi baik hati dan amalannya, lagi mendapatkan surga Allah kelak.  Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Tenanglah dalam keabadian, semoga kelak Allah mempertemukan kita kembali di surga-Nya.
Aamiin.

Selasa, 26 Juli 2016

Keberartian

Saya teringat dengan sesosok wanita hebat yang belakangan ini selalu membuat saya menangis jika mengingatnya.

Selamat ulang tahun, Mama

Ramadhan tahun ini menjadi bulan—mungkin tahun—yang sangat amat sulit untuk saya. Saya kehilangan seorang ibu, sosok yang paling melekat dihati setiap anak, merupakan belahan jiwa dalam hidup seorang anak. Ya, tentunya ini pukulan yang teramat keras bagi saya—adik laki-laki saya dan juga ayah saya.  Beliau meninggal saat ramadhan hari ke-22 tepatnya tanggal 27 Juni 2016 yang lalu. Beliau meninggal karena sakit, mengidap kanker darah leukimia sejak kurang lebih 1,5 tahun lalu.

Satu lagi, pagi hari tepatnya sehari sebelum hari ulang tahun almarhumah mama, salah seorang teman satu angkatan saya pun meninggal dunia karena kecelakaan. Hal ini banyak menimbulkan kontroversi dan juga saya lihat banyak yang merasa kehilangan dirinya, termasuk saya. Saya memang tidak mengenal dia secara pribadi, karena kami beda kelas, dia di IPS 1 sementara saya di IPA 7. Saya pun merasa kehilangan yang begitu berarti, sebab saya pernah berada dalam satu kelompok atau regu dengan dia sewaktu kemah sekolah untuk kelompok hiking dan selama itu saya tau sekali bahwa ia adalah orang yang sangat baik. Sedikit cerita, sebetulnya regu hiking kami dinilai dengan senior bahwa kami kurang kompak dan sebagainya, sampai-sampai terjadi pergantian ketua regu hingga beberapa kali selama perjalanan hiking karna permintaan dari senior, tetapi saat almarhum dipilih sebagai ketua regu, ia bisa bertahan bahkan hingga hiking selesai, meskipun tak sepenuhnya sempurna menjadi ketua regu tapi saya sangat mengapresiasi atas usahanya dan ia bisa mengatur dan membawa kami—anggota-anggotanya—dengan baik hingga hiking selesai. Hanya sebatas itu saya mengenal dia, tapi saya sangat yakin bahwa ia adalah orang yang sangat baik.

Kejadian itu berhasil mengubah perspektif saya mengenai kematian. Betapa kita semua dekat atau bahkan semakin dekat dengan kematian. Tak perlu menunggu tua atau bahkan sakit untuk sampai pada kematian. Kematian akan datang menghampiri siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Bagaimanapun itu semua adalah takdir, setidak siap apapun hal itu akan datang pada saatnya. Tetapi, apa kalian mau pergi tanpa meninggalkan kesan apapun? Dari kematian ibunda saya dan teman satu angkatan saya itu, saya semakin yakin dengan sebuah pepatah yang selalu saya dengar “orang baik biasanya selalu diambil lebih dahulu”—dan saya belajar bahwa ibunda saya memang bukan seorang ahli ibadah, beliau selalu menjalankan ibadah wajibnya tapi hanya begitu saja, hanya sekedar itu dan memang beliau baru-baru saja menyadari dan menekuni keimanannya itu belakangan sejak ia divonis menderita kanker leukimia, tetapi saya tau persis bagaimana ibunda saya membangun pondasi yang sangat kuat terhadap orang lain dalam hal duniawi.

Begini, beberapa malam yang lalu, om saya—pemilik rumah yang saya tinggali saat SMA ini—dan saya sedang  santai di ruang keluarga, lalu om saya memulai pembicaraan dengan menanyakan bagaimana hari saya, bagaimana suasana hati saya—yang tentunya ia ketahui bahwa perasaan saya masih dalam suasana berkabung—kemudian ia berbicara ngalor ngidul mengenai kehidupan, ia banyak menasehati dan memberi pencerahan pada saya dan sebagainya, sampai pada ketika ia berbicara begini, “Mama mu itu semasa hidupnya sudah menanam ya istilahnya menanam suatu kebaikan pada orang lain dan membuat orang lain itu merasa berhutang budi dan ketika mereka bisa membayar, meraka akan membayarnya dengan kebaikan pula, tetapi sekarang mama mu sudah tidak ada dan masih ada orang lain yang masih merasa berhutang budi pada mama mu dan mereka masih ingin membayar kebaikan tersebut dengan cara melalui kamu, nin. Nah suatu saat ada masanya orang-orang tadi akan merasa sudah cukup membalaskan budi mereka, sementara kamu sendiri mungkin masih memerlukan bantuan dan kebaikan dari mereka, kamu harus bisa menanam milikmu sendiri pada orang-orang itu agar hubungan tadi terus berlanjut dan nantinya mereka juga akan membalas kebaikanmu kok, tetapi benar-benar untuk diri kamu sendiri, bukan lagi hasil tanaman mama mu yang disalurkan lewat kamu. Itu sudah hukum alam kok.” Intinya seperti itu. Saya tau kalian pasti sulit memahami ini, tetapi saya merasa bahwa ungkapan itu sangat jelas dan memang benar. Terlepas benar tidaknya, saya lumayan setuju, walaupun hal ini masih bersifat duniawi.

Saya telah membuktikan hal itu saat kehilangan ibunda saya. Saya melihat banyak sekali orang yang datang mengucapkan belasungkawa melalui sms atau media sosial, bahkan banyak dari rekan-rekan ibunda saya yang mengirimkan karangan bunga ke rumah duka—rumah kakek nenek saya dikota kelahiran saya dan almarhumah. Saya tau sekali bagaimana ibunda saya dengan orang tuanya, saudaranya, keluarganya, teman-temannya, atasannya, tetangga, dan lainnya. Mereka semua turut sedih atas kepergian sosoknya, banyak yang menyayangkan atas kepergiannya yang begitu cepat di usianya yang dapat dibilang masih muda. Tetapi, takdir telah ditetapkan dan ketika itu ia tak bisa lagi menetap.


Sekali lagi, “Selamat Ulang Tahun, Mama”

Sabtu, 30 April 2016

Sepayung Berdua Denganmu


Project Collaboration Writing by Rifky Adina Irawan & (me) Iyasa Nindyaningrum


                “ Hujan...” Gumam Neta pelan diulurkannya tangannya kedepan merasakan buliran-buliran air yang membasahi tangannya. Mengetahui tak dapat melakukan apa-apa Neta hanya bisa terdiam menunggu dan berharap hujan segera usai. Samar-samar terlihat bayang seseorang menembus hujan tentu saja dengan payung merah polos seperti biasanya. Tanpa sadar seulas senyum tipis menghiasi wajah mulus Neta. Ya lelaki bermata coklat bulat itu selalu saja menjemputnya ketika hari sedang hujan dan menghilang begitu saja ketika hari sedang cerah. Neta bahkan tak tahu nama pria itu dan sebaliknya  juga. Ia bahkan tak mencoba mencari tahu nama pria itu. Neta hanya menginginkan apapun tentangnya langsung dari mulut pria itu sendiri. Kejadian ini pun berlangsung begitu saja secara natural.

“ Hai...”

“ Hai...”

“ Ayo biar kuantar kamu pulang” Ucap pria itu dan dibalas dengan anggukan Neta.

                Entah apa yang ada dipikiran Neta, ia tak pernah mengetahui mengapa ia tak takut akan bahaya yang akan terjadi kapan saja bersama pria yang bahkan ia tidak ketahui namanya. Ia selalu merasa nyaman dan ia percaya lelaki ini tak kan menyakitinya dan pikiran bodohnya tentang pria itupun tak meleset sedikitpun.

“ Kamu tahu? Sebelumnya aku sudah pernah berpacaran, kukira kami akan mencapai jenjang yang lebih serius tetapi setelah kutahu ternyata dia selingkuh dengan sahabatku. Hubungan kami hilang begitu saja. Menyakitkan memang tapi kurasa itu memang salahku; tak mempunyai waktu untuknya tapi itu juga yang membuatku tak berani lagi dengan hal-hal berbau cinta. Aneh bukan?” Neta mengarahkan kepalanya kesamping kirinya memastikan apa yang didengarnya dengan baik. Ia selalu menyukai pria itu berbicara, suara yang sangat menenangkan. Saat-saat seperti ini yang disukainya, saat-saat dimana pria itu berbicara tentang pengalamannya. Neta tak selalu menyauti kata pria itu dan sepertinya pria itu mengerti dengan sifat yang dimiliki oleh Neta.

“ Akhir-akhir ini aku mulai ragu dengan pendapatku itu. Entah bersama wanita itu aku selalu merasa yakin tapi aku tak mengerti harus bagaimana. Mengingat sifatnya yang serba tak peduli itu membuat nyaliku ciut begitu saja. Kuharap aku dapat mengatakannya padanya.”

“ Ah, kita sampai,” Pria itu membukakan pintu mobilnya untuk Neta. Neta sedikit merasa kecewa berpayung dengannya harus selesai secepat ini. Ia berharap mobilnya dapat menjauh dengan sendirinya, mungkin sejauh ujung kulon lebih baik. Neta selalu merasa tertarik akan keberadan pria ini, ya hanya tertarik. Tetapi kenapa ketika pria itu berkata tentang wanita yang -dapat membuatnya mengerti cinta lagi- baru saja dikatakan olehnya membuat ulu hati Neta merasa nyeri. Ia hanya dapat memegang dan menekan untuk menetralisirkan perasaan itu. “Demi tuhan, penyakit apa ini?”Batinnya.

***

Neta POV

                Pria disampingku –yang kini tengah menyetir- ini tak pernah sedikitpun membuatku merasa jengah. Mata bulat berwarna hazel itu juga sangat menawan, terlalu menawan. Hidungnya yang mancung dan kulit putih ditambah dengan tampangnya yang maskulin dan rahangnya yang tegas. Aku tak pernah peduli tentang penampilan orang-orang disekitarku minus untuk orang tuaku, Deo –adik lelakiku-, Audy –satu-satunya sahabatku- dan... pria ini. Aku suka ketika ia memakai baju kemeja putih polos dan celana jeans panjang yang membuatnya seperti orang kantoran atau mungkin dia memang sudah berkerja? Mengingat aku tak pernah tahu sedikitpun tentangnya. Sayang ketika ia memakai baju itu, tubuhnya harus kebasahan karna ya dia selalu datang hanya saat hujan. Tetapi basahan itu jugapun memperlihatkan bagian lengannya yang sedikit berotot.

“Bagaimana harimu?” ucapnya yang membuat pikiranku membuyar.

“Seperti biasa, tidak buruk dan tidak juga baik.”

Hanya 2 kata tetapi sangat penuh makna. Kata yang selalu ia tanyakan padaku yang selalu kujawab dengan jawaban sekenanya dan berakhir dengan senyuman sepihaknya. “Hariku tak pernah baik-baik saja jika tak ada-mu” kata-kata yang telah kususun dengan rapi itu selalu saja tertahan dimulutku, tak berani keluar.

“Apa kamu sudah makan? Atau kamu sedang lapar sekarang?”

“Tidak, aku sudah makan soto ayam tadi. Terima kasih.”

“Oh baiklah.”

“Tapi kurasa jika kamu lapar, aku akan menemanimu.”

“Kamu yakin?”

“Hmm...”

***

Neta POV

Suara gemuruh disertai kilat halilintar terdengar jelas dari jendela kaca di belakangku. Aku mengambil sedikit langkah mundur untuk menghindari kilatan-kilatan itu. Sudah setengah jam aku terjebak di sebuah minimarket dekat kampus, niat awal ingin segera pulang kerumah dengan berjalan kaki sampai halte untuk naik bus kota, tetapi hujan tiba-tiba saja datang menerpa dengan kasar bahkan sebelum aku sampai di halte.

Sekarang aku harus memutar otak bagaimana caranya aku bisa sampai di halte yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari minimarket ini tanpa harus kebasahan. Sedangkan, aku tak membawa payung atau apapun yang bisa melindungiku dari terpaan hujan saat ini. Ya, aku selalu begini, lupa membawa payung.

Tapi, setelah ku pikir berulang kali, aku takkan bisa pulang kalau harus menunggu hujan hingga reda. Hujan semacam ini bisa dipastikan akan bertahan lama. Aku pun membulatkan tekad untuk menerobos hujan untuk bisa sampai ke halte dan aku bisa pulang dengan naik bus. Aku mulai memasukkan semua buku-buku tebal yang tadinya aku pegang untuk dimasukkan dalam tas agar tidak basah. Dengan cepat aku berlari menembus hujan, aku bahkan tak perduli lagi dengan flatshoes tosca-ku yang sekarang basah terkena genangan air hujan dan kemeja abu-abu ku yang sudah basah terkena tetesan hujan. Hari yang sial, batinku.

Tapi tidak  juga setelah aku merasakan tetesan hujan tak lagi membasahi tubuhku, aku menengadah dan melihat payung lipat merah polos yang sebenernya tidak untuk dua orang itu tengah memayungi diriku. Aku berhenti melangkah, kulihat sosok yang memegang payung merah itu dan lagi-lagi lelaki itu lagi; lelaki yang selalu datang ketika hujan.

“Hai,” sapa lelaki itu dengan sebuah senyuman hangatnya.

Aku justru terdiam karena tersihir oleh pesonanya. Rambutnya sedikit basah akibat percikan hujan dan bulir-bulir air kecil terlihat disekitaran wajahnya yang bisa kulihat dengan jelas pada jarak sedekat ini dan itu menampakkan kesan menawan.

“Kalau aku ketemu kamu pasti sedang hujan”

“Bukannya kebalik ya? Setiap kali turun hujan, aku selalu ketemu kamu”

Kami berdua justru membicarakan hal tak penting semacam ini dipinggir trotoar dengan payung merah yang tak seharusnya untuk dua orang ini, sehingga kami harus tetap menjaga jarak terdekat kami agar tak terkena hujan.

“Aku cariin kamu ke halte yang biasanya tapi kamu nggak ada, untung aja aku lewat sini terus lihat kamu ada disini,” Lelaki itu berbicara lagi, aku masih terpaku menatap dirinya sambil mencerna perkataannya.

Apa maksud ucapannya adalah ia datang dengan menjadikanku tujuan utamanya disaat hujan lebat seperti ini? Apa ia selalu begini?

“Untuk apa kamu mencariku?” pertanyaan itu terus saja berputar-putar di kepalaku dan baru kali ini aku berhasil menanyakan hal itu padanya.

Ia terlihat berfikir sebentar namun dengan pasti ia menjawab dengan lembut,“Karena kamu selalu lupa untuk bawa payung disaat musim hujan seperti ini. Karena itu, aku akan selalu menemukanmu tiap hujan turun.”

Mengapa itu terdengar seperti sebuah janji?

“Hujannya makin deras. Kau yakin mau tetap berdiri disini dan terus-terusan mengajakku berdebat?” ucap lelaki itu berbicara dengan suara yang sengaja ia keraskan karena suara hujan yang deras, tapi suaranya tetap saja terdengar lembut dan menenangkan. 

Setelah itu, aku mengikutinya menuju mobil miliknya yang ia parkir dipinggir jalan tak jauh dari tempat kami berdiri. Didalam mobil pun tak ada satupun diantara kami yang berbicara. Kami justru sibuk dengan pikiran masing-masing, lelaki itu juga fokus pada kegiatan menyetirnya hingga sebuah suara aneh terdengar sedikit nyaring, setidaknya lelaki disampingku ini dapat mendengarnya dengan jelas.

“Kamu lapar?” tanya lelaki itu setelah mendengar suara aneh itu berasal dari suara perutku yang kelaparan.

Aku mengangguk sambil berusaha menahan malu karna kepergok mengeluarkan suara-suara aneh yang berasal dari perutku itu. Aish!

Ia tersenyum, “Kenapa kamu nggak bilang daritadi? Ayo aku antar ke tempat makan favoritku!”

Aku hanya diam, melihatku yang sedikit ragu, ia kembali berbicara, “Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan menemanimu makan jika kau lapar?”

Kali ini apa lagi? Mengapa ini terdengar seperti sebuah janji yang ia tepati?

***

Hujan masih turun dengan deras, membuat kaca pada jendela besar disamping kananku ini berembun dan terlihat buliran-buliran air hujan turun membasahi jendela kaca itu. Lelaki itu duduk dihadapanku, ia terus memandangku seolah aku ini lukisan abstrak yang tak terbaca, sementara diriku menetralisir rasa gugupku, aku terus memandang kearah jendela kaca disebelahku sambil sesekali menyuapkan soto ayam milikku.

“Kau tidak makan? Bukannya kau bilang ini tempat makan favoritmu? Lalu kenapa kau tidak makan?” tanyaku berusaha memecah keheningan.

“Kau suka sekali makan soto ayam ya?” lelaki itu justru balik bertanya.

“Ya, aku sangat suka makan soto ayam apalagi disaat hujan seperti ini. Menurutku ini lebih baik dari segelas teh panas saat hujan.”

Lelaki itu mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Hey, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau tidak makan sementara kau bilang ini tempat favoritmu?” aku kembali menyuarakan pertanyaan yang membuatku penasaran sejak tadi. Karna lelaki itu hanya memandangku saja sementara ia tak memesan makanan atau bahkan minuman.

“Bukankah memang sejak awal aku mengatakan akan menemanimu makan? Jadi aku tak ikut makan, lagipula aku tak suka soto ayam.”

“Lalu bagaimana bisa tempat makan yang hanya menjual soto ayam ini menjadi tempat favoritmu? Kau bahkan tak memesan minuman atau apapun selain soto.”

“Aku menyukai tempat ini karena ini adalah tempat dimana pertama kali kita bertemu, kau masih ingat?” ucapnya dengan sorot mata berbinar.

Aku terpaku, tapi dalam hati aku membenarkan perkataan lelaki itu. Ya, aku ingat, memang tempat ini adalah tempat pertemuan pertamaku dengannya. Kala itu, aku sedang makan malam dirumah makan itu hingga larut, aku terjebak hujan ditempat itu hingga rumah makan itu hampir tutup dan aku memilih menunggu diteras rumah makan sambil berharap hujan akan segera reda dan sepertinya Tuhan mengabulkan doaku dengan cara lain, seorang lelaki datang dengan payung lipat berwarna merah dari dalam rumah makan itu, ia melihat kearahku sebentar, lalu memberikan payung lipatnya padaku dan ia berlari menembus hujan untuk masuk kedalam mobil yang terparkir di rumah makan itu. Lalu, pada hujan berikutnya ketika aku ingin mengembalikan payung merah itu padanya, hujan turun sangat lebat dan berakhir dengan menggunakan payung itu berdua untuk melindungi dari terpaan hujan dan hal itu terus saja terjadi seperti sebuah rutinitas setiap kali hujan turun, ia akan selalu datang.

“Apa kau percaya cinta pada pandangan pertama?”

Aku hanya diam. Tak mengerti dengan maksud pembicaraanya.

“Atau pernahkah kau mendengar tentang seorang pria hanya membutuhkan waktu 8,2 detik untuk jatuh cinta?”

Apa yang sedang ia bicarakan?

“Hal itulah yang aku yakini saat ini. Sejak pertama kali kita bertemu, saat di tempat ini aku melihatmu seorang diri tanpa perlindungan ditengah hujan, saat aku menatapmu hari itulah aku benar-benar telah percaya akan hal-hal tabu semacam ini, aku telah jatuh cinta padamu saat detik ke-8 aku menatapmu,” ia berbicara dengan nada tenang dan lembut seperti biasanya, tapi aku bisa melihat ketulusan dan kesungguhan pada ucapannya. Aku rasa ia tidak sedang berbohong.

“Tapi, kita bahkan tak saling kenal, mengetahui nama saja tidak. Bagaimana mungkin kau jatuh cinta padaku?”

Lelaki itu tersenyum singkat, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak beludru berwarna merah berada di telapak tangannya, ia membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah cincin platinum berwarna perak,“Kalau begitu izinkan aku mengenalmu.”

Apakah ia baru saja mengajakku berkenalan atau sedang melamarku?

***
                

Sabtu, 09 April 2016

Dilema




Disini aku berdiri tegap
Dengan sebuah rasa yang tak dianggap
Haruskah aku berhenti berharap?
Sementara kau menjeratku dalam tatap
Membawaku dalam dekap
Membuatku betah untuk menetap
Tetapi aku belum siap
Bila harus kehilangan sang pelengkap
Dalam dunia yang gelap

Sekarang aku menerka-nerka
Apakah ini yang namanya terluka?
Mengetahui hanya dia yang kau suka
Dia yang tak ku sangka
Hadir sebagai petaka

Untuk apa aku terus melangkah
Kalau hanya membuat lelah
Aku bahkan sudah kalah
Dengan dia yang lebih indah
Yang memiliki senyum cerah
Yang hidup tanpa celah

Tapi waktu terus berjalan
Memberi sebuah pilihan
Tetap berada pada kesedihan
Atau berburu kebahagiaan
Dari debu-debu kehidupan

Karya: Iyasa N

Sabtu, 12 Maret 2016

Keliru

Semarang, 24 Februari 2016


Berjalan; sudah menjadi kebiasaanku selama aku resmi menjadi siswi menengah atas di kota Semarang.

Hari ini, tidak seperti biasanya, aku pulang terlambat hingga hampir gelap, karena ada pelaksanaan sidang yang harus segera kami—aku dan teman-teman kelasku—selesaikan.

Aku berjalan dengan lemah; dengan sisa energi yang ku punya. Tetapi, tiba-tiba saja aku merasa sisa energi ku itu berkurang secara drastis, ketika aku dan kau berpapasan di jalan menuju gerbang sekolah, dan yang membuatku merasa semakin lemah adalah ketika kau melewatiku begitu saja dengan motor-mu itu tanpa perlu repot-repot kau menoleh kearahku atau bahkan melihat kearahku sedetik saja, tak kau lakukan. Padahal, yang aku tau, saat itu lingkungan sekolah sedang sepi, karena hari hampir senja, aku rasa sangat tidak mungkin jika kau tak melihatku saat itu.

Aku tersenyum miris, berdecak kagum melihat dirimu yang sekarang, yang berada di atas awan, yang tak sudi lagi melihat diriku ini. Hebat! Kau melakukannya dengan sangat rapi; menutup-nutupi semua yang pernah terjadi di antara kita, kau bahkan berpura-pura tak mengenalku. Mungkin seharusnya kau memenangkan penghargaan piala bergengsi sebagai aktor dengan peran terbaik. Seharusnya.

Jalan yang ku tapaki tak pernah terasa seberat ini. Aku memaksakan kedua kaki-ku untuk tetap terus melangkah, hingga suara motor yang ku kenali terdengar semakin mendekat kearahku.

“Yas,” sebuah suara bass khas lelaki itu terdengar menyapaku, aku otomatis menoleh dan berakhir dengan membeku melihat siapa yang ada di hadapanku ini; lelaki yang baru saja ku lihat melewatiku di dekat gerbang sekolah.

“Kamu baru mau pulang? Aku antar ya,” tawarnya.

Aku menggeleng cepat, “Nggak usah, udah deket kok.”

“Nggak apa-apa, memangnya kamu nggak capek apa habis seharian sekolah masih harus jalan kaki kerumah?”

“Nggak, aku bisa pulang sendiri,” aku menolak, meneruskan langkahku, tetapi ia justru menghalangi jalanku dengan motornya yang ia hentikan tepat di depan kaki-ku.

“Udahlah biar aku antar, ayo naik,” ia menepuk jok belakang motornya, memberi isyarat agar aku naik pada motornya.

Aku mengalah, aku memilih ikut dengannya.

        Saat hendak berjalan menaiki bangku belakang motornya, tiba-tiba saja pergelangan kaki kanan ku terasa nyeri, “awww,” rintihku pelan. Aku menengok kebawah, ah, ya ampun aku baru saja menginjak batu besar dan tergelincir. Hampir saja kaki kanan-ku keseleo untuk yang kedua kalinya; karena sebelumnya aku pernah keseleo ketika masih SD.

            Beruntung aku tak jatuh setelah menginjak batu berukuran cukup besar itu, aku menoleh ke sekeliling, tak ada siapapun, tak ada lelaki itu, yang ada hanya sedikit motor dan mobil yang berlalu lalang di gang kecil menuju rumah saat itu. Lelaki itu tidak ada, aku tidak sedang berada di atas motornya, ia tidak sedang mengantarku pulang kerumah, aku masih berada dijalan itu berdiri tegak dengan kedua kaki-ku. Sepertinya aku terlalu lelah, ditambah lagi pertemuan tak disengaja saat berpapasan dengan lelaki itu sebelumnya membuat energi-ku benar-benar tak bersisa. Aku rasa itu hanya ilusi-ku saja.

           Aku meneruskan langkahku, berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang, entah mengapa aku masih tak percaya bahwa ini hanya ilusi, hanya khayalan-ku saja.

Minggu, 07 Februari 2016

Pilihan

Selamat malam!

Well, gue balik dengan artikel terbaru gue ini dengan tampilan yang berbeda. Ya, for the first time akhirnya gue bikin artikel secamam ini, masih semacam cerita tentang kehidupan pribadi gue yang biasa aja sebenernya tapi suka gue lebay-lebay-in sejujurnya, but kali ini gue mau curhatan kali ini lebih santai, so gue buat artikel dengan bahasa yang sedikit aneh menurut gue karna jujur aja gue belum terbiasa pake bahasa ‘gue-lo’ semacam ini, jadi maklumin aja kalo emang jatohnya jadi absurd.

Oh iya satu lagi, gue mau terima kasih sama sepupu gue yang di Jakarta, terimakasih karna blognya dia banyak banget menginspirasi gue dalam dunia blogging, salah satunya buat artikel semacam ini. Maaf gue selalu stalking blognya dan jadi followers yang sengaja gue private biar gak ketahuan, soalnya kalo ketahuan gue yakin dia malu dan mungkin dia nggak bakal ngeblogging lagi [sumpah gue pede banget]. Thank you, mbak!

***
       
Jadi tiga hari yang lalu, ketika itu di sekolah lagi pelajaran seni budaya dan semua seisi kelas lagi sibuk dengan gambarannya masing-masing, ya kita lagi ngegambar perspektif bangunan dengan satu titik lenyap. Buat bisa gambar perspektif bener-bener perlu ketelitian dan kesabaran, karna salah ngegaris sedikit aja bisa berdampak buruk sama seluruh gambaran lo [cukup lo tau aja sih]. Sebenernya ini bukan masalah gambarannya sih, jadi ketika itu kelas sedikit sunyi karna pada sibuk ngegambar. Gue sama temen sebangku gue pun sibuk ngegambar, gue duduk sama dia udah lama banget sejak hari kedua awal masuk SMA kelas 10 dan sampe sekarang di semester 2 ini [cuma mau kasih tau aja sih].

Jadi, gue sama temen sebangku gue itu sibuk sendiri-sendiri ngegambar, suasananya bener-bener hening dan tiba-tiba dia nyeletuk gini, “Yas, kalo disuruh milih, kamu bakalan milih temen-temen sekelasmu dulu pas kelas 9 atau temen sekelas yang sekarang?,” sambil masih fokus ngegambar. Gue diem sebentar, bingung dia ngomong apa, jujur aja gue gak denger begitu jelas, gue tanya ulang ke dia. Setelah dia ulangi, gue bener-bener mutar otak buat ngejawab, jujur aja gue bingung mau jawab apa, engga tau kenapa gue takut salah jawab sumpah.

Gue berhenti ngegambar, gue ngelihat kearah dia, “Kalo aku mending kelas yang sekarang,” well, itu yang keluar begitu aja dari mulut gue hasil dari pemikiran singkat gue itu.

Dia juga berhenti ngegambar, “Kalo aku milih kelas 9 yang dulu, kalo aku bisa, aku mau balik kelas 9 lagi,” WOW! Itu jawaban paling mencengangkan buat gue. Ya ini bener-bener bertentangan banget sama jawaban gue, right?

Lalu, gue tanya ‘kenapa?’, dia bilang bahwa temen-temen sekelasnya dia ketika dia kelas 9 SMP itu sangat-sangat solid, mereka sangat kompak, apapun permasalahan kelas, atau misalnya ketika ada tugas mereka akan membuat kesepakatan mau ngerjain atau engga, kalo satu orang bilang engga, ya semua engga akan ngerjain. Tapi, ketika mereka bener-bener niat ngerjain tugasnya, mereka akan bagi-bagi tugas, sebagian orang ngerjain tugas yang ini, sebagian lagi ngerjain yang lain. Dan begitu juga dengan kenakalan mereka, ketika satu orang ngajak cabut/bolos kelas, mereka akan cabut sekelasan jadi kalo mereka dipanggil guru BP karna bolos ya udah ditanggung bareng-bareng kesalahannya. Wow! Gue bener-bener kaget banget dengerin penjelasan dia, segitu solidnya kelas dia dulu. Wajar aja sih kalo dia emang milih temen-temen kelasnya yang dulu ketimbang yang sekarang.

Berbanding terbalik dengan gue, gue juga langsung ceritain alasan kenapa gue memilih temen-temen kelas yang sekarang. Jadi, gue rasa temen-temen kelas 9 gue dulu itu individualisme. Semuanya egois, semuanya mau menang sendiri, gue rasa mereka semua sudah hebat-hebat jadi ngga perlu bantuan orang lain bahkan ngga mau nolong orang lain sekalipun itu temen satu kelas sendiri. Gue cerita gini, pas SMP dari kelas 8-9 gue ada di kelas A yang berarti kelas unggulan, isinya semua anak-anak pinter dari berbagai kelas yang udah diseleksi tentunya. Seperti yang gue bilang, kebanykan dari mereka itu selfish. Sampe gue kelas 9, memang ada rolling kelas lagi, tapi kebanyakan dari mereka berhasil bertahan dikelas A, bisa dibilang 95% isinya adalah orang-orang lama di kelas 8 sebelumnya, sisanya mereka orang-orang baru yang terpilih. Dan gue rasa, sifat selfish itu tadi udah nular juga ke temen-temen yang baru gabung di A. Intinya, semua individualisme. Dan gue rasa, hal itu juga sedikit menular ke diri gue.

Beda banget sama temen-temen sekelas yang gue temuin sekarang di SMA, gue ngerasa ini kelas beda dari kelas-kelas yang udah pernah gue temuin. Kita solid tapi nggak cuma satu kelas, kita juga selalu diajarin buat jaga kekompakan satu angkatan. Itu semua udah bener-bener biasa banget dan melekat sama diri kita. Kita dapet pembelajaran itu dari kakak-kakak kelas kita, yang tiap kemah atau kegiatan sekolah lainnya, kita bener-bener ditanamin buat jaga kekompakan satu angkatan. Man, ini bener-bener sesuatu yang belum pernah gue dapetin semenjak gue masuk bangku sekolah.

Temen-temen SMA gue solid walaupun nggak se-solid temen-temen SMP-nya dia. Tapi seenggaknya ini sedikit lebih baik, yah walaupun emang masih ada segelintir orang yang masih selfish nggak mau ngasih contek-an ketika ulangan, yang nggak mau membenarkan jawaban ketika ada yang tanya di grup chat, yang nggak mau bantuin jawab ketika ada tugas, ya tapi itu juga hanya sedikit kok, aku sih paham aja.

Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, mungkin secara solid dan enggaknya mungkin masih menang temen-temen SMA gue yang sekarang, yang akan terus satu kelas dan bareng-bareng selama 3 tahun, partner lulus bareng-bareng. Tapi, secara personal mungkin gue prefer sama temen-temen SMP gue, mungkin itu juga karena kebanyakan dari mereka ada yang udah gue kenal dari lama, jadi bener-bener udah nyatu sama gue. Gue udah tau gimana karakter dan sifat mereka, begitupula sebaliknya. Dalam tanda kutip, gue bener-bener sudah akrab dan mengenal mereka. Sedangkan, temen-temen SMA kan baru aja kenal jadi mungkin gue belum memahami karakter mereka sepenuhnya satu per satu.

Kesimpulannya, setiap orang punya jawabannya sendiri untuk memilih pilihannya. Ada yang ingin kembali ke masa lalu, ada yang ingin menghentikan masa sekarang, atau ada pula yang menginginkan masa mendatang yang ia tak pernah tau jalan ceritanya. Dan satu lagi, setiap orang punya caranya sendiri-sendiri untuk bisa beradaptasi pada sekumpulan orang hingga menjadi tim yang solid. Semuanya berawal dari diri masing-masing.

note : nggak bermaksud rasis ataupun membeda-bedakan, ini cuma sekedar cuhatan biasa kok. so, buat temen-temen saya yang baca siapapun mohon untuk tidak tersinggung apalagi menaruh dendam dan sakit hati pada saya. saya minta maaf yang sebesar-besarnya ini semua murni curahan hati saya


Semarang, 5 Februari 2016
22:13 PM

Rabu, 03 Februari 2016

Bahagia

Suasana hati; datar
Cuaca; cerah

Aku bukanlah si tokoh utama dalam cerita ini. Aku hanya seorang penonton; penikmat cerita-cerita klise nan romantis seperti ini.


Ini adalah kisah cerita cinta yang bisa dibilang cinta sepihak. Keduanya adalah teman satu angkatanku sejak SMP hingga saat ini satu perguruan tinggi. 

Si lelaki terkenal sebagai 'troublemaker' saat SMP, ia sering membolos, melanggar peraturan, berbuat semaunya sendiri sampai ia bertemu seseorang yang mampu mengalihkan dunianya, satu-satunya perempuan yang mampu merubah kehidupannya, ya lelaki itu menyebutnya sebagai cinta pertama-nya. 

Tunggu, coba bayangkan apa yang sedang kulihat.


Lihat. Perempuan yang sedang berjalan dengan beberapa buku berukuran tebal dalam dekapannya itu bernama Fellice. Sejak SMP ia terkenal sebagai perempuan paling cantik di angkatanku. Bahkan saat ini, ia semakin populer di kampus, entah karena semakin dewasa atau bagaimana ia terlihat semakin cantik dengan makeup soft yang biasa ia sapukan pada wajahnya, ditambah lagi ia selalu berpakaian modis dan menjadi sorotan fashion di kampus, ditambah lagi ia sangat pintar. Kurang apa lagi? Bisa dibilang dia sangat sempurna, tapi tidak ada yang benar-benar sempurna, bukan? Aku rasa hanya ada satu kekurangannya, ia tidak pandai bergaul dengan siapapun.

Lalu, mari kita lihat dari arah belakang perempuan itu, dimana ada seorang lelaki berwajah dingin berjalan dengan langkah lebar dari arah aula kecil kampus. Lelaki itu memakai celana jeans berwarna dongker dengan setelan kemeja kotak-kotak berwarna hitam-abu dan tas ransel yang hanya di selempangkan pada satu lengan kanannya, sementara tangan kirinya memegang jas almamater kampus yang berwarna hitam.

Tunggu. Lelaki itu semakin memperlebar langkahnya. Sementara, Fellice berjalan dengan sangat lambat sembari mengecek buku-buku yang ada di tangannya. Namun, tiba-tiba Fellice terhenti. Sepertinya, ia melupakan sesuatu. Ia pun membalikkan badan berniat berbalik ke perpustakaan. Sepertinya, ada satu buku yang ia lupa untuk ia bawa.

Ah, ya, aku tahu adegan ini.

Koridor kampus sedang sepi karena waktu masih menunjukkan pukul 06.35 pagi, tentunya ini masih terlalu pagi untuk para mahasiswa berangkat ke kampus.

Fellice membalikkan badan, baru saja ia hendak melangkah maju. Tapi, seseorang bertubuh tegap itu sudah berdiri tepat di hadapannya. Dan benar seperti dugaanku, tabrakan itu pun tak dapat terelakkan lagi.

Braaak!, suara buku-buku dalam dekapan Fellice itu jatuh membentur lantai hingga menimbulkan suara hentakan.

Dengan sigap, lelaki itu berjongkok dan memunguti buku-buku itu. Begitupun dengan Fellice. lelaki itu masih sibuk mengambil buku-buku itu, sementara fokus Fellice justru tertuju pada nama dada di jas almamater milik lelaki itu yang disampirkan pada lengan kirinya. Disana tertulis Devan Mahendra.

Lelaki itu menyodorkan buku-buku itu pada Fellice, “Maaf, aku nggak sengaja,” lalu ia berdiri.

Ah sial, aku sedikit kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Biasanya dalam adegan tabrakan seperti ini, saat keduanya sedang memungut buku-buku itu jemari-jemari mereka akan bersentuhan dan akan menimbulkan reaksi adegan saling tatap. Tapi kenapa dengan adegan ini tidak?

Fellice pun berdiri, menerima buku-buku itu, “Ah iya, nggak apa-apa.”

Tanpa ekspresi apapun, lelaki itu pergi.

“Kamu, Devan Mahendra?” teriak Fellice spontan membuat langkah lelaki itu terhenti.


Lelaki itu memutar tubuhnya, memandang kearah Fellice seolah menunggu ucapan Fellice berikutnya.


Fellice merasa terintimidasi, "Kamu benar Devan Mahendra, kan?" ia berusaha mengontrol nada bicaranya agar tak terdengar gugup.


Lagi-lagi lelaki itu tak menjawab, ia masih memandang Fellice begitu intens.


"Apa kamu mengenalku?" tanya Fellice lagi.


"Siapa yang tidak mengenal perempuan populer sepertimu?" timpal Devan.


"Tapi, apa aku mengenalmu?"

Devan hanya mengangkat kedua bahunya.

“Hh, coba kau ingat-ingat lagi, Fel. Kalau kau sudah ingat, beritahu aku,” Devan menepuk bahu kiri Fellice dua kali tepukkan, lalu pergi begitu saja meninggalkan Fellice yang masih tercengang.

Aku yakin, sentuhan kecil dari lelaki itu bagai sengatan yang mematikan dan itu sangat berbahaya sekali untuk jantung Fellice—menimbulkan detakan hebat.

Lelaki itu baru berjalan beberapa langkah, tubuhnya masih dapat terlihat di koridor.

Fellice berteriak, “HEY! TERIMAKASIH YA BANTUANNYA KEMARIN” 

Devan memutar badan dan tersenyum tipis; berharap perempuan itu tidak melihatnya. Ia lalu memutar tubuhnya dan melanjutkan langkahnya hingga dirinya tak lagi terlihat di koridor. Begitu pula dengan Fellice, berjalan kearah dimana lelaki itu tadi datang; ke perpustakaan untuk mengambil bukunya yang tertinggal disana.

Fellice mendekap buku-bukunya dengan erat, menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum. Entah mengapa, ia begitu bahagia.

Minggu, 24 Januari 2016

The Man


Rabu, 20 Januari 2016 

Hari ini adalah hari dimana aku melihat dirimu sebagai seorang laki-laki bukan sebagai teman satu kelas seperti biasanya. Hal ini berawal hanya karena mimpi semalam yang entah kenapa mimpi itu bisa membuat jantungku berdetak hebat ketika aku terbangun dan masih terus memutar kejadian-kejadian di mimpi itu hingga seharian.

Mulanya, tepat kemarin hari Selasa 19 Januari, aku beraktivitas disekolah seperti biasa hingga saat pulang sekolah, aku pulang bersama teman sebangku-ku, aku meminta dia mengantarku sampai depan gang dari jalan raya menuju rumahku. Saat itu aku dibonceng dengan posisi miring, saat keluar dari lingkungan sekolah, aku melihatmu dan kau pun melihat kearahku, saat itu kau sedang berjalan menuju halte bus trans yang akan kau naiki untuk bisa sampai dirumahmu. Saat mata kita bertemu itu, aku ingin menyapamu hanya untuk sekedar mengucapkan ‘aku duluan ya’, tetapi kuurungkan karena setelah kuingat lagi, kita tak begitu akrab, saling berbicara saja tak pernah. Jadi, kuputuskan untuk berlalu begitu saja sambil memandangmu.

Lalu malamnya, entah tak seperti biasanya aku tak bisa tidur. Saat waktu menunjukkan pukul 22.00 aku semakin gelisah karena tak bisa tidur, padahal biasanya saat masih hari sekolah aku akan tidur lebih awal untuk menghindari bangun kesiangan di pagi harinya. Hampir semalam aku terjaga, namun berakhir dengan tertidur sendirinya seiring dengan aku terus memejamkan mata.

Hingga ketika aku tertidur itu aku bermimpi, mimpinya saat itu aku berada di kota asalku di Pangkalanbun, saat itu aku ingin pergi kerumah salah seorang sahabatku, namun saat diperjalanan aku melihat awan menghitam yang itu berarti pertanda akan segera turun hujan lebat, segera aku berputar balik kembali kerumah, namun belum sampai kerumah tiba-tiba hujan deras terjadi begitu hebat, aku memilih untuk berteduh disalah satu warung dipinggir jalan, disitu ada dirimu yang sedang duduk-duduk yang sepertinya juga sedang berteduh menunggu hujan reda.

Awalnya, kita hanya saling menatap, namun lama kelamaan aku mulai merasakan hawa dingin menyeruak masuk dalam tubuhku, hingga aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku untuk memberi kesan hangat. Tapi, kamu mencoba mendekat kearahku dan langsung menggenggam kedua tanganku dan mendekatkannya pada bibirmu, kau pun meniup-niupkan dan menghembuskan nafasmu pada telapak tanganku, aku bisa merasakan kehangatan itu.

Hanya itu yang kuingat dalam mimpiku, kalian tau sendiri kan bahwa manusia tidak dapat mengingat mimpinya sendiri setelah 10 menit ia terbangun dari tidurnya. Satu lagi yang masih menimbulkan tanda tanya dalam diriku, apakah kalian pernah dengar jika seseorang merasa terjaga pada malam hari saat ia akan tidur, itu berarti ada seseorang diluar sana yang sedang memikirkanmu. Lalu pertanyaanku sekarang, apa mungkin kamu sedang memikirkanku saat itu? Hingga membuatku terjaga dan memimpikan dirimu? Padahal, kita bahkan tak pernah bercengkerama sekalipun, melihat satu sama lain pun bisa dibilang tak pernah.

Tetapi, paginya ketika aku baru sampai kelas, aku bisa melihat kau tengah memperhatikanku berjalan dari pintu ruang kelas hingga aku sampai pada kursi-ku. Pandanganmu seperti mengikuti setiap pergerakanku, hal itu terjadi lagi dan lagi setiap kali aku pergi ataupun masuk ke ruang kelas. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar.

"Kenyataan memukulku telak, kita hanya ada dalam mimpi." Untitled page 17 (from Wattpad)


Teruntuk,
Lelaki dengan
nama punggung
 “MAN”

Rabu, 20 Januari 2016

The Way You Look


Senin, 18 Januari 2016

Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun sekolah yang ke-68, ada berbagai kegiatan yang diadakan mulai dari yang namanya porseni, pembukaan liga sepakbola, lomba band dan lomba menghias tumpeng. Sebetulnya, acaranya cukup menarik dan begitu meriah, tapi seseorang justru menyita perhatianku.

Orang itu masih sama seperti ceritaku pada artikel sebelumnya, ia adalah ‘Lelaki yang selalu memintaku untuk memanggil dirinya dengan sebutan “mas” ’.  

Lelaki pertama yang berhasil mendekati dan mencuri hatiku pada masa SMA-ku ini. Lelaki pertama pula yang berhasil memboncengi dan mengantarku hingga sampai rumah. Rasanya sudah hampir setengah tahun aku mengenalmu, tapi apa yang terjadi diantara kita sudah tak lagi sama seperti beberapa bulan lalu saat pertama kali kenal dan kenyataannya hingga saat ini aku masih belum bisa melupakanmu walau sedikitpun tak pernah berhasil.

Dan satu kenyataan lagi yang kutemukan hari ini, yang membuatku semakin tak bisa melupakanmu adalah tatapan hangatmu yang masih selalu sama ketika kita berpapasan dan ketika kita berada di satu tempat yang dapat dijangkau oleh pandangan masing-masing.

Ketika itu, aku sedang melihat band-band yang sedang tampil di atas panggung. Aku tak sengaja melihatmu sedang berjalan kesana kemari, entah apa yang kau kerjakan, kau terlihat begitu sibuk mengurusi acara yang sedang berlangsung, ya aku tau kau memang panitia acara jadi wajar saja jika kau terus berkeliaran dan nampak sibuk. Tapi, ditengah kesibukanmu itu aku beberapa kali menangkap mata itu tengah mengarah padaku, ya mata kita bertemu tapi dengan singkat saling membuang pandang begitu tertangkap basah sedang memperhatikan satu sama lain. Hal itu terjadi hingga beberapa kali dan yang aku lihat bahwa kau selalu berada disekitarku selama aku berada di area panggung, beberapa kali kau terlihat berlalu lalang disekitarku, ketika aku berpindah tempat mendekati panggung;berusaha menghindarimu, kau justru kembali berlalu lalang didekatku, mencoba menerobos sekumpulan manusia yang ada ditempat itu. Dan terakhir yang aku lihat, kau berdiri didekat salah satu stand makanan bersama seorang lelaki yang merupakan anggota osis seangkatanku dan kembali terlihat tengah memandang kearahku dari tempatmu berdiri dan menunjuk kearahku sesekali. Aku sedikit merasa takut begitu kau menunjuk-nunjuk kearahku bersama lelaki itu. Setelah itu, aku memilih untuk menjauh dari area panggung dan berdiri didekat tempat lomba menghias tumpeng, kau kembali mendekat kearah meja untuk lomba tumpeng dengan alasan menghampiri salah satu perempuan yang kuyakini adalah teman satu kelasmu. Aku tak mengerti dengan sikapmu yang seperti ini. Setelah itu, aku dan teman-temanku kembali ke kelas dan tak lagi kembali ke area panggung dengan alasan lelah dan panas.

Satu lagi,
Beberapa hari setelah acara tersebut, aku menemukan sebuah foto yang berhasil membuatku kehilangan nafas hingga membuatku teramat sesak menahan air mata yang mati-matian ku jaga agar tak mengalir begitu saja dari kedua mataku. Aku menemukan foto dirimu bersama kekasih baru-mu itu di media sosial milik kekasihmu, foto itu diambil ketika acara berlangsung, kau dengan kemeja batik dan name tag sebagai panitia acara, sedangkan ia memakai pakaian adat dari Aceh untuk penampilan tari saman dari ekstra yang ia ikuti. Ya, selamat untuk kalian berdua. Selamat telah membuatku patah hati yang teramat dalam.


Semoga langgeng, ya!



Teruntuk,
Lelaki yang memiliki mantan kekasih
dengan nama awal yang sama denganku