Pulang

by - Desember 18, 2015

Athareeza,
Seorang lelaki yang saat ini berdiri sekitar 100 meter di depanku
Seorang direktur sebuah rumah sakit
Seorang pemuda dengan tubuh atletis dan pekerja keras
Seorang yang selama hampir 10 tahun ini selalu berada di sisiku
Seorang lelaki yang kukenal ketika aku berumur 11 tahun di pemakaman ibundanya yang tak lain adalah sahabat karib ibuku


“Daisy!,” teriak lelaki yang sejak tadi memenuhi pikiranku.

Ia berjalan dengan langkah lebar kearahku. Aku bahkan tak menyadari bahwa lelaki itu telah berada di pelukanku; memelukku dengan erat. 

Aku terlalu sibuk memandangi lelaki ini dari kejauhan, mengamati setiap gerak geriknya sampai membuatku teringat akan kenangan tentang dirinya. Ah, mungkin aku terlalu merindukannya, karena sudah 1 tahun ini kami tak pernah bertemu karena aku harus melanjutkan kuliahku di London selama 2 tahun.

“ Athar, kau mau membuatku mati tercekik, ya?,”  aku menepuk-nepuk punggungnya berkali-kali.

Athar melepas pelukannya dan hanya memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya tanpa rasa bersalah.

“Kau ini kenapa tidak memberi tahu ku kalau kau akan pulang ke Indonesia? Untung saja mama-mu meneleponku.” 

“Ah, mama benar-benar tidak bisa dipercaya. Aku menyuruhnya untuk merahasiakan ini darimu. Ah tapi ya sudah lah,” ucapku dengan bibir mengerucut.

“Orang tua mu tidak bisa menjemputmu di bandara hari ini, jadi mama-mu meneleponku meminta aku untuk menjemputmu. Makanya jangan menyalahkan orang seenaknya,” ucap Athar lalu mendorong jidatku dengan sedikit hentakan dengan dua jari tangannya.

Mulutku membulat sempurna, lalu hanya ku balas dengan pukulan di lengan kirinya yang dapat kupastikan tidak akan memberi efek apapun pada tubuh atletis semacam dirinya.

“Bagaimana dengan pacarmu yang berwarga negara Indonesia itu? Ia tak pulang ke Indonesia bersamamu?”

Aku memutar bola mata, memasang wajah sedih, “Dary sibuk”

Athar tertawa, “Pasti banyak yang mau kau ceritakan. Ayo ku ajak ke kedai kopi favoritku,” ia menarik koper berukuran sedang dari tanganku. Sedangkan, tangan sebelahnya lagi sudah merangkul pundakku; lebih tepatnya menarik-ku hingga tak ada lagi celah diantara kami berdua.

You May Also Like

0 komentar