Photograph

by - Maret 22, 2016

Sunyi membalut malam, hanya suara gemuruh pendingin ruangan dan detak jam dinding yang terdengar memenuhi ruang tidurku. Sepertinya seisi rumah telah terlelap dan kurasa hanya diriku yang masih terjaga pada pukul 11 malam seperti ini.

Aku tersenyum memandangi sosok dalam bingkai foto ditanganku, aku menaruh foto itu kembali pada tempatnya; diatas meja kecil di samping tempat tidur. Lalu, aku membuka laci meja itu, mengambil medali emas yang sepertinya terbuat dari emas sungguhan, jika di timang dari berat benda itu ditanganku saat ini.

***

Satu minggu setelah kepergiaan Tante Maya..

Ponselku bergetar begitu aku sedang membaca buku pelajaranku, rupanya sebuah panggilan masuk dari seseorang yang ku kenal tak lama ini. Aku mengangkat teleponnya, menunggu ia berbicara.

"Aku didepan rumahmu. Keluarlah!" 

Ia memutuskan sambungan teleponnya sebelum aku sempat berbicara apapun. Aku mendengus, melempar handphone pada meja belajar dengan sedikit tenaga, menutup buku pelajaran dan menuruti perintah orang itu—seseorang yang baru saja meneleponku.

“Ada apa? Kau baru saja merusak waktu belajarku, kau tau?” sapaku dengan kedua tangan terlipat didepan dada.

“Maaf, aku sedang kacau,” Athar—seseorang yang meneleponku—duduk di rerumputan depan rumahku; tempat dimana tadi ia berdiri. Aku pun terduduk disebelahnya, siap mendengarkan kisahnya yang baru akan dimulai.

“Seharian ini aku terus memikirkan Bunda, hingga mengingatkanku dengan sesuatu.”

Aku menatapnya lekat, menunggu kelanjutan pembicaraannya.

“Aku tak suka berbasa-basi, jadi aku akan langsung bicara pada intinya. Aku tahu kau memiliki fotoku. Kau pasti masih menyimpannya, kan? ” ia tersenyum menyeringai.

Aku tergagap, “Fo—foto apa?”—berpura-pura tidak tahu. 

"Foto kemenangan pertamaku dalam perlombaan renang di Berlin, kau ingat?"

Aku terdiam, mengalihkan pandanganku, menghindari kontak mata dengannya.

"Kau mengambilnya dari rumahku, kan?" tebaknya lagi, sambil tersenyum miring.

“Aku tidak mengambilnya, tapi aku—memintanya,” ucapku membantah, lalu memalingkan wajahku berlawanan dengan dirinya.

Athar tertawa, "Kau sudah memiliki foto berharga-ku itu dan—" ucapannya dibiarkan menggantung selagi ia merogoh saku jaketnya.

Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan menunjukkan benda itu tepat didepan wajahku, "Tidak kah kau berfikiran untuk memiliki benda berharga dalam foto itu?" 

Mataku membulat melihat sebuah medali emas menggantung tepat di wajahku, aku menoleh kearahnya, menatap wajahnya dengan pandangan bertanya maksud dari pembicaraannya ini.

Ia menaruh benda itu—medali emas—pada telapak tangannya, “Kau pasti sudah mendengar semuanya dari Bunda ku, ini adalah benda berharga-ku, tapi mulai sekarang ini akan menjadi milikmu,” ia meraih tangan kananku, menaruh medali itu disana.

Mataku membulat, “Tapi kenapa? Ini penghargaan pertama-mu,” aku berusaha mengembalikan benda itu ke tangan Athar, tapi ia menolak, benda itu tak berhasil pindah ke tangannya, tenaganya jelas lebih kuat dariku.

“Simpanlah! Aku mau kau menjaga benda itu untukku, karena—“ ucapan Athar dibiarkan menggantung.

Aku menunggunya menyelesaikan kalimatnya.

“Karena rumahku sudah penuh dengan berbagai medali seperti itu dan aku sudah bosan melihatnya terus menumpuk,” Athar tertawa. Sedangkan, aku memberikan satu pukulan ringan pada lengan kirinya sebagai bentuk kekesalanku padanya.

"Dasar konyol!”

Aku tertawa terbahak-bahak, bergantian dengan Athar yang justru sudah berhenti tertawa dan sedang memandangku yang sedang tertawa. Begitu aku menyadari tengah diperhatikan, aku pun berhenti tertawa, lalu menatap lelaki yang sedang menatap kearahku itu. Jantungku berdebar hebat, debarannya begitu kencang dan terasa berbeda, debaran ini bukan seperti saat kau sehabis berlari marathon atau saat kau gugup berbicara didepan umum. Bukan, ini berbeda, aku sendiri bahkan tak mengerti, ini pertama kalinya bagi seorang perempuan berumur 11 tahun.

You May Also Like

0 komentar