Senin, 16 Desember 2013

FRI(END)SHIP


Hari ini, aku sudah membaca artikel terbarumu itu yang isinya mengenai aku, kau, dia dan kita. Tampaknya, sekarang kita sudah tak bisa saling berbagi kisah secara langsung, dari hati ke hati, saling menatap satu sama lain. Sepertinya sudah tak bisa! Kita bahkan sekarang hanya bisa bebagi kisah satu sama lain melalui blog kita masing-masing. Lalu, salah satu diantara kita bisa membacanya dan seperti berbalas-balasan surat seperti ini. Aku tak mengerti, mengapa pertemanan kita rasanya terhenti untuk saat ini. Disini, aku yang salah dan bukan kau. Seharusnya, kita tak perlu saling menyalahkan diri sendiri, karena aku tak suka jika kita saling menyalahkan diri sendiri seperti ini. Ah yasudahlah!

Jujur saja, aku sangat amat.............. menyesal atas apa yang telah aku perbuat tempo hari di rumahmu. AKU MENYESAL! Seandainya waktu dapat ku putar. Aku ingin sekali kembali ke hari itu saat di rumahmu, lalu menarik semua ucapan itu yang membuatmu terpukul, yang membuat persahabatan kita merenggang, yang membuat kita menjadi seperti saat ini. Aku bahkan sudah menganggapmu sebagai sahabatku. Seandainya aku tau jika semuanya akan berakhir seperti ini, mungkin aku takkan pernah melontarkan pernyataan itu dan aku akan lebih memilih untuk mengubur dalam-dalam semua perasaanku padanya (lelaki yang kau cinta) dan memilih untuk mendukung hubunganmu dengan dia. Argh! INI SALAHKU! TUHAN, SEANDAINYA WAKTU DAPAT KU PUTAR. Tapi, sayangnya aku tak bisa memutar waktu.

Kini, hubungan kita sudah tak seperti dulu lagi. Kau sudah mempunyai teman dekat yang baru, dan itu bukan aku. Kini, kemanapun kau pergi juga rasanya selalu ada dia bersamamu, dan itu bukan aku (lagi). Ia (teman barumu itu) telah menggantikan posisiku untuk saat ini. Selamat ya! (:
Aku bukan apa-apa lagi bagimu. Mungkin menurutmu, aku ini hanya seorang teman yang tidak tahu diri, yang dengan teganya mengkhianatimu, lalu menusukmu dari depan secara terang-terangan dan itu yang membuatmu sangat terpukul hingga kau tak bisa menerimanya, bukan? Aku mengerti. Aku sudah paham. Ini memang salahku. Aku harus menerimanya walaupun sebenarnya aku tak bisa terima (juga). 


Kau sendiri saja yang dengan mudah melupakanku, melupakan semua kenangan kita walaupun hanya sesaat. Tetapi, tidak dengan aku. Aku masih setia denganmu. Aku masih ingin menjadi teman dekatmu (lagi). Kau lihat saja sendiri! Saat ini bahkan ketika kau sudah bersama teman barumu itu, aku bahkan hanya sendiri. YA! SENDIRIAN.

Malam ini, ketika aku membuka laptop dan membaca artikelmu itu. Aku ingin menangis saat membacanya. INGIN SEKALI. Tapi, aku tak bisa. Bukannya aku tak bisa menangis karna airmata ku kering, tapi aku hanya tak ingin ketika orang tua ku melihat aku sedang menangis. Mereka pasti akan bertanya mengapa aku menangis. Aku hanya tak ingin menambah masalah orangtua ku jika aku sendiripun memperlihatkan masalahku ini yang tak sebesar masalah mereka. Saat membaca artikelmu itu, aku akan menahan airmata ku ini untuk malam ini saja dihadapan orangtua ku. Tapi, ketika aku sudah berada didalam kamar sendirian dan membaringkan tubuhku yang lelah dengan semua ini. Mungkin aku akan meneteskan berbutir-butir airmata yang tak tertahankan ini dalam gelapnya malam di kamarku yang sunyi. Lalu, mengendapkan suara tangisku pada bantal tidurku dan membiarkan bantal itu basah karna airmata ku. Atau bahkan aku akan menangis esok harinya pada siang hari setelah pulang sekolah saat dirumahku tak ada orang, hanya aku sendirian. Itulah yang biasanya selalu aku lakukan, tanpa sepengetahuan orangtua ku.

Rasanya setiap bertemu pagi, aku tak ingin bangun dari tempat tidurku. Aku tak ingin pergi kesekolah. Aku tak ingin bertemu denganmu, dia, dan yang lain. Karena disaat itulah, aku akan menyendiri tanpa teman. Aku benci ketika aku berada dalam kesendirian. Aku benci ketika aku harus berada dalam posisi itu. AKU BENCI! Karena, disaat itulah aku tak mempunyai teman. Sendirian. Berdiam diri. Tak ada yang bisa diajak berbicara. Merenung. Melamun. Membuatku ingin menangis. Menangis sekencang-kencangnya. 

Tapi, aku cukup tahu diri. Memang aku yang bersalah dan seharusnya aku harus bisa menerima segala resiko dari akibat yang telah aku perbuat, termasuk ucapanku sendiri. Tak apa jika kau ingin menjauh atau mendiamiku seperti ini. Aku harus bisa terima! 

Besok, aku akan pergi kerumahmu dan aku berharap kita bisa memperbaiki semuanya, agar kita bisa membaik seperti dulu. Aku harap! (:



Jumat, 13 Desember 2013

Aku Harus Jujur


Aku terdiam dalam keramaian. Aku tak sedang melihat keramaian disekitarku. Tapi, aku sedang berfikir dimana letak kesalahanku. Aku tak habis fikir jika semuanya akan jadi seperti ini.
Kita baru saja menjadi seorang sahabat, tapi mengapa saat ini hubungan kita merenggang? Tak bisa bercanda bersama lagi. Tak bisa membicarakan hal-hal yang tidak penting dari sekedar rapat DPR. Tak bisa berjalan bersama sambil bergandengan tangan seperti sahabat-sahabat lainnya?
Aku pikir, kita baru saja menjadi seorang sahabat yang selalu ada satu sama lain. Tapi ternyata, mungkin tidak.

Hari ini, sikapmu aneh padaku. Aku sudah tau. Aku juga sudah yakin. Pasti kau akan marah setelah kejadian kemarin, setelah aku berkata jujur, setelah aku mengatakan yang sebenarnya tentang apa yang aku rasakan saat ini bahwa aku (juga) mencintai lelaki yang kau cintai. Maaf! Perasaan ini muncul seketika saat kau mengatakan padaku bahwa lelaki yang kau cintai itu menyukaiku. Perasaan ini terus muncul dalam benakku. Ditambah lagi saat kau terus-terusan memojokkan aku dan terus mengatakan bahwa dia (lelaki yang kau cinta) menyukaiku. Sedangkan, kau sendiri pun menyukainya bukan? Aku tau kau sendiri pun terasa sesak saat mengatakan hal itu. Aku juga tau ini menyakitkan untukmu. Tapi, lebih baik aku jujur padamu dari awal daripada tidak sama sekali. Atau daripada kamu mengetahui yang sebenarnya di akhir dan kamu mengetahui itu bukan dari aku melainkan dari orang lain. Mungkin itu akan lebih menyakitkan lagi untukmu.

Aku kecewa padamu. Kau bilang, kau takkan marah padaku jika aku menyukai lelaki itu. Kau bilang, kau takkan marah bukan? Tapi, mengapa hari ini kau menjauhi aku? Mengapa? Kau marah padaku? Iya tentu saja kau marah. Aku mengerti. Aku sudah paham. Aku sudah menduga pasti kau akan marah padaku. Dan benar! Inilah resiko yang harus aku terima jika aku jujur. Tapi rasanya, semua terasa salah. Salah jika aku berkata yang sebenarnya padamu. Salah (juga) jika aku tidak mengatakan yang sebenarnya padamu. Semua serba salah.

Wajar saja jika hari ini kau menjauhiku. Kau pasti sangat marah. Sangat terpukul dan tak bisa menerimanya. Aku memakluminya. Maka dari itu, aku sengaja tak mendekatimu hari ini. Aku memilih untuk sendiri terlebih dahulu. Memilih untuk berdiam diri ditengah keramaian pagi itu. Aku lebih memilih untuk bergabung dengan teman lainnya. Aku hanya tak ingin jika aku akan semakin sedih jika aku terus ingin bersamamu padahal kau tak menginginkan aku berada disampingmu. Aku minta maaf atas sikapku hari ini terhadapmu. Aku juga minta maaf atas segala kejujuranku ini. Aku hanya ingin mencoba peka terhadap dia (lelaki yang kau cinta). Aku melakukannya karna aku pernah merasakan bagaimana sakitnya saat orang yang kau cintai itu tidak peka terhadapmu. Aku pernah merasakan itu dan aku hanya tak ingin ia (lelaki yang kau cinta) merasakan apa yang telah aku rasakan karna itu menyakitkan. AKU HANYA INGIN MENCOBA PEKA! Apa itu salah?

Hari ini, kau pasti sangat bosan karna melihat aku ada dilapangan pertandingan volly itu dan dia (lelaki yang kau cinta) juga ada dilapangan pertandingan volly itu disudut lain. Dan kau pasti juga tau, jika saat itu kami saling menatap diam-diam, lalu memalingkan muka ketika salah satu diantara kami melihatnya. Entahlah ini hanya perasaanku saja atau memang benar? Maaf! Aku tak bermaksud membuatmu semakin marah. Tak bermaksud memanas-manasimu. Aku hanya ingin berkata jujur, berkata apa adanya, bahwa kau harus tau yang sebenarnya. Inilah yang terjadi diantara kami.

Aku sudah membaca ocehanmu di twitter hari ini. Pasti ocehan itu tertuju padaku. Iya aku sudah tau jika kau akan berperilaku seperti ini padaku. Maaf! Hanya karna lelaki itu kita jadi seperti ini. Aku minta maaf! Tapi, bukannya kau tau bahwa dia (lelaki yang kau cinta) belum pasti menyukaiku. Itu semua hanya sekedar khayalan pahitmu saja, kan? Sebuah khayalan yang mungkin kau tak pernah berharap itu akan menjadi nyata. Maaf, aku menyukai lelaki yang kau cintai. Tapi, percayalah bahwa mungkin sebenarnya dilubuk hati dia yang paling dalam. Hanya ada namamu disana. Hanya kamu perempuan yang dia cintai. Bukan aku. Percayalah, kawan! (:

MAAFKAN AKU, TEMAN! (:

Aku ingin setelah ini, kita akan kembali menjadi seorang sahabat layaknya dahulu sebelum kita mengenal cinta pada lelaki yang tak tau apa-apa itu. Aku menyayangimu, kawan!♥(: 





Artikel ini terinspirasi dari lagu Kerispatih - Aku Harus Jujur (:
Ini dia lirik lagunya..

Kerispatih - Aku Harus Jujur

maafkan kali ini
aku harus jujur
kau harus tau 
siapa aku sebenarnya

terfikir dalam ingatku 

tentang cinta terlarang
selama ini ku pendam


jangan salahkan keadaan ini sayang
semua adalah keterbatasan ku saja
tak mampu menjadi yang kau mau
aku mencoba dan aku tak mampu


Reff:
tak bisa lagi mencintaimu

dengan sisi lainku
aku tak sanggup jadi biasa
aku tak sanggup


tak ada satupun yang mungkin bisa
terima kau seperti aku
mohon jangan salahkan aku lagi
ini aku yang sebenarnya
aku mencoba dan ku tak mampu


tak mampu menjadi yang kau mau
aku tak sanggup

*repeat reff

maafkan kali ini
aku harus jujur