Jakarta Ramai

by - Februari 21, 2016

Daisy’s Point Of View

Masih tersisa seperempat cangkir hot chocolate caramel dihadapanku, aku mengaduknya sebentar, lalu berhenti, “Athar, aku mau pulang,” rengekku seperti anak kecil yang kelelahan setelah seharian bermain.
“Ayo, kita pulang,” ia berdiri dari tempatnya, meraih dan menggenggam jemari-ku.
Seketika, jantung-ku berkerja tidak seperti biasanya—menimbulkan ritme cepat yang teratur.

***

Iringi barisan kisah ini sembari mendengarkan alunan lagu ini:


   Sepuluh menit yang lalu, aku dan Athar meninggalkan kedai kopi bernuansa outdoor yang menjadi salah satu kedai kopi favorit Athar baru-baru ini—dan sepertinya juga akan masuk dalam daftar kedai kopi favoritku.
         Jalanan Jakarta selalu padat. Waktu senja seperti ini selalu menjadi waktu yang paling dihindari, waktu dimana setiap orang akan kembali pulang setelah lelah bekerja. Apalagi ditambah ini adalah hari sabtu; lebih tepatnya malam minggu, yang dimana setiap muda-mudi akan pergi keluar bersama kekasihnya atau bahkan teman-temannya untuk sekedar bertemu, berkumpul, dan bersenang-senang menghabiskan waktu bersama.
              Seharusnya aku tidak buru-buru mengajak Athar pulang pada saat-saat seperti ini. Aku lupa kalau ini adalah jam pulang kerja dan setiap sudut jalan dipenuhi dengan berbagai kendaraan; macet.

Senja menyambut kota yang lelah ini
Dan dia bertanya bagaimana hari mu

Sebuah alunan lagu dari radio itu terdengar pelan dan samar—bahkan nyaris tak terdengar. Aku melirik jam tangan berwarna silver pada pergelangan kiri-ku, dilanjutkan dengan mengecek handphone yang sedari tadi berada dalam genggaman-ku. Hal itu terus menerus berulang kulakukan setiap dua menit sekali.
Aku menghela nafas, dapat kulihat Athar memalingkan pandangan dari jalanan dan kini ia tengah memandangiku, aku rasa helaan nafasku begitu kencang hingga Athar bisa mendengarnya dan memilih menatapku seperti itu; tatapan membunuhnya.
“Kamu kenapa, Des?” tanya Athar tanpa jeda setelah mengalihkan pandangannya.
Aku hanya berdehem dengan nada bertanya seperti ‘Apa?’.
Sementara Athar menaikkan pedal rem tangan yang ada di tengah kursi penumpang dan pengemudi pada sisi depan, lalu merubah posisi duduknya agar bisa menatapku lebih leluasa, kakinya juga sudah tak lagi menginjak rem.
Athar mengambil handphone dalam genggaman-ku tanpa izin. Aku bahkan hanya berdiam diri mengetahui itu. Ia melihat beberapa pesan yang ku kirim pada Dary melalui whatsapp sejak ia pulang sehabis mengantarku menuju bandara hingga saat ini aku telah berada di Jakarta, tak ada satupun pesan yang dibaca bahkan dibalas olehnya, beberapa panggilan telepon pun tak ada yang dijawab.
         Athar melempar handphone-ku pada dashboard mobilnya, “Nggak usah dipikirkan lagi,” ucapnya menohok seolah langsung mengerti penyebab kesedihan yang ku tampakkan, lalu ia memutar volume radio sedikit lebih kencang untuk memecah keheningan.

Jakarta ramai, hati ku sepi
Jangan kau tanya, mengapa sedih

                Aku menghela nafas sekali lagi, menopang dagu, menatap kearah luar jendela kaca mobil, meresapi alunan lagu yang dimainkan oleh stasiun radio itu.
            Bisa kulihat dari sudut mata-ku, Athar memandang lurus mobil-mobil didepannya yang tak bergerak barang se-inchi pun, rahangnya mengeras sempurna hingga tercetak pada wajahnya, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan erat seolah ingin mematahkannya—auranya begitu gelap. 



You May Also Like

0 komentar