Pergi dan Datang

by - Februari 14, 2016

Note: nama pemeran laki-laki
sebelumnya‘Axel’ diubah
menjadi ‘Athar’
Athar’s point of view

Kehilangan/ke-hi-lang-an/ (n) hal hilangnya sesuatu; kematian. Aku rasa kalimat itulah yang sedang kualami, aku kehilangan seseorang yang paling kucintai, ia adalah ibu kandung-ku.

Makam mama masih terlihat segar, wangi air mawar, bunga-bunga segar bertebaran diatas gundukkan tanah itu. Aku masih berada di makam bersama papa; hanya tersisa kami berdua. Untuk pertama kalinya aku menunjukkan airmata-ku dihadapan papa dan almarhum mama. Bagaimana tidak seorang anak satu-satunya ditinggalkan oleh ibunya disaat usianya baru menginjak 14 tahun, masa-masa peralihan menuju masa remaja. Masa-masa dimana seharusnya seorang anak lelaki butuh pengendalian dan perhatian lebih dari seorang ibu. Tapi, tidak denganku, mama justru pergi karena serangan jantung mendadak dan tak bisa lagi diselamatkan, apa boleh buat Tuhan berkata lain.

Sebuah bayangan yang terlihat seperti seorang perempuan berpostur tubuh kecil dengan rambut diikat ponytail itu terlihat mendekat. Ternyata memang benar seorang perempuan, ia mengenakan long dress tanpa lengan berwarna hitam ditambah aksesori berupa selendang berwarna senada yang sengaja disampirkan pada bahunya untuk menutupi lengan atasnya yang terekspos.

Ia berjongkok disebelah kanan-ku, aku menoleh, kulihat di belakangnya ada dua orang dewasa dengan pakaian gelap tengah berdiri yang kuyakini itu adalah kedua orang tua dari perempuan kecil disebelahku ini.

“Aku Daisy, anak dari Mama Venna,” perempuan kecil itu memulai pembicarannya, tapi, tak ku hiraukan.

“Mama-ku dan mama-mu berteman baik, aku juga kenal Tante Maya sejak aku masih kecil, karena ia sering main kerumahku,” dogeng perempuan bernama Daisy itu.

Aku tak perduli dengan omongan perempuan itu, aku tak mengenalnya, melihatnya saja baru kali ini, aku pikir dia—sejenis orang gila.

Ia kembali berbicara, “Tante Maya sudah tenang disana, kamu harus mendoakan yang terbaik untuknya. Karena itu aku hadir disini untuk mendoakannya juga.”

Perempuan itu berhenti berbicara, menengadahkan tangannya, menutup matanya, dan menunduk; sepertinya ia sedang berdoa.

Beberapa detik setelahnya, ia kembali menatapku lekat-lekat, “Kamu jangan sedih lagi ya, mulai sekarang kamu boleh anggap mama aku sebagai mama kamu juga, ya?”—itu terdengar seperti sebuah paksaan.

Refleks aku menoleh kearahnya dengan cepat, tangisku terhenti. Untuk pertama kalinya aku melihat mata se-indah itu; iris matanya berwarna amber-coklat tembaga. Aku mengangguk kecil tanda setuju. Ia tersenyum, untuk pertama kalinya aku pun tersenyum; aku benar-benar lupa jika aku baru saja berduka atas kepergian mama.

Pada detik itu juga, asumsi ‘sepertinya ia sejenis orang gila’ tiba-tiba berubah menjadi—sepertinya sekarang aku yang telah gila.
***

“Dary benar-benar sibuk dengan skripsi untuk bahan sidangnya akhir bulan ini. Sebentar lagi, kuliahnya akan selesai, ia akan kembali ke Indonesia untuk  menetap dan bekerja, sedangkan aku masih punya waktu sekitar satu tahun lagi sampai kuliahku selesai—dan itu artinya kita akan berhubungan jarak jauh. Aku di London, Dary di Jakarta, huft,” Daisy menghela nafas kencang, menampakan kesedihannya.

Aku pun menghela nafas, menenggak sisa espresso di cangkir hingga tandas, “Des, kamu mau pesan hot chocolate caramel favorit kamu nggak?”

You May Also Like

0 komentar