Catching Feelings

by - Desember 13, 2014

Ini bukan sebuah cerita pendek ataupun cerpen ataupun kisah-kisah picisan nan romantis lainnya. Ini hanya sebuah kisah nyata si penulis a.k.a pemilik blog ini mengenai kehidupan yang ia miliki. Sebuah curahan hati biasa yang sungguh tidak menarik sama sekali.


Waktu terus berjalan, tanpa terasa 15 tahun sudah aku mendiami planet yang sering disebut bumi. Empat tahun pertama, aku habiskan bersama kedua orang tua ku. Mereka menyayangi dan mengasihi-ku secara utuh pada empat tahun pertama—sebelum adik laki-laki ku dilahirkan. Lalu, pada tahun berikutnya saat usiaku menginjak 5 tahun, aku mulai masuk lingkungan pendidikan, aku bersekolah dan menemukan berbagai pembelajaran dan pengalaman baru. Aku bertemu banyak teman dan berteman dengan siapapun yang menurutku menyenangkan tanpa harus memikirkan apakah ia teman yang baik atau bukan. Pada saat itu, aku bertemu dengannya—seseorang yang aku suka—dalam satu kelas yang sama denganku. Aku dan dia berada dalam kelas yang sama selama 2 tahun di Taman Kanak-Kanak tersebut—sampai aku berumur 6 tahun. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku berkenalan dengannya saat itu. Tentu saja, apa yang dapat dilakukan anak umur 5 tahun pada saat itu untuk mengajak seorang anak lelaki berkenalan atau bahkan mengajak bermain bersama. Yang aku tahu hanyalah namanya dan ia pun mengetahui namaku, kami tidak sengaja bermain bersama dan aku merasa ia adalah anak lelaki yang menyenangkan untuk diajak bermain. Ya, seperti yang telah ku katakan bahwa aku akan menggauli seseorang yang aku rasa menyenangkan—dan ia termasuk dalam daftar teman-ku saat itu.

Lalu, pada tahun berikutnya saat umurku menginjak usia 7 tahun, aku lulus dari bangku Taman Kanak-Kanak dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi . Aku sendiri bahkan tidak pernah mengharapkan dapat bertemu lagi dengannya setelah lulus dari taman kanak-kanak. Tapi, siapa sangka bahwa setelah lulus TK, aku bahkan masih berada satu sekolah dengannya dan dalam kelas yang sama selama 6 tahun lamanya selama aku bersekolah di Sekolah Dasar.

Semula, semuanya terlihat biasa. Empat tahun selama di Sekolah Dasar, aku tak punya perasaan suka atau apapun dengan lawan jenis, aku merasa bahwa cinta pertamaku ada ketika di Taman Kanak-Kanak, ia bukan orang yang aku maksud seperti pada paragraph pertama artikel ini. Ia berbeda, jauh lebih tampan dan—kaya raya. Karena itu, aku merasa tidak pantas dengannya, jadi aku hanya berteman dengannya, bermain bersama pada jam istirahat. Lalu, aku tak pernah berada satu sekolah dengannya dan tak pernah lagi bertemu dengannya meski kami berada pada kota yang sama, sulit untuk bertemu dengannya. Kalaupun bertemu, itu juga hanya kebetulan dan mungkin keberuntungan semata.

Pada tahun keempat di Sekolah Dasar, aku mulai tertarik dengan salah satu kakak kelas pindahan dari luar pulau. Aku langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Hal pertama yang terlintas didalam fikiranku saat itu—ketika ia lewat dihadapanku saat aku sedang pelajaran olahraga di halaman—bahwa ia tampan. Hanya itu. Kami pun sempat dekat, namun aku kehilangan kontak dengannya saat ia pergi begitu saja tanpa aku ketahui sebelumnya, kenyataan bahwa ia pindah sekolah lagi.

Sebetulnya, tokoh utama yang ingin aku ceritakan adalah seseorang yang telah aku sebut pada awal paragraph artikel ini. Bukan mengenai cinta pertamaku di Taman Kanak-Kanak ataupun hubungan spesial yang pernah aku jalin ketika di Sekolah Dasar—yang aku sebut sebagai pacar pertama—serta bukan mengenai kakak senior pindahan yang aku kagumi itu. Bukan.

Aku mulai menyukai dia—si tokoh utama—pada tahun kelima di Sekolah Dasar. Aku begitu dekat dengannya pada saat dua tahun terakhir masa-masa SD ku. Aku tak ingin menyebutkan hal apa yang membuat aku mulai menyukainya pada saat dua tahun terakhir masa SD itu, sedangkan kalau dipikir aku dan dia telah lama kenal, namun aku baru menyukainya pada tahun kelima di Sekolah Dasar. Selama di SD, aku pun terus berada pada kelas yang sama dengannya dan bisa dibilang cukup dekat untuk dapat disebut teman dekat. Aku mengalami masa-masa sulit pada dua tahun terakhir itu, aku semakin tersiksa dengan perasaanku yang ketika itu dihadapi berbagai masalah mengenai dia. Aku sungguh ingin menceritakan hal yang sebenarnya pada artikel ini, tapi aku tidak punya keberanian  yang lebih untuk menceritakannya disini. Aku takut, orang yang aku maksud itu akan membaca artikel ini. Dan bagaimana kalau dia tahu itu mengenai dia? Aku ingin ini sebagai tempat berbagi cerita untukku sendiri. Aku tak masalah dengan orang lain yang akan membacanya, selama itu bukan si tokoh utama atau bahkan orangtua ku. Aku tak ingin mereka tahu.

Dua tahun terakhir di SD, aku memendam perasaan itu seorang diri dan berusaha menghadapi masalah itu sendiri. Aku sendiri yang justru dengan bodohnya melibatkan diriku sendiri kedalam jurang masalah tersebut. Aku tidak tahan untuk tidak terlibat kedalamnya, karena seperti yang kalian ketahui bahwa aku mulai menyukai-nya saat itu. Baiklah, aku yakin kalian tidak akan mengerti apa yang aku bicarakan.

Berikutnya, aku lulus dari SD dan mulai melanjutkannya ke jenjang Sekolah Menengah Pertama atau SMP. Hal paling berkesan sebelum kelulusan adalah ketika acara perpisahan sekolah, aku dan dia berjabat tangan sebagai tanda perpisahan. Saat itu, ia menangis, ia menjabat tanganku kuat sekali.. sangat kuat hingga aku pun tak sanggup lagi untuk tidak menangis saat itu. Genggamannya begitu kuat hingga menimbulkan persepsi dalam diriku apakah mungkin ia tak ingin berpisah denganku? Ah itu hanya fikiran anak SD yang terlalu berharap. Haha. Setelah berjabat tangan, aku memberikan selembar tissu padanya. Itu merupakan hal berkesan yang paling aku ingat.

Namun, kenyataannya ketika di SMP, aku masih bertemu kembali dengannya, tapi dengan ruang kelas yang berbeda. Dan ketika itu, hubungan kami merenggang karena terpisah oleh kelas yang berbeda, hal itu berlangsung sekitar satu tahun lamanya. Lalu, pada tahun berikutnya, menginjak tahun kedua di SMP, aku dan dia kembali bertemu dalam kelas yang sama hingga tahun berikutnya—sekarang.

Selama di Sekolah Menengah, aku merasa jauh lebih dekat dengannya dibandingkan dengan saat di Sekolah Dasar. Dan lagi-lagi aku tak punya keberanian lebih untuk mengungapkannya lebih detail karena faktor yang telah aku sebutkan diatas. Yang aku tahu, dia pernah membuka blogku ini dan membaca beberapa ceritaku didalamnya, termasuk cerpen-cerpenku alias cerita pendek. Ia pernah menanyakan hal tersebut padaku, apakah aku membuat semua cerita-cerita itu seorang diri? Aku menjawab, ya, aku membuatnya sendiri. Sejak itu, aku takut ia membaca artikel-artikel ku yang kutujukan padanya. Karena hal itu pula, aku menghapus semua cerpenku disana. Aku merasa malu dan tidak percaya diri dengan cerita yang aku buat itu. Sebenarnya, aku tidak menghapus cerpen-cerpen itu, aku hanya menariknya dari peredaran dan ia tetap ada di draft milikku dan aku tetap menyimpannya untuk segera ku perbaiki dengan alasan cerita-cerita itu tidak layak posting dan mungkin memang seharusnya aku tidak memasukkan cerita itu kedalam blogku yang dapat dengan mudah diakses orang banyak dan diketahui bahkan dibaca oleh orang banyak; termasuk dirinya.

Jujur saja, ketika mengetahui ia rupanya telah membaca cerita-cerita tersebut. Itu merupakan hal yang paling membuatku takut, karena itu aku benar-benar vacum dengan jangka waktu lama dengan tidak memposting artikel apapun selama berbulan-bulan dengan alasan selain karna sibuk juga karna aku tak tahu harus menulis artikel apa, karna aku rasa sebagian besar artikel-artikel ku selalu kutujukan padanya—si tokoh utama.

Satu hal yang aku yakini sejak satu tahun yang lalu dari tahun saat aku menulis artikel ini, kenyataan bahwa ia pasti sudah mengetahui mengenai perasaanku padanya. Hal yang ku dengar pula, ia sepertinya tak mempunyai perasaan apapun padaku dan ia berusaha mempertahankan pertemanan-ku dengannya. Ia lebih senang dengan kedekatan kami dalam status pertemanan. Ya aku rasa itu berita baik untukku, itu menandakan ia tak ingin memutuskan pertemanan ini begitu saja dengan alasan salah seorang menyukai yang lain. Karena hal itu, aku berusaha keras untuk tetap mempertahankannya juga. Setelah ia tahu kenyataan bahwa aku menyukainya, hubungan kami sedikit merenggang dan tidak se-leluasa seperti biasa. Aku mencoba mengembalikan kecanggungan itu. Aku sengaja bertingkah seperti anak kecil yang berusaha menggodanya dalam artian memancing emosinya. Aku sengaja bertingkah menyebalkan dihadapannya untuk menarik perhatiannya agar tidak terlihat canggung. Aku senang membuatnya marah apalagi kesal. Begitulah, itu semua sengaja aku lakukan agar terhindar dari rasa canggung itu. Ah ya ampun, akhirnya aku benar-benar menceritakan hal se-detail ini disini, walaupun dengan rasa cemas kalau-kalau lelaki itu akan benar-benar membuka blog ku dan membaca artikel ini. Entah apa yang akan terjadi.

You May Also Like

0 komentar