Knowing You

by - Maret 21, 2016

Perjalanan tiga jam dari kedai kopi menuju rumah terasa sangat melelahkan, padahal jarak rumah dan kedai kopi hanya berkisar 7 km dan seharusnya itu bisa ditempuh hanya dengan waktu 15 menit. Jalanan Ibukota memang semakin padat dan mengerikan.

Aku melangkah memasuki kamar tidur-ku, menutup pintu, meletakkan koper dan tas, lalu terduduk pada pinggiran ranjang. Aku meraih sebuah potret berbingkai pada meja kecil di samping tempat tidur, aku mengusap foto itu, takut-takut banyak debu yang menempel disana karena telah satu tahun ini aku tinggalkan untuk melanjutkan kuliah master-ku di London.

Potret berukuran 30x40 cm itu berhiaskan pigura berwarna putih sederhana. Disana aku melihat seorang lelaki muda, tampan, yang tampak keras dan dingin, namun berbakat tengah memamerkan sebuah medali emas yang tergantung pada lehernya, bulir-bulir air masih terlihat membasahi tubuh atletisnya, lelaki pada foto itu terlihat begitu mempesona walau hanya mengenakan celana renang diatas lutut dan sebuah kacamata renang masih bertengger di lehernya. Kedua sudut bibirnya ia tarik hingga membentuk garis tipis pada bibirnya, terlihat seperti tersenyum namun samar, dikatakan tidak tersenyum sepertinya juga tidak, aku tak tahu apa namanya, tapi itu memberikan kesan manis, terutama bagi setiap perempuan yang melihat.  

***
10 tahun yang lalu...

“Daisy, cepat ganti bajumu, temani Mama kerumah Tante Maya untuk mengembalikan jam tangannya yang ketinggalan kemarin, sekalian Mama mau memberikan kue kesukaannya,” teriak Mama dari luar ruang tidur-ku.

Sesampainya disana, Tante Maya menyambut kedatanganku dan Mama dengan hangat, ini memang bukan pertemuan pertamaku dengan Tante Maya—sahabat karib Mama sejak bangku sekolah. Tapi, ini adalah kunjungan pertamaku di rumahnya, biasanya Tante Maya yang selalu berkunjung kerumah untuk sekedar bertemu dan bernostalgia dengan Mama.

Tante Maya merangkul-ku, “Daisy mau minum apa? Biar Tante buatkan, ya,” tawarnya ramah.

“Coklat panas,” jawabku cepat.

“Duduklah, Tante akan buatkan khusus untuk anak manis ini,” ucap Tante Maya lembut sembari mengusap kedua pipi-ku.

Tante Maya sudah menghilang dibalik dapur, Mama pun ikut-ikutan sibuk membantu Tante Maya di dapur. Keduanya sudah seperti saudara, terkadang aku suka iri melihat persahabatan keduanya, aku selalu berharap bisa seperti keduanya, nantinya.

Sambil menunggu, aku memutuskan untuk beranjak dari sofa, hal pertama yang membuatku tertarik adalah melihat bingkai-bingkai foto berukuran kecil yang tertata rapi di meja kayu di samping sofa besar. Aku mengamati tiap foto dengan rinci hingga aku bisa turut merasakan kebahagiaan yang tercipta disetiap foto-foto berbingkai itu.

Tetapi, ada satu foto yang membuatku terpana, aku mengambil foto itu, ingin melihat lebih dekat. Ku tatap lekat-lekat seseorang di foto itu; foto seorang lelaki dengan medali emas di lehernya. Aku tak tahu siapa lelaki itu, bertemu atau melihatnya saja belum pernah, tetapi entah mengapa hanya dengan melihat potretnya saja sampai membuatku tersenyum sendiri hingga tak menyadari Tante Maya dan Mama sudah kembali dengan secangkir coklat panas dan dua cangkir teh hangat, ditambah beberapa kue kering yang dipajang dalam toples-toples kaca; lelaki itu benar-benar menyita perhatianku.

“Laki-laki dalam foto itu satu-satunya anak Tante, namanya Athar, dia sekarang berumur 14 tahun,” ucap Tante Maya seolah bisa membaca pikiranku mengenai siapa yang ada di foto itu.

Aku tergagap melihat kedua wanita itu sudah berada di ruang tamu kembali, sepertinya aku terlalu sibuk memperhatikan foto lelaki itu, sampai-sampai tak menyadari kehadiran keduanya dan sekarang lidahku justru terasa kelu; tak tahu harus berbicara apa.

Tante Maya menyesap cangkir tehnya, “Athar menyukai renang sejak umur 8 tahun dan ia benar-benar ingin serius menggeluti dunia renang sejak saat itu, ia juga masuk klub renang dan mengikuti beberapa pertandingan. Foto itu adalah kemenangan pertamanya ketika ia berumur 10 tahun, ia menjadi juara pertama tingkat internasional di Berlin.”

Aku berdecak kagum, kembali tersenyum sambil menatap foto itu sekali lagi, dan menggenggam bingkai foto itu dengan erat, “Tante, apa foto ini boleh menjadi milikku?”

You May Also Like

0 komentar