Jumat, 23 Oktober 2015

Heart Demands


Rabu, 21 Oktober 2015

Hai, selamat bertemu kembali.

Setelah beberapa minggu kita tak lagi saling bertemu, bertatap muka, kontak mata apalagi berbicara. Berhubungan melalui sosial media saja tidak lagi pernah setelah kita sudah tak lagi berada dalam organisasi yang sama; yang ketika itu kita pernah menjadi satu tim. Kau ingat?

Meskipun kita berada pada satu sekolah yang sama, tapi perbedaan tingkat kelas diantara kita memang menjadi alasan yang utama bahwa kita tak dapat bertemu meskipun berada pada lingkungan sekolah yang sama. Aku adalah adik kelas tingkat awal di SMA, sedangkan kau adalah kakak kelas satu tingkat diatasku. Dan lingkungan tiap tingkatan kelas tentu terpisah jauh dan sudah ditetapkan masing-masing. Oleh karena itu, aku tak pernah berharap banyak untuk dapat bertemu denganmu setiap harinya. Sangat sulit dan sangat kecil kemungkinan untuk kita bertemu atau bahkan berpapasan. Kalaupun bertemu itupun hanya sesekali dan mungkin hanya keberuntungan saja.

Aku juga tak lagi mengharapkan dirimu—seperti dulu— semenjak berita mengenai kedekatanmu dengan perempuan se-angkatan ku ditambah lagi, kelasnya berada persis disebelah kiri ruang kelasku. Bagaimana tidak aku dapat dengan mudah bertemu dengan perempuan itu setiap harinya? Sedangkan, aku selalu merasa sangat kesal setiap kali melihat wajahnya. Kau tau? Ia seperti merebut apa yang telah menjadi bagian dalam hidupku. Dan itu menambah dosaku setiap harinya karena menyimpan amarah apalagi dendam terhadapnya. Astaghfirullahaladzim.

 Asal kau tau saja, perempuan yang ‘katanya’ kau sukai itu adalah perempuan yang selalu aku puja-puja kecantikannya dan kepribadiannya sejak awal aku melihatnya, sekalipun aku tak mengenalnya sama sekali. Tapi, setiap hari aku selalu memujinya dalam hati. Namun, semenjak berita itu sampai ditelingaku, aku bahkan tak lagi ingin memuji dirinya. Aku kesal. Aku bahkan selalu berfikir, “seperti ini kah tipe yang kau sukai?”—Jujur saja, aku iri.  

Ah sudahlah membahas mengenai perempuan itu benar-benar akan menambah dosaku terus menerus, kalau sudah begini tentu aku sendiri yang rugi.

Jadi sore itu ketika sepulang sekolah, aku dan dua orang temanku menyempatkan diri untuk sholat ashar ke musholla sekolah sebelum kami akan pergi untuk penilaian renang. Aku baru saja tiba di musholla setelah beberapa waktu tak masuk sekolah membuatku juga tak lagi menginjakkan kaki di musholla sekolah. Awalnya aku biasa saja berjalan menuju musholla sembari bercengkrama dengan dua orang temanku. Sampai didepan musholla, aku dan temanku baru akan melepas tali sepatu. Namun, perasaanku berubah sedikit berbeda, aku merasa ada seseorang yang tengah menatap kearahku. Aku meneliti sekelilingku, memperhatikan tiap orang yang ada, mencari apakah benar ada yang sedang menatapku; sesuai dengan perasaanku.

Deg. Begitu aku menoleh kearah kanan, seorang lelaki menatapku persis di manik mataku. Aku bisa melihat matanya tengah melakukan kontak mata denganku. Matanya seolah berbicara bahwa ada sesuatu yang ingin diungkapkan namun sepertinya tak bisa. Matanya mengartikan seperti itu.

Aku pun menatap matanya. Tidak! Bukan hanya matanya saja, tapi aku juga menatap wajah dan rambutnya yang basah sehabis berwudhu. Sungguh sangat mempesona sekali. Ia berhasil membuat aku jatuh hati untuk yang kesekian kalinya. Ia tahu bagaimana cari mengambil hati perempuan. Ia benar-benar mempesona ditambah dengan sisa-sisa air wudhu yang masih menetes diujung-ujung rambutnya yang selalu ia bentuk berdiri keatas dan sekitar wajah, tangan dan kakinya.  

Ternyata ia telah selesai berwudhu, ia berjalan melewatiku yang sedang melepas tali sepatu sambil masih terus menatap kearahku; aku bisa melihat itu dari sudut mataku. Aku benar-benar tak bisa berlama-lama lagi adu tatap dengannya. Aku memilih mengalah dengan berpura-pura sibuk dengan tali sepatuku dan berpura-pura tak melihat apalagi memperdulikannya.

Jujur saja, itu adalah tatapan yang selalu aku rindukan selama beberapa minggu tak lagi pernah bertemu. Itu adalah jenis tatapan yang dulunya selalu kita lakukan ketika kita sedang berada di lingkungan yang sama atau bahkan berpapasan ketika berjalan. Tapi bedanya, ketika dulu kita melakukan tatapan sejenis itu pasti selalu terselip senyum tipis saat melakukannya, atau bahkan terucap panggilan masing-masing untuk sekedar menyapa saat tak sengaja berpapasan di jalan.

Tapi, untuk tatapan yang kali ini berbeda. Tak lagi sama ketika kita masih berada pada satu organisasi yang sama, ketika kita masih berada dalam satu tim yang sama, dan ketika kau sering mampir kerumah.

Berikutnya, tatapan itu terjadi lagi ketika di dalam musholla. Kau sudah selesai sholat lebih dulu. Sedangkan aku, masih sibuk mencari mukena di lemari musholla. Kau berjalan keluar musholla dan aku sembari mencari mukena bisa melihat bahwa kau sedang melihat kearahku dan detik berikutnya aku pun melihat kearahmu. Tapi, kau dengan cepat mengalihkan pandanganmu kearah luar. Nafasku tercekat, entah kenapa rasanya begitu sesak melihat dirimu yang seperti ini sekarang. Aku masih memandangmu hingga kau keluar musholla dan pergi begitu saja menghilang dari pandanganku.

Entah mengapa justru di akhir, aku malah kecewa denganmu dan menyesali perbuatanku diawal seperti yang aku ceritakan diatas ketika bertemu dengannya didepan musholla. Salahku, aku yang memutuskan untuk tak lagi ingin meneruskan tatapan yang ia berikan diawal. Aku tak ingin melihat tatapan sejenis itu lagi, aku tak ingin jatuh hati lagi padanya, aku tak ingin terjebak lagi dalam pesonanya, aku tak ingin lagi merasa tersakiti seorang diri. Tidak lagi! Toh, dia sekarang sudah mengincar dan dekat dengan perempuan yang ia sukai. Apalagi? Aku? Aku akan mundur perlahan-lahan dan menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Bye, selamat berpisah lagi.





Teruntuk,
Lelaki yang selalu memintaku untuk
memanggil dirinya dengan sebutan “mas”

Jumat, 16 Oktober 2015

Pertemuan

                Fellice mendongakkan kepalanya yang sedari tadi berkutat dengan layar laptop untuk menyelesaikan skripsinya yang sudah berminggu-minggu tertunda. Ia menutup layar laptop miliknya dan mengembalikannya ke dalam ransel berwarna pink polos yang tergeletak diatas meja sejak tadi. Kemudian, ia beranjak keluar dari kedai kopi kecil di seberang kampusnya.

                Ia berjalan menuju kampusnya; perpustakaan kampusnya lebih tepatnya. Ia berniat mencari referensi lain untuk bahan skripsinya yang ingin segera ia selesaikan dalam minggu ini.

Langkahnya terhenti saat ia melihat jalan pintas yang kecil nan sempit untuk menuju perpustakaan itu dipenuhi oleh lelaki-lelaki dari grup motor di kampusnya yang terkenal sebagai pembuat onar dan penggoda perempuan-perempuan yang berlalu lalang di hadapannya.

 Fellice masih berdiri ditempatnya, berdiam mematung dan menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bahwa setiap perempuan yang lewat dihadapan para grup motor itu akan mendapati berbagai siulan disana sini dan sekedar melemparkan sapaan dengan menyebut perempuan-perempuan itu dengan sebutan ‘cantik’.

Sungguh menjijikkan,” batin Fellice. Ia bergidik ngeri sendiri.

Ia menghela nafas panjang dan mencoba memberanikan diri mengambil langkah ke depan berjalan seorang diri melewati gerombolan grup motor itu meski dengan resiko ia akan mendapatkan godaan yang sama seperti perempuan-perempuan tadi yang ia lihat.

Tidak ada pilihan lain, hanya ini jalan terdekat menuju perpustakaan kampusnya. Ia tidak ingin berjalan memutar sejauh 500 meter hanya untuk bisa sampai di perpustakaan. Menurutnya, itu sama saja dengan membuang-buang waktu dan tenaga.

Baru selangkah ia menapaki kakinya untuk meneruskan langkahnya sebelum ia sempat melewati gerombolan itu. Tiba-tiba sebuah tangan kokoh mendarat tepat di bahu kanannya. Refleks, langkahnya kembali terhenti. Ia menoleh ke arah tangan itu berada. Lalu, pada detik berikutnya ia habiskan dengan menatap si pemilik tangan kokoh tersebut yang telah berdiri tegak di sisi kirinya selama beberapa detik.

“Kau tidak ingin kan digoda dengan segerombolan grup motor itu?” ucap lelaki itu seolah menjawab pertanyaan dibenak Fellice.

Lelaki itu mengayun pelan bola matanya kearah gerombolan grup motor itu, memberi isyarat pada Fellice untuk berjalan melewati grup motor itu. 

Lelaki itu menatap Fellice dengan tatapan dingin seolah apapun yang dikatakan lelaki itu harus dituruti dan tak boleh ada bantahan. Benar saja, Fellice memang tidak membantah dan justru melakukan apa yang diperintahkan oleh lelaki itu. Ia seolah tersihir oleh pesona lelaki itu sebelumnya.

 Jemari-jemari lelaki itu menangkup pundak Fellice dengan kuat dan dengan sedikit tenaga yang diperlukan lelaki itu, ia menarik tubuh Fellice agar lebih mendekat dengan tubuhnya hingga tidak ada celah lagi diatara keduanya. Cengkaraman itu semakin menguat dan itu seolah memberi isyarat bahwa Fellice harus segera melangkahkan kakinya melewati ‘lelaki-lelaki penggoda’ itu dan lelaki disebelah kirinya pun akan mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Fellice yang kecil.

Namun, sebelum Fellice melakukan apa yang diperintahkan oleh lelaki itu. Ia sudah terlebih dahulu melihat kearah dada kiri lelaki itu saat ia menatapnya seolah mengintimidasi. Yang ia ingat tulisan yang tertera pada dada kiri jaket almamater yang dikenakan lelaki itu adalah Devan Mahendra.

Minggu, 20 September 2015

Kehidupan

Hi, long time no see. 
Karena kesibukan akhirnya baru bisa posting artikel yang satu ini. Artikel ini sebenernya udah bersarang lama banget di laptop penulis, tapi masih kepotong-potong karena males ngetik jujur aja.
.
.
.
Here we go!
***

Seandainya
Seandainya saja aku dapat memilih
Aku ingin terus hidup bahagia.. tanpa masalah, hambatan, rintangan, dan kesulitan. Aku ingin kehidupan lamaku yang terasa mudah untuk dijalani, yang selalu terlihat baik-baik saja, yang terasa menyenangkan untuk dijalani. Tapi tentunya, hukum kehidupan tidak berlaku seperti itu. Setiap orang yang ingin bahagia harus berusaha dan bersusah payah terlebih dahulu. Sedangkan, aku sendiri bisa dibilang hampir tidak pernah yang namanya “bersusah payah”. Namun, Allah seperti telah menyiapkan jalan untukku dan hari-hari aku hanya perlu menjalani dengan ringan seolah tanpa hambatan.

Tapi, itu tidak terjadi untuk selamanya. Pertama, Allah memberikan cobaan yang sebenarnya terlihat kecil, biasa, sepele dan itu berlangsung secara perlahan tanpa kami (sekeluarga) sadari; cobaan itu ditujukan pada keluarga kecilku. Mama nama ini begitu banyak disebut, begitu banyak berkorban demi keluarganya, dan begitu banyak menyayangi dan melindungi anak-anaknya. Dan entah mengapa, Allah seolah-olah menjadikan mama-ku sebagai pemeran utama dalam kisah ini. Begitu banyak konflik, masalah yang harus segera terpecahkan. Hal itu yang membuat kami menjadi lebih dewasa, lebih dewasa dalam bertindak, berfikir, mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, memikirkan dampak dan resiko dari keputusan yang kami ambil kedepannya. Hal-hal semacam ini yang tak pernah kami pelajari selama hidup, karena itu tadi, hidup kami selama ini terlalu santai; tanpa masalah.

Namun, tak berselang waktu lama, Allah dengan mudahnya dan dalam waktu singkat mengubah pandangan hidup kami. Jadi............. ketika itu, mama sakit dan sempat dirawat di rumah sakit dikota tempat aku dibesarkan; kota kecil di Kalimantan Tengah, dan sudah seminggu tidak ada perkembangan yang berarti. Karena beberapa bulan lalu, mama juga sempat sakit dan dirujuk ke rumah sakit di Semarang, akhirnya ketika sakit yang kali ini, ayahku langsung memutuskan untuk membawa mama kembali rujuk ke rumah sakit di Semarang untuk mendapat penanganan yang lebih baik.

Karna kebetulan ketika itu sedang libur kenaikan kelas. Kami sekeluarga pergi mengantar mama berobat ke Semarang, awalnya mama memang tidak langsung rawat inap di rumah sakit. Prosesnya juga lumayan panjang, mama hanya perlu check up ke dokter dan itu terhitung sampai beberapa kali dan menjalani berbagai cek laborat sesuai yang dokter itu minta. Mulai dari cek darah, cek kesehatan jantung, cek alat organ yang lain juga; misalnya hati dan ginjal, konsul ini dan itu, sampai pada puncaknya dokter itu meminta untuk cek sumsum tulang belakang. Ini termasuk tahap yang sudah sangat jauh dan panjang. Jujur saja, semua hasil dari berbagai cek laborat itu hasilnya terhitung menurun dan hasilnya selalu diluar dari harapan kami semua, padahal kami selalu optimis tiap hasil check up itu keluar nantinya hasilnya akan baik. Namun, kenyataan selalu berbalik.

Ketika akan mengambil hasil check sumsum tulang belakang itu kebetulan aku dan adikku ikut pergi kerumah sakit untuk mengabil hasil labnya sekaligus control ke dokternya. Biasanya ketika cek darah dan lain-lain, aku dan adikku memang tidak pernah ikut dan selalu ditinggal dirumah, alasannya capek, males, dsb. Tapi, ketika itu kami semua ada ditempat itu. Kami menunggu di ruang tunggu untuk control dengan dokter yang sama menangani mama ketika beberapa bulan yang lalu sakit, jadi dokter ini jelas sudah tau riwayat penyakit mama sebelumnya.  

Sambil menunggu, kami duduk dan aku melihat mama berkali-kali membolak-balik lembar kertas didalam map yang ia pegang saat itu. Aku tau itu adalah hasil cek sumsum tulang belakang. Mama terhenti pada satu lembar kertas paling awal, membaca menyeluruh dan mendetail hasilnya satu per satu. Aku pun yang duduk disebelah kanan mama persis ikut membaca rincian hasil lab tersebut.  Sepertinya, mama belum membaca bagian yang terlihat mengejutkan ketika aku membaca pada bagian akhirnya “Kesimpulannya: Acute ............... Leukimia”  —aku tak ingat lebih jelasnya apa tulisan dari kesimpulan itu. Yang kuingat hanya kata leukimia itu. Ketika itu, aku langsung menunjuk tulisan tersebut dan berkata, “Ma, ini apa?” Sebetulnya aku tau itu penyakit apa, aku pernah mempelajarinya sedikit ketika sekolah. Nampaknya mama juga sangat shock ketika aku menanyakan tentang penyataan tersebut. Sepertinya mama juga tidak membaca dan tidak menyadari tulisan tersebut sebelum aku menanyakan maksud itu apa. Dan ketika aku bertanya semacam itu, mama hanya berdiam diri lalu menutup map besar itu dan rapat-rapat dipegangnya map itu dalam pangkuannya. Ia kemudian mengambil handphone nya dan langsung berselancar lewat internet, mencari tau apa yang tertulis sebagai kesimpulan dalam hasil lab sumsum itu. Aku kembali melihat kearah handphone mama yang sedang menunjukkan searching-an mengenai nama penyakit itu. Dengan cepat, mama langsung menjauhkan handphone nya dari pandanganku. Aku hanya berdiam diri dan berusaha menahan tangis *maklum saat itu sedang bulan ramadhan takut puasanya batal*. Aku kemudian membuka handphone ku sendiri dan melakukan hal yang sama dengan mama; mencari tahu sendiri mengenai pernyataan tersebut.

Pikiran dan perasaanku semakin berkecamuk. Pikiranku sudah melayang kemana-kemana. Aku semakin was-was, belum lagi menunggu antrian untuk masuk ke ruangan dokter itu sangat lama karena pasien yang sudah mengantri juga terhitung banyak. Kami menunggu kurang lebih 5 jam  sejak sore hingga malam kedua orang tua ku baru mendapat giliran masuk kedalam ruangan dokter tersebut sambil membawa hasil lab sumsum tadi, meminta penjelasan yang lebih jelas dari ahlinya. Orang tua ku sangat lama berada didalam, hampir satu jam mereka didalam ruang periksa dokter tersebut. Ketika mereka keluar dari ruangan tersebut, raut wajah keduanya tak lagi dapat dibaca, seperti orang bingung, shock, terpukul, datar, seperti sehabis menangis(?) *maybe*
Ketika ku tanya, mereka hanya berdiam dan justru mengalihkan pembicaraan dan meminta segera pulang. Aku semakin yakin, apa yang aku baca mengenai pernyataan tersebut itu adalah benar. Aku semakin tidak percaya. Sungguh siapa yang dapat terima dengan vonis menderita penyakit tersebut. Ini bukan penyakit biasa, ini tidak main-main. Tidak ada yang menyangka bahwa penyakit semacam ini yang biasanya hanya terdengar di televisi dan media. Tapi saat ini, aku menghadapinya sendiri. Aku mengetahui hal semacam ini terjadi pada kehidupan keluargaku, pada seorang ibu-ku sendiri.

Sebetulnya, secara fisik jika dilihat mama sangat sehat, mama masih bisa berjalan seperti biasa, makan dengan porsi yang biasanya juga. Entah apa yang salah, ketika akhirnya dokter benar-benar memvonis penyakit mamaku ini. Rasanya dunia kami serasa berbalik. Kami dihadapan dengan berbagai pilihan dan kemungkinan baru yang harus segera kami pilih dengan resiko apapun. Karena, disetiap pilihan akan selalu ada resikonya masing-masing.

Masalah pertama, saat itu adalah liburan sekolah dan aku yang sebentar lagi akan SMA. Ini adalah masalah awal yang muncul ketika diawal-awal mama mulai menjalani proses pengobatan. Kedua orang tua ku mulai berfikir bahwa aku sebagai anak pertamanya akan segera memasuki jenjang SMA. Pada awalnya (sebelum mama sakit), aku memang akan disekolahkan dikota tempat aku dibesarkan, kota kecilku, Pangkalan Bun. Karena memang sejak lama ketika aku mengatakan ingin melanjutkan sekolah di Semarang, orang tua ku tidak mengijinkan dengan berbagai faktor dan alasan, hingga aku bisa menerima itu; untuk tetap bersekolah di kota kecil itu dan tetap tinggal bersama orang tuaku. Namun, keadaan yang sekarang telah berbeda. Orang tua ku berfikir bahwa jika aku tetap bersekolah di Kalimantan, rasanya mereka tidak akan tega sementara proses pengobatan mama akan berlangsung dengan proses yang panjang dan tentunya butuh waktu lama untuk berada di Semarang. Karena itu, mereka punya pilihan lain untuk menyekolahkan aku di suatu kota biasa, tempat kelahiran ayahku, tempatnya tidak jauh dari Semarang hanya butuh waktu sekitar 1 jam dari kota Semarang. Aku bahkan sempat menolak keras ketika mereka memberiku pilihan seperti itu. Aku bahkan menangis ketika ditanya apakah aku bersedia bersekolah disana. Karena jika aku mau, aku bisa langsung masuk sekolah paling favorit dikota itu tanpa perlu repot-repot mendaftar dan mengurus berkas-berkas lain, karena pamanku memiliki banyak kenalan disana dan karena ketika itu tanggalnya berdekatan dengan hari perdaftarannya, maka aku harus segera membuat keputusan. Karena, mereka bilang, aku adalah kompas dari keluarga kecilku. Keputusanku untuk bersekolah dimana pun nantinya akan menjadi petunjuk kemana nantinya akan keluarga kecilku ini akan berlabuh;menetap untuk tinggal. Begitu tau proses pengobatan mama akan berlangsung panjang dan lama, kedua orangtua ku sempat berfikiran untuk pindah ke Jawa; kembali ke pulau asal. Karena itu, mereka bilang bahwa aku adalah kompas-nya.
Ketika itu, mereka memberi tahu ku semacam itu lewat pesan singkat ketika aku sedang berdua adikku dirumah saudaraku, sedangkan ayahku dirumah sakit menemani mama. Siangnya, aku dan adik laki-laki ku diantar ke rumah sakit. Sesampainya disana, kedua orangku kembali menyinggung masalah sekolah lanjutan yang harus aku tentukan secepatnya; sebelum hari pendaftaran. Karena jelas, pendaftaran di pulau Jawa lebih dulu dilaksanakan daripada di Kalimantan. Ketika mereka menyebutkan nama sekolah itu dengan embel-embel nama kota itu, kota tempat ayahku dilahirkan. Jujur saja, aku tidak suka berada di kota itu, aku lebih memilih berada di kota kecil di Kalimantan daripada dikota itu. Karena itu, aku menangis ketika aku harus segera memberi mereka jawaban mengenai sekolah alternatif yang mereka tawarkan itu. Memang sekolah yang mereka tawarkan itu baik, terfavorit, tapi aku tidak suka dengan kota itu. Aku tidak ingin tinggal dan menetap apalagi bersekolah disana.  Aku menangis menelungkupkan wajahku dikasur rumah sakit; di samping tempat mama berbaring. Aku tak bisa menjawab, tapi mereka sepertinya mengerti bahwa aku tak ingin menerima tawaran itu tapi sepertinya mereka sedikit memaksa karena mereka tak punya penawaran lain. Aku lebih memilih bersekolah di Kalimantan karena semua teman-temanku ada disana. Aku dibesarkan disana sejak beberapa hari setelah aku dilahirkan, aku banyak menghabiskan masa sekolahku bersama mereka—teman-teman yang ku kenal sejak aku TK-SD-SMP dan aku masih ingin tetap bersama mereka. Tapi, berbeda jika mereka menawarkan aku untuk bersekolah di SMA Semarang, sekolah yang pernah aku katakan pada mereka bahwa aku berambisi masuk sekolah itu namun tidak mendapat izin dari mereka. Dan ketika itu, mereka juga tidak berani menawarkan sekolah di Semarang itu karena berbagai faktor; nilai nem ku belum keluar ketika itu jadi aku tidak bisa mengukur apakah aku layak masuk disekolah itu, mereka berfikir dengan siapa aku akan tinggal jika aku bersekolah di Semarang, sekalipun ada tante-ku yang tinggal didekat sekolah itu, tapi..........

Tapi tentunya Allah punya rencana lain yang telah Ia susun secara apik dan bahkan rencana-Nya sungguh sanggat jauh lebih indah  dari rencana manusia. Setelah melewati hari yang terasa panjang itu—saat aku menangis di rumah sakit. Keesokan harinya, pagi itu aku kembali kerumah sakit; malamnya aku tidur dirumah saudaraku. Paginya, saat aku baru memasuki kamar inap mama, aku disambut dengan beberapa berkas diatas kasur yang berisi nilai nem-ku, nilai ujian nasional dan ujian sekolahku dan album kenangan. Aku langsung mendapat pelukan dan ucapan selamat dari orang tua ku karena ternyata nilaiku cukup memuaskan dan jauh dari apa yang aku khawatirkan selama ini. Dan saat itu juga, mereka mengatakan mengizinkan aku untuk bersekolah di Semarang; sekolah yang ku dambakan sejak beberapa tahun lalu. Mereka mengizinkanku karena begitu melihat nilai nem-ku dinilai layak masuk sekolah itu, maka mereka dengan pasti menyuruhku untuk mencoba mendaftar disana. Lalu malamnya, Allah seperti memberi jalan yang semakin memudahkanku untuk mengikuti rencana-Nya yang begitu indah ini, jalan terbaik yang diberikan secepat ini padahal baru kemarin kami bersusah payah memikirkan solusi untuk masalah tersebut, esoknya Allah sudah memberi cahaya ilahi yang begitu indah ini. Subhanallah. Jadi malamnya, ketika itu saudara sepupu ayahku datang menjenguk mama. Kebetulan, anaknya sepupu ayahku itu tadi juga seumuran denganku, ia juga baru akan masuk SMA ketika itu. Ia juga berniat mendaftar disekolah yang sama dengan keinginanku. Dari situ timbul pembicaraan, mereka mengajakku untuk mendaftar sekolah bersama anak perempuannya itu. Lalu semuanya sepakat kalau aku dan saudara perempuanku yang sama-sama ingin masuk SMA itu bertukar kontak dulu, selanjutnya bisa dibicarakan lewat chat. Sampai berikut-berikutnya,  Allah benar-benar memudahkan jalan untukku bisa masuk ke SMA yang kuinginkan sejak lama itu, meskipun sebelumnya sempat mendapat halangan dari izin orang tuaku. Tapi sekarang, Allah benar-benar membuktikan bahwa rencana Allah itu benar-benar lebih menakjubkan dari rencana manusia. Allah lebih tau mana yang terbaik untuk kita. Nggak pernah ada yang tau rencana apa itu yang telah disusun oleh-Nya. Wallahu a’lam.

Masalah yang kedua, ketika masalah sekolahku selesai dan akhirnya aku berhasil masuk di SMA tersebut. Masalah berikutnya yang muncul adalah keinginan orang tuaku untuk pindah rumah. Mereka memilih untuk pindah ke Jawa. Karena mama sakit, ya itu adalah alasan utamanya. Mama akan sering berobat dan berada di Semarang, dan mereka berfikir untuk apa lagi punya rumah, harta dan segalanya di Kalimantan sementara mama sakit di Jawa. Karna fikiran-fikiran itu mama bahkan sempat punya pikiran untuk berhenti bekerja. Karna, ia pikir bahwa ia sakit karna bekerja terlalu keras. Ya bekerja pada perusahaan BUMN di sebuah bank tidak lah mudah, banyak waktu dan tenaga yang tersita. Mulai dari mama yang berangkat sebelum jam 7 pagi dan selalu pulang diatas jam 5 sore. Belum lagi memikirkan uang-uang orang diluar sana yang dipercayakan untuk disimpan di bank tersebut, butuh tanggung jawab, kesabaran, dan ketelitian ekstra. Begitulah, tapi karena ini adalah tulisan lama sekitar 3 bulan lalu ketika mama awal-awal divonis sakit, dan sekarang mama sudah terlihat perkembangan yang semakin membaik setelah menjalani beberapa proses pengobatan dan sekarang sudah selesai proses tahap ketiga dan itu artinya tinggal satu tahap lagi sesuai dengan rencana dokter tersebut. Semoga setelah ini mama benar-benar kembali sehat dan dapat kembali beraktifitas. Karena itu, mama berubah fikiran, ia masih ingin bekerja kembali dan masih ingin kembali ke Kalimantan. Karena itu, untuk kedepannya masalah pindah rumah mungkin masih bisa dibilang lama, butuh proses yang pasti. Perlahan kedua orangtua ku sudah mulai mencari dan membeli rumah di Jawa, dan mulai menjual beberapa aset yang ada di Kalimantan untuk tambahan biaya membeli rumah di Jawa. Karna harga rumah di Jawa dan di Kalimantan tentu saja sangat berbeda jauh. Di Jawa karna lahannya semakin sempit juga perlu harga yang besar untuk mendapatkan lahan yang besar pula. Yah tak apalah kehilangan sedikit barang berharga itu, agar kedepannya kami juga dapat mengubah diri agar tidak riya, tidak sombong, dsb. Mama selalu bilang, “ikhlaskan aja apa yang kita lepas saat ini, mungkin memang bukan rezekinya kita. Kalau pun itu memang rezekinya kita, Allah pasti akan kasih yang lebih baik, berkali-kali lipat lebih baik dari apa yang udah kita lepas sekarang,” Yap! Betul banget sih apa kata mama. Ya sudahlah, lebih banyak belajar sabar dan ikhlas aja sekarang(:

Mungkin sekarang kami sedang di uji sama Allah, mungkin selama ini kami selalu hidup nyaman dan semua serba ada—dan kami lupa bersyukur. Itu dia inti masalahnya.

“Kita sedang diuji, dan mama nggak mau nyebut ini sebagai musibah. Enggak! Ini anugerah dari Allah untuk kita. Kalau sakit ini anugerah dari Allah pasti akan ada hikmahnya dari semua ini,” begitu perkataan mama yang selalu aku ingat.


Karena itu, masalah rumah yang baru dibeli itu juga sambil berjalan mungkin pelan-pelan akan mulai dibangun dan mulai dirancang. Untuk kedepannya ketika kedua orangtuaku sudah memasuki usia senja, keduanya bilang ingin tetap memutuskan untuk pindah, karna hidup di Kalimantan dinilai sangat berat karna disana kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi, semua keluarga ada di pulau Jawa. Ya begitulah, perlahan sambil berjalan.


Masalah berikutnya, pada awal-awal sekolah aku sempat merasa tidak begitu percaya diri, aku tak mengenal siapapun; kecuali saudara perempuanku itu. Aku takut tak dapat menemukan teman yang sesuai dengan diriku. Aku masih terus terbayang-bayang teman-temanku di Kalimantan sana, aku sempat merasa tidak percaya dapat bersekolah ditempat itu dan disisi lain aku merasa ingin bersekolah ditempat yang sama dengan teman-temanku di Kalimantan sesuai dengan apa yang telah kami rencanakan sebelumnya ketika di SMP; kami akan masuk disekolah yang sama disana. Aku bahkan belum sempat pamit pada mereka. Ini semua diluar dugaan bahwa aku akan benar-benar bersekolah di SMA Semarang seperti keinginanku sebelumnya. Seperti yang sudah aku ceritakan diatas bahwa ketika itu sedang liburan dan saat itu mendesak aku harus segera memilih sekolah mana yang akan aku tuju dan yah.... beginilah jadinya aku berhasil masuk disekolah yang bisa dibilang favorit ini. Aku belum sempat pamit dan bertemu untuk yang terakhir kalinya, tak banyak yang tau kalau aku akhirnya bersekolah di Jawa dan tak banyak yang tau kalau mamaku sakit, yang mereka tau bahwa aku pergi liburan. Itupun aku memberi tau hanya pada beberapa teman dekatku, aku memberi tau mereka dengan perasaan kecewa dan sedih hanya lewat social media. Huuffftt ngapunten kawan-kawan..


Ngomong-ngomong soal ‘hikmah’  bisa dibilang banyak banget hikmah yang didapat selama mama sakit. Hikmahnya mungkin akhirnya aku bisa sekolah di tempat yang aku inginkan, kami banyak belajar gimana cara mengatasi mengendalikan emosi, mengendalikan tangis, belajar bersabar dan ikhlas, lebih mendekatkan diri sama Allah, kami juga belajar lebih dewasa dalam bentindak, dalam sikap, dalam mengambil keputusan, kami dihadapkan dengan berbagai pilihan yang harus segera diputuskan dengan cepat dan tepat, dan lebih bersyukur sama apa yang udah kami punya selama ini. Yes itu intinya. Banyak-banyak berterima kasih lah pokoknya sama Allah, udah ngasih rencana yang begitu indah ini. Anugerah yang nggak pernah kami dapatkan sebelumnya dari kehidupan kami yang selalu biasa aja, yang selalu gitu-gitu aja, yang gak pernah ada masalah, yang flat banget, dan dari hitam putih menjadi berwarna. Thanks to Allah♥

.
.
.

Sebetulnya masih banyak yang ingin penulis ceritakan disini, tapi karna keterbatasan waktu ngetik ini sampe nggak inget waktu, sampe jam 01:40 am ya Allah... dan kasian pembacanya sih sebenernya; capek bacanya. Penulisnya juga capek ngetik, capek baca, capek juga mikirin kata-katanya yang pas, capek juga nginget kejadiannya secara runtut, capek juga jalanin kehidupannya. Huft! 

Minggu, 04 Januari 2015

Began to Change


Akhir tahun, akhir dari semester awal, ya ini merupakan waktu-waktu yang diyakini dimana kau akan memulai menghubungiku, mengirimkan sebuah pesan singkat padaku. Sungguh sebuah hal sepele yang sebetulnya secara tidak sengaja telah menjadi rutinitas antara kau dan aku. Yang mana seperti biasa kau akan mulai menghubungiku lebih dahulu. Masa-masa libur sekolah seperti ini yang selalu menjadi waktu yang tepat untuk kita saling bertukar kabar setelah satu semester tidak saling menghubungi dan memberi kabar.

***

                Malam itu malam minggu, aku sedang menonton drama korea yang sedang populer saat itu. Dan ketika itu juga, aku menerima sebuah pesan singkat dengan nomor tak dikenal yang memberi sapaan hangat nan Islamis. Orang tersebut menyertakan namanya di akhir pesan tersebut, ternyata ia seorang yang ku kenal baik sejak beberapa tahun lalu. Bukan sebuah pesan spesial seperti dari pasangan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh. BUKAN! Ia hanya menyapaku dan menanyakan kabarku dengan embel-embel sebutan untukku sebagai “teman lama”.  Dan saat itu juga, aku merasa ada sesuatu yang mencekat dalam diriku. Aku baru tahu kalau sebuah kata “teman” bahkan “teman lama”  begitu menyakitkan dan dapat melukai perasaan seseorang. Seolah-olah kata tersebut mengandung makna bahwa aku hanya sekedar teman masa lalu-nya. Hanya itu.
Aku terdiam tak tahu harus menjawab apa, aku berpikir keras memikirkan kata-kata yang pas untuk membalas pesannya. 


                Setelah aku membalas, ia kembali menjawab pesanku. Ia membalasnya dengan sindiran bahwa aku masih mengingatnya. Astaga, anak ini! Jelas-jelas dia sendiri yang mengirimku pesan lebih dulu, mengapa ia seolah seperti menyindirku seperti itu? Beginikah percakapan kita saat ini? Terlihat begitu membosankan. Menyedihkan, bukan?

                Kekesalanku tak berhenti sampai disitu, aku semakin kesal ketika kau menghentikan komunikasi itu secara sepihak. Kau tidak membalas pesanku, sehingga aku harus kembali mengirim-mu sebuah pesan basa-basi agar komunikasi kita tidak terhenti sampai disitu. Jelas-jelas aku masih ingin berbagi kisah dan bertukar kabar denganmu. Tapi, justru kau tidak menanggapinya. Aissh!

                Tidak seperti biasanya, komunikasi kita lewat pesan singkat pastinya akan berjalan cukup lama dan panjang. Mengingat banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin ditujukan pada masing-masing diantara kita. Tapi untuk kali ini, tidak seperti biasanya, komunikasi ini terlihat lebih singkat dan terasa menyebalkan bagiku.       

Tak perduli dengan semua itu. Ia kembali mengirimku sebuah pesan singkat pada malam berikutnya—malam ini, yang isinya hanya mengingatkanku untuk belajar karena pada esok hari aku sudah akan masuk sekolah. Lalu, ia justru menyemangatiku saat aku mengatakan sedang malas untuk belajar. Ia juga mengingatkanku untuk tidur lebih awal dengan alasan akan bangun pagi-pagi pada esok pagi untuk sahur melaksanakan ibadah puasa sunnah. Sungguh, anak yang baik. Sepertinya kehidupannya di pondok telah mengubahnya menjadi seperti ini. Saat ku tanya, ia bahkan selalu melaksanakan ibadah puasa sunnah selama ini.Wow! 

Komunikasi diantara kami masih berlanjut dengan percakapan-percakapan biasa, lalu ditambah kembali dengan pertanyaannya yang menanyakan kabar disana—di tempatku saat ini. Aku sedikit tidak mengerti dengan pertanyaannya, jadi aku membalasnya dengan membalikkan pertanyaan tersebut padanya “Kabar siapa? Kabar Pangkalan Bun?” begitu yang aku jawab. Dan ia masih belum membalas pesanku tersebut—hingga saat ini aku mengetik artikel ini. Alhasil, aku berpikiran untuk membuat artikel ini. Sangat menyebalkan bukan ketika seseorang yang memberimu kabar lebih dulu, lalu kau pun membalasnya, sementara ia tidak kunjung membalasnya lagi disaat kita begitu penasaran dan begitu menantikan pesan darinya. Ck!

***